- Ratusan mahasiswa BEM USU menggelar aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Sumatera Utara pada Senin, 15 Juni 2026.
- Ketua DPRD Sumut menerima sembilan tuntutan mahasiswa terkait kebijakan harga BBM yang memberatkan ekonomi masyarakat dan pekerja informal.
- Mahasiswa mendesak penghapusan program Makan Bergizi Gratis dan mengusulkan kebijakan penanganan stunting yang lebih tepat sasaran bagi anak-anak.
Suara.com - Gelombang aspirasi mahasiswa kembali bergemuruh di jantung Kota Medan. Ratusan mahasiswa yang dipimpin oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (BEM USU) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Gedung DPRD Sumatera Utara, Senin (15/6/2026).
Aksi yang berlangsung hingga sore hari tersebut membuahkan hasil dengan diterimanya massa oleh pimpinan legislatif.
Berikut adalah 7 fakta dan poin penting terkait tuntutan mahasiswa tersebut:
1. Diterima Langsung oleh Ketua DPRD Sumut
Berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya yang sering berakhir buntu, kali ini aspirasi mahasiswa mendapatkan respons cepat. Ketua DPRD Sumut, Erni Ariyanti Sitorus, turun langsung menemui massa untuk menerima draf tuntutan.
Kehadiran pimpinan tertinggi dewan ini memberikan legitimasi (Authoritativeness) bahwa tuntutan mahasiswa dianggap sebagai isu prioritas bagi daerah.
2. Membawa Sembilan Tuntutan Rakyat
Ketua BEM USU, Angga Almaris Harahap, menegaskan bahwa mahasiswa hadir bukan untuk kepentingan kelompok, melainkan membawa "sembilan gugatan rakyat". Tuntutan ini mencakup berbagai sektor mulai dari ekonomi, kebijakan publik, hingga kesejahteraan sosial yang dinilai sedang tidak baik-baik saja.
3. Protes Keras Kenaikan Harga BBM
Salah satu poin paling krusial adalah tuntutan evaluasi kebijakan harga BBM. Mahasiswa menilai kenaikan harga bahan bakar telah mencekik daya beli masyarakat. Kebijakan ini dianggap belum menyentuh akar persoalan ekonomi dan justru memperlebar jurang kesenjangan sosial.
4. Soroti Nasib Driver Ojol dan Pekerja Informal
BEM USU memberikan penekanan khusus pada dampak kenaikan BBM terhadap sektor informal. Pengemudi ojek online (ojol) disebut sebagai kelompok yang paling terpukul karena kenaikan biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan harian mereka.
"Penghasilan mereka semakin tertekan, dan ini adalah masalah nyata di depan mata," ujar Angga.
5. Desak Penghapusan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Isu yang cukup mengejutkan adalah sikap tegas mahasiswa terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). BEM USU menilai program unggulan pemerintah pusat tersebut tidak berjalan sesuai harapan dan rawan penyimpangan. Angga secara blak-blakan meminta program ini dihapus.