Mengapa Lahan Basah Kecil Perlu Diperhitungkan dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 10 Juni 2026 | 13:45 WIB
Mengapa Lahan Basah Kecil Perlu Diperhitungkan dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim?
Potret Lahan Basah (Pexels/Laura Paredis)

Suara.com - Ketika membahas sumber emisi metana, perhatian publik umumnya tertuju pada sektor pertanian, peternakan, energi, atau limbah.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada sumber emisi lain yang selama ini kurang mendapat perhatian, yakni lahan basah berukuran kecil yang tersebar di berbagai wilayah dunia.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam studi berjudul The Underappreciated Importance of Small Wetlands in Global Methane Emissions. Penelitian ini mengungkap bahwa jutaan lahan basah kecil yang sebelumnya tidak terpetakan ternyata memiliki kontribusi yang signifikan terhadap emisi metana global.

Melalui pemanfaatan citra satelit beresolusi tinggi, para peneliti berhasil mengidentifikasi sekitar 160 juta lahan basah kecil yang sebelumnya tidak tercatat dalam berbagai inventarisasi global. Meski berukuran relatif kecil dan tersebar, kawasan-kawasan ini menyumbang sekitar 24 persen emisi metana dari lahan basah non-hutan di dunia.

Penelitian tersebut juga mencatat bahwa kontribusi emisi dari lahan basah kecil meningkat sekitar 9,9 persen selama periode 2003 hingga 2022.

Penulis utama penelitian, Fa Li, mengatakan bahwa peran lahan basah kecil selama ini kerap terabaikan karena sulit dipetakan.

“Lahan basah kecil mudah terlewatkan di peta, tetapi jumlahnya tidak sedikit dalam anggaran metana,” ujar Fa Li.
Peran Mikroorganisme di Balik Emisi Metana

Lahan basah menghasilkan metana melalui proses alami yang terjadi di dalam tanah yang tergenang air. Ketika tanah berada dalam kondisi jenuh air, pasokan oksigen menjadi sangat terbatas.

Dalam lingkungan minim oksigen tersebut, mikroorganisme tertentu menguraikan bahan organik dan menghasilkan metana sebagai produk sampingan. Semakin luas area yang mengalami kondisi tersebut, semakin besar pula potensi emisi yang dihasilkan.

baca juga

Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak besar terhadap perubahan iklim. Menurut berbagai penelitian iklim, metana mampu memerangkap panas sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2) dalam periode 20 tahun pertama setelah dilepaskan ke atmosfer.

Karena itu, meskipun konsentrasinya di atmosfer lebih rendah dibandingkan CO2, metana tetap menjadi salah satu faktor penting yang mempercepat pemanasan global.

Relevan bagi Indonesia yang Kaya Lahan Basah

Temuan ini menjadi penting bagi Indonesia yang memiliki kawasan lahan basah sangat luas, mulai dari gambut, rawa, hingga mangrove.

Berdasarkan data Global Wetlands yang dikutip Satya Bumi pada Juni 2026, Indonesia memiliki sekitar 37,68 juta hektare lahan basah atau menjadi negara dengan kawasan lahan basah terluas kedua di dunia setelah Brasil. Dari jumlah tersebut, sekitar 59,26 persen merupakan lahan gambut.

Ekosistem lahan basah selama ini dikenal memiliki peran penting dalam menyimpan karbon. Data yang dikutip Jejakin menunjukkan bahwa lahan gambut menyimpan lebih dari 30 persen karbon tanah dunia, sehingga berfungsi sebagai salah satu benteng alami dalam mitigasi perubahan iklim.

Namun, penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa lahan basah tidak hanya berperan sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Dalam kondisi tertentu, ekosistem tersebut juga dapat menjadi sumber emisi metana yang perlu diperhitungkan dalam kebijakan iklim.

Area Kecil Tidak Boleh Diabaikan

Para peneliti menilai temuan ini menunjukkan pentingnya memperluas pemantauan emisi hingga ke area-area lahan basah berukuran kecil yang selama ini sering luput dari inventarisasi.

Selama ini, pemantauan dan kebijakan konservasi lebih banyak berfokus pada kawasan lahan basah berskala besar. Padahal, jika dikumpulkan secara keseluruhan, jutaan lahan basah kecil dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap emisi metana global.

Dengan data yang lebih lengkap, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menghitung emisi gas rumah kaca secara lebih akurat sekaligus merancang strategi pengelolaan lahan basah yang lebih efektif. Temuan ini juga menjadi pengingat bahwa dalam upaya menghadapi perubahan iklim, kawasan yang tampak kecil sekalipun dapat memiliki dampak yang besar terhadap sistem iklim global.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai

Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:10 WIB

Sebelum Sustainability Populer, Masyarakat Indonesia Sudah Hidup Minim Sampah

Sebelum Sustainability Populer, Masyarakat Indonesia Sudah Hidup Minim Sampah

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 10:25 WIB

Perempuan dan Fast Fashion: Dilema Tampil Stylish dan Kepedulian Lingkungan

Perempuan dan Fast Fashion: Dilema Tampil Stylish dan Kepedulian Lingkungan

Your Say | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:00 WIB

Terkini

50 Nama Username TikTok Aesthetic yang Keren dan Berkelas

50 Nama Username TikTok Aesthetic yang Keren dan Berkelas

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 12:35 WIB

5 Produk Skincare Terbaik untuk Flek Hitam agar Wajah Lebih Cerah

5 Produk Skincare Terbaik untuk Flek Hitam agar Wajah Lebih Cerah

Lifestyle | Sabtu, 12 September 2026 | 12:35 WIB

Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?

Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:30 WIB

Spesifikasi dan Harga GWM Wey G9 Hi4 untuk Pasar Indonesia

Spesifikasi dan Harga GWM Wey G9 Hi4 untuk Pasar Indonesia

Otomotif | Sabtu, 12 September 2026 | 12:30 WIB

Bule Geber Motor Depan Dirjen Imigrasi, Ketahuan Overstay Akhirnya Dideportasi dari Bali

Bule Geber Motor Depan Dirjen Imigrasi, Ketahuan Overstay Akhirnya Dideportasi dari Bali

Bali | Sabtu, 12 September 2026 | 12:24 WIB

Anti-Kilap Seharian! 4 Sunscreen SPF 50 Matte Finish untuk Kulit Berminyak

Anti-Kilap Seharian! 4 Sunscreen SPF 50 Matte Finish untuk Kulit Berminyak

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:20 WIB

Harga Pangan Nasional: Cabai Rawit Rp90 Ribu, Daging Sapi Tembus Rp152 Ribu per Kg

Harga Pangan Nasional: Cabai Rawit Rp90 Ribu, Daging Sapi Tembus Rp152 Ribu per Kg

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 12:15 WIB

Antrean Panjang BBM di Bone Picu Keributan: Adu Jotos, Ada yang Bawa Badik

Antrean Panjang BBM di Bone Picu Keributan: Adu Jotos, Ada yang Bawa Badik

Sulsel | Sabtu, 12 September 2026 | 12:04 WIB

Gaya Hidup Sehat Dion Wiyoko Jadi Inspirasi Keluarga, Kini Rutin Cek Tensi dan Jantung

Gaya Hidup Sehat Dion Wiyoko Jadi Inspirasi Keluarga, Kini Rutin Cek Tensi dan Jantung

Health | Sabtu, 12 September 2026 | 12:02 WIB

Ulasan Detective Conan: Fallen Angel of the Highway, Aksi Motor Misterius

Ulasan Detective Conan: Fallen Angel of the Highway, Aksi Motor Misterius

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:00 WIB

×