Suara.com - Perubahan iklim sering dibicarakan melalui kenaikan suhu global, banjir, atau cuaca ekstrem. Namun, dampaknya juga mulai muncul di ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: sekolah.
Di berbagai negara, suhu yang terus meningkat mulai mengubah pengalaman belajar anak-anak. Ruang kelas yang semakin panas kini tidak hanya memengaruhi kenyamanan, tetapi juga kesehatan, kemampuan berkonsentrasi, hingga prestasi akademik siswa.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa isu ini bukan persoalan yang berdiri sendiri. Lingkungan belajar ternyata ikut menentukan bagaimana anak menerima dan memproses pelajaran.
Saat suhu ruang kelas ikut menentukan hasil belajar
Penelitian Classroom Temperature and Learner Absenteeism in Public Primary Schools in the Eastern Cape, South Africa menemukan bahwa suhu tinggi di ruang kelas dapat mengganggu kemampuan anak untuk berkonsentrasi, mengingat informasi, serta mengendalikan perilaku.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa proses belajar bukan hanya dipengaruhi kualitas pengajaran atau kurikulum, tetapi juga kondisi fisik ruang belajar.
Ketika suhu meningkat, tubuh anak perlu bekerja lebih keras untuk menjaga kondisi tetap nyaman. Akibatnya, sebagian energi dan perhatian yang seharusnya digunakan untuk memahami materi pelajaran justru terserap untuk beradaptasi terhadap panas.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas pembelajaran dan berpengaruh pada pencapaian akademik.
Dampaknya tidak hanya pada belajar, tetapi juga kesehatan anak
Paparan panas ekstrem juga membawa konsekuensi yang lebih luas. Anak-anak yang belajar di ruang dengan ventilasi buruk, jumlah siswa yang padat, serta akses air minum yang terbatas memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan fisik maupun mental.
Bagi sebagian kelompok, terutama anak dari komunitas berpenghasilan rendah, sekolah bahkan dapat menjadi salah satu tempat dengan paparan panas tertinggi yang mereka alami sepanjang hari.
Penelitian Mitigating the Effects of Climate Change in Children’s Outdoor Play Environments menunjukkan bahwa banyak bangunan sekolah dan area bermain belum dirancang untuk menghadapi suhu tinggi yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Artinya, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal cuaca yang berubah, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendidikan dalam melindungi anak.
Ketimpangan kondisi sekolah memperbesar dampak panas
Pengaruh suhu terhadap proses belajar juga tidak dirasakan secara merata.
Studi Classroom Temperatures in Urban and Rural Classrooms: Disparities That Hinder a Just Energy Transition and Opportunities for Interventions menemukan adanya perbedaan kondisi ruang kelas antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Sekolah di kawasan perkotaan cenderung memiliki suhu ruang yang lebih nyaman karena didukung fasilitas pendingin dan infrastruktur yang lebih baik. Sementara sekolah dengan fasilitas terbatas memiliki risiko lebih besar menghadapi suhu ekstrem.
Sebagai negara tropis, Indonesia mengalami peningkatan suhu dan semakin sering menghadapi fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan. Sejumlah wilayah seperti Jabodetabek, Medan, Surabaya, dan Bandung telah diidentifikasi mengalami peningkatan panas perkotaan.
Dengan jutaan siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, perubahan suhu berpotensi memengaruhi kualitas pembelajaran dalam skala besar.
Guru juga terdampak, adaptasi sekolah menjadi kebutuhan
Dampak cuaca panas tidak berhenti pada siswa. Penelitian Weather Effects on Academic Performance: An Analysis Using Administrative Data menunjukkan bahwa kondisi cuaca dapat memengaruhi tenaga pengajar melalui peningkatan kelelahan, sakit kepala, hingga menurunnya kemampuan mengajar.
Karena itu, para peneliti menilai adaptasi iklim di sektor pendidikan perlu mulai dipandang sebagai investasi jangka panjang.
Beberapa langkah yang dinilai dapat membantu antara lain memperbaiki ventilasi ruang kelas, menambah ruang hijau di lingkungan sekolah, menyediakan akses air minum yang memadai, hingga menerapkan desain bangunan yang lebih tahan terhadap panas.
Penulis: Natasha Suhendra