-
Iran mengancam akan membatalkan komitmen jika Amerika Serikat melanggar poin perjanjian damai.
-
Presiden Trump dan Presiden Pezeshkian sepakat mengakhiri perang demi memulihkan jalur Selat Hormuz.
-
Kesepakatan 14 poin ini mencakup pencabutan sanksi ekonomi dan pemulihan akses perbankan Iran.
Suara.com - Iran menegaskan tidak akan menjalankan kesepakatan damai jika Presiden Donald Trump mengkhianati komitmen yang telah disepakati bersama. Langkah tegas ini diambil demi memastikan Amerika Serikat benar-benar mencabut sanksi ekonomi mereka.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator kunci, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan peringatan keras tersebut kepada publik. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Teheran tidak akan tinggal diam jika dibohongi.
"Jika Amerika Serikat tidak menghormati komitmennya, tidak ada cara bagi Iran untuk menghormati komitmentnya sendiri," ujar Ghalibaf tegas melalui saluran media Korps Garda Revolusi Islam Iran.
![Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memimpin perundingan dengan Amerika Serikat di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026). Iran akan membuka Selat Hormuz jika asetnya di Qatar dikembalikan. [X/IRIB News]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/11/45300-mohammad-bagher-ghalibaf.jpg)
Peringatan ini muncul tepat setelah Presiden Donald Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman baru. Hubungan kedua negara yang sempat membeku kini memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian.
Kesepakatan bilateral tersebut ditujukan untuk menghentikan konflik bersenjata yang melelahkan kedua belah pihak. Selain itu, jalur perdagangan vital di Selat Hormuz akan segera dibuka kembali.
Rencana perdamaian yang disepakati ini mencakup 14 poin krusial bagi masa depan ekonomi Timur Tengah. Salah satu poin utamanya adalah penghapusan sanksi sepihak yang selama ini mencekik Teheran.
![Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mendapat sambutan megah saat tiba di Beijing, Rabu malam waktu setempat, untuk menghadiri pertemuan penting dengan Presiden China, Xi Jinping. [Tangkap layar x]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/32985-donald-trump.jpg)
Pemulihan hak ini memungkinkan Iran mendongkrak kembali pendapatan negara dari sektor penjualan minyak mentah. Teheran juga bakal mendapatkan lagi akses penuh ke jaringan perbankan internasional.
Proses diplomasi tingkat tinggi ini diakui berjalan sangat alot oleh para pemimpin dunia. Kendati demikian, momentum ini dinilai menjadi titik balik penting bagi stabilitas geopolitik.
"Ini tidak mudah," aku Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menandatangani dokumen memorandum tersebut.
Pertemuan bersejarah ini berlangsung di Istana Versailles, Prancis, di bawah pengawasan ketat para diplomat. Kehadiran para pemimpin dunia menandai pentingnya stabilitas di kawasan penghasil energi tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron bertindak langsung sebagai tuan rumah yang memfasilitasi makan malam diplomatik tersebut. Ia juga membagikan momen krusial ini melalui sebuah unggahan video di media sosial.
Melalui akun resminya di platform X, Macron menyampaikan optimisme tinggi terkait masa depan perdamaian ini. Ia yakin kesepakatan ini membawa dampak positif bagi konsumen global.
Macron menyatakan bahwa rencana 14 poin tersebut "membuka jalan bagi perdamaian abadi" dan akan menyebabkan penurunan harga energi. Pernyataan ini membawa angin segar bagi pasar yang sedang bergejolak.
Sebagai latar belakang, konflik berkepanjangan antara AS dan Iran sebelumnya telah melumpuhkan jalur pelayaran Selat Hormuz. Pemblokiran ini sempat memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional.
Sanksi ekonomi yang dijatuhkan Washington sebelumnya bertujuan mengisolasi Teheran dari sistem keuangan global. Melalui memorandum Versailles ini, kedua negara kini mencoba merajut kembali stabilitas yang sempat hilang.