Metromini dan Kopaja Sudah Pergi, tapi Jakarta Belum Selesai Merindukannya

Bella, Adiyoga Priyambodo

Jum'at, 19 Juni 2026 | 22:15 WIB
Metromini dan Kopaja Sudah Pergi, tapi Jakarta Belum Selesai Merindukannya
Bus Kopaja dan Metromini melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (23/3).
baca 10 detik
  • Metromini dan Kopaja menjadi moda transportasi ikonik bagi jutaan pelajar dan warga Jakarta sejak tahun 1980-an hingga 2019.
  • Penumpang menghadapi tantangan fisik, negosiasi ongkos, serta interaksi sosial unik yang membentuk kenangan mendalam selama perjalanan sehari-hari.
  • Penghapusan bus tersebut digantikan Transjakarta demi keamanan, namun menghilangkan interaksi sosial serta keintiman khas di dalam kendaraan umum.

Suara.com - Pertama kali Shafa naik Metromini sendirian, ia masih kelas lima SD, puluhan tahun lalu. Ibunya sudah berkali-kali mengajarkan rutenya: naik dari depan gang, turun di perempatan, jangan lupa bilang kiri ke kondektur.

Namun, begitu pintu bus itu berderit terbuka dan kerumunan orang menyerbu masuk, Shafa panik. Ia ikut terdorong ke dalam, berdiri terjepit di antara tas belanja dan punggung orang-orang dewasa, tidak tahu harus berpegangan pada apa.

"Terus ada ibu-ibu yang tiba-tiba bilang, 'Pegang sini, Neng, biar nggak jatuh.' Sambil ngulurin tangannya," kenangnya sembari tertawa. "Saya nggak kenal siapa dia. Tapi ya sudah, saya pegang tangannya sampai turun," lanjut dia.

Itulah Metromini. Tempat di mana orang asing bisa tiba-tiba menjadi pegangan, dalam arti harfiah maupun kiasan.

Sekolah di Atas Roda

Bagi generasi yang tumbuh di Jakarta antara 1980-an hingga awal 2000-an, Metromini dan Kopaja bukan sekadar angkutan. Keduanya adalah bagian dari upacara harian, ritual pagi dan sore yang membentuk ritme hidup di kota ini.

Seragam sekolah, tas ransel berat, dan tiket bus seharga lima ratus perak. Begitulah pagi hari jutaan pelajar Jakarta selama puluhan tahun.

Fauzi menghabiskan enam tahun masa SMA dan kuliahnya di atas Kopaja trayek S13 rute Ragunan–Grogol. Ia hafal setiap tikungan, setiap lubang, dan setiap tukang gorengan yang mangkal di halte-halte.

"Sudah hapal kapan ngeremnya mendadak, kapan belok keras. Jadi tangan udah siap nahan duluan," kisahnya penuh semangat.

Yang ia ingat bukan hanya rutenya, tetapi juga teman-teman seperjalanannya. Anak-anak sekolah lain yang wajahnya familiar, meski namanya tak pernah ditanya. Mereka berbagi bus setiap pagi selama bertahun-tahun, mengangguk satu sama lain seperti kenalan lama, tetapi tak pernah benar-benar berkenalan.

baca juga

"Kalau suatu hari ada yang nggak muncul, kita sadar. Tapi nggak pernah nanya ke mana," tutur Fauzi.

Ekonomi Koin dan Negosiasi Ongkos

Bus Kopaja dan Metromini melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (23/3).
Bus Kopaja dan Metromini melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (23/3).

Salah satu seni tersendiri dalam naik Metromini adalah urusan ongkos.

Tidak ada mesin tiket. Tidak ada tarif yang tertera di dinding. Kondektur, biasanya remaja atau pemuda yang berdiri di dekat pintu dengan kantong plastik berisi recehan, yang menentukan segalanya. Dan kadang, tarif itu bisa dinegosiasikan.

"Di Metromini P17, Manggarai–Senen. Waktu itu lagi pulang bareng temen-temen. Pas keneknya ngider, saya bilang, 'Sama yang depan bang'. Ternyata, temen saya juga jawab gitu. Lolos sih, jadinya nggak bayar," aku Shafa, dengan ekspresi setengah malu setengah bangga. "Tapi ngerasa bersalahnya sampai sekarang," lanjut dia, mengenang kenakalