Program MBG Boros Rp1 T per Bulan, Pengamat: Mereka Memperhitungkan Ini untuk Investasi Pemilu 2029

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 12 Juni 2026 | 13:21 WIB
Program MBG Boros Rp1 T per Bulan, Pengamat: Mereka Memperhitungkan Ini untuk Investasi Pemilu 2029
Ilustrasi petugas menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Program Makan Bergizi Gratis menghadapi dugaan pemborosan anggaran Rp1 triliun serta berbagai masalah tata kelola yang sentralistis.
  • Pola kebijakan yang seragam dan tertutup dinilai melemahkan pengawasan sehingga memicu penyimpangan serta penurunan kualitas layanan lapangan.
  • Pemerintah didorong melakukan evaluasi total secara independen terhadap desain kelembagaan guna memperbaiki akuntabilitas program strategis nasional tersebut.

Suara.com - Temuan dugaan pemborosan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih dari Rp1 triliun per bulan, menambah panjang sorotan terhadap tata kelola program unggulan pemerintah.

Apalagi salah satu program strategis nasional itu telah diterpa kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), kasus keracunan makanan, hingga persoalan distribusi mandate di lapangan.

Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Gabriel Lele, menilai runtunan persoalan ini merupakan puncak dari akumulasi masalah tata kelola yang sentralistis dan tertutup sejak awal program bergulir.

"Kalau sebuah program dianggap prioritas oleh presiden, karakter dasarnya adalah tertutup dan sentralistis. Hanya sedikit orang yang terlibat dan bertanggung jawab langsung kepada presiden," kata Gabriel, dikutip Jumat (12/6/2026).

Pola pengambilan keputusan yang terkonsentrasi di pusat membuat ruang kontrol publik maupun pengawasan internal menjadi lemah. Kondisi tersebut membuat berbagai persoalan sulit terdeteksi sejak awal.

Menurut Gabriel, model kebijakan MBG yang diterapkan seragam di seluruh Indonesia berisiko pula mengabaikan kondisi tiap daerah. Padahal, kesiapan infrastruktur, kapasitas pemerintah daerah, hingga kebutuhan masyarakat di tiap wilayah berbeda-beda.

"Kalau pola kebijakan seperti MBG yang dirumuskan di nasional dan diterapkan di seluruh Indonesia, risikonya adalah kurangnya sensitivitas terhadap konteks lokal," ujarnya.

Ia menuturkan bahwa pengelolaan anggaran besar dalam program berskala nasional semestinya diimbangi sistem kontrol dan akuntabilitas yang kuat. Namun, pengawasan yang selama ini dilakukan dinilai lebih bersifat reaktif setelah masalah muncul ke permukaan.

Kondisi tersebut dinilai membuka ruang bagi berbagai persoalan mulai dari dugaan penyimpangan pengadaan, pemborosan anggaran, hingga menurunnya kualitas layanan di lapangan.

baca juga

"Apalagi menggunakan anggaran yang besar dengan cakupan nasional. Godaan-godaan untuk mengambil sesuatu itu mesti ada. Itu bisa diminimalisir kalau bukan dihilangkan dengan menginstalasi sistem kontrol dan sistem akuntabilitas yang memadai," paparnya.

Respons pemerintah terhadap kritik publik sejauh ini pun terkesan tak memadai. Sejumlah kritik terkait keracunan makanan, kualitas layanan, hingga dugaan pemborosan anggaran justru kerap dianggap sebagai ancaman terhadap program prioritas pemerintah.

"Sebagian yang mengkritik ini adalah orang-orang yang sebenarnya setuju dengan tujuan MBG dan ingin MBG itu diterapkan secara baik. Tetapi karena jawabannya begitu, kemarahan publik makin meningkat," ujarnya.

Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (Suara.com/Riki Chandra)
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (Suara.com/Riki Chandra)

Ia menduga faktor politik turut memengaruhi lambatnya evaluasi terhadap MBG. Sebagai program unggulan Presiden, MBG dinilai memiliki nilai politik besar.

Sehingga pemerintah cenderung berhati-hati melakukan koreksi besar meski persoalan terus bermunculan.

"Mereka memperhitungkan program ini untuk investasi Pemilu 2029," tuturnya.

