- Dekanat FISIP Unas menegaskan bahwa organisasi BEM tingkat fakultas tidak ada di lingkungan kampus mereka.
- Pihak kampus membantah klaim keterwakilan Ardi Zulkifly sebagai Ketua BEM FISIP dalam Aliansi Mahasiswa BEM Bersatu.
- Segala pernyataan oknum tersebut tidak mewakili institusi dan menjadi tanggung jawab pribadi pihak yang bersangkutan.
Dalam konferensi pers tersebut, BEM Bersatu merumuskan tiga tuntutan utama yang mereka suarakan kepada pemerintah dan publik.
Pertama, mereka mendesak adanya sterilisasi gerakan mahasiswa dari berbagai bentuk intervensi politik praktis, baik berupa pendanaan maupun fasilitas.
Kedua, mereka menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis, namun dengan catatan adanya perbaikan tata kelola agar lebih akuntabel.
Ketiga, mereka mendukung pengusutan tuntas kasus korupsi tanpa pandang bulu di Indonesia.
Kehadiran aliansi ini menjadi sorotan karena daftar peserta yang diklaim hadir mencakup berbagai perwakilan dari fakultas di universitas-universitas di Jakarta dan sekitarnya.
Berikut adalah daftar nama yang diklaim sebagai anggota BEM Bersatu yang hadir dalam konferensi pers tersebut:
- Wildan Ricky (Ketua BEM Fakultas Hukum UNISIA)
- Muhammad Yani (BEM Fakultas Hukum UIJ)
- Ardi Zulkifly (Ketua BEM FISIP UNAS)
- Ardiansyah (Ketua BEM institut Al- Aqidah)
- Ahmad Ghazy (BEM Psikologi UNJ)
- Alfi (Ketua BEM FEB UNPAM)
- Rahmat Djimbula (Ketua BEM Hukum UIC)
- Dicky (BEM F.IPS Unindra)
- Ahmad (BEM Fakultas Tekhnik Universitas BSI)
- Rezky Anandar (BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Managemen Administrasi Institut STIAMI)
Klarifikasi dari FISIP Unas ini menambah panjang daftar kampus yang merasa namanya dicatut dalam gerakan-gerakan aliansi mahasiswa yang tiba-tiba muncul.
Publik, khususnya kalangan mahasiswa kini didorong untuk lebih selektif dalam memverifikasi keabsahan sebuah gerakan yang mengatasnamakan lembaga pendidikan tinggi.