Sebagai langkah awal, Gabriel mendorong pemerintah melakukan evaluasi total terhadap desain kelembagaan MBG. Mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga mekanisme pertanggungjawaban.

Ia bahkan mengusulkan penghentian sementara program selama satu hingga dua bulan agar evaluasi bisa dilakukan secara independen dan komprehensif.

"Bukan hanya dievaluasi oleh birokrat dan tim sukses, tetapi perlu dievaluasi oleh orang-orang yang punya kapasitas, seperti ahli gizi, ahli tata kelola, dan ahli keuangan," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Namanya Terseret Pusaran Kasus Korupsi MBG, Kapolres Metro Bekasi Akhirnya Buka Suara

Namanya Terseret Pusaran Kasus Korupsi MBG, Kapolres Metro Bekasi Akhirnya Buka Suara

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 07:48 WIB

Kejagung Buka Peluang Tambah Tersangka Korupsi MBG, Nama-Nama Baru Masih Didalami

Kejagung Buka Peluang Tambah Tersangka Korupsi MBG, Nama-Nama Baru Masih Didalami

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 22:48 WIB

Menanti Nyanyian Sony Sonjaya, Siapa Saja Petinggi di Balik Skandal Korupsi MBG?

Menanti Nyanyian Sony Sonjaya, Siapa Saja Petinggi di Balik Skandal Korupsi MBG?

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 21:41 WIB

Terkini

Bawa Kabur Gadis Bawah Umur Tengah Malam Lalu Sebar Videonya, Pemuda di Mesuji Diciduk Polisi

Bawa Kabur Gadis Bawah Umur Tengah Malam Lalu Sebar Videonya, Pemuda di Mesuji Diciduk Polisi

Lampung | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:32 WIB

Sekolah Kekurangan Guru, Honorer Dibiarkan: Siapa yang Bertanggungjawab?

Sekolah Kekurangan Guru, Honorer Dibiarkan: Siapa yang Bertanggungjawab?

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Kisah Konsumen Inden Mobil 3 Miliar Malah Diserobot Anak Pejabat: BMW Tercoreng, Beralih ke Porsche

Kisah Konsumen Inden Mobil 3 Miliar Malah Diserobot Anak Pejabat: BMW Tercoreng, Beralih ke Porsche

Otomotif | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:29 WIB

Di Hari Sumpah Pemuda, Taj Yasin Minta Aksi Nyata Pemuda Atasi Persoalan Masyarakat

Di Hari Sumpah Pemuda, Taj Yasin Minta Aksi Nyata Pemuda Atasi Persoalan Masyarakat

Jawa Tengah | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:28 WIB

Tips Nutrisi Terbaik bagi Profesional dengan Aktivitas Padat, Jaga Energi dan Fokus Sepanjang Hari

Tips Nutrisi Terbaik bagi Profesional dengan Aktivitas Padat, Jaga Energi dan Fokus Sepanjang Hari

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:27 WIB

Bantu Warga Dapatkan Kerja, Pemprov DKI Tebus Ribuan Ijazah Tertahan Senilai Rp4,67 Miliar

Bantu Warga Dapatkan Kerja, Pemprov DKI Tebus Ribuan Ijazah Tertahan Senilai Rp4,67 Miliar

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:24 WIB

Harta Para Taipan RI Lenyap Rp1.035 T Gegara Bursa RI Terancam Setara Zimbabwe

Harta Para Taipan RI Lenyap Rp1.035 T Gegara Bursa RI Terancam Setara Zimbabwe

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:19 WIB

Jelang Hadapi Persib, Pelatih Melbourne Victory Soroti Kebakaran Hutan dan Kualitas Udara Indonesia

Jelang Hadapi Persib, Pelatih Melbourne Victory Soroti Kebakaran Hutan dan Kualitas Udara Indonesia

Bola | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:19 WIB

HP Android Jadul Punya Kesempatan Hidup Kedua Berkat iOS 26

HP Android Jadul Punya Kesempatan Hidup Kedua Berkat iOS 26

Tekno | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:16 WIB

Bahasa Indonesia Kreatif Gen Z: Merebut Kembali Kendali Ekspresi di Medsos

Bahasa Indonesia Kreatif Gen Z: Merebut Kembali Kendali Ekspresi di Medsos

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:15 WIB

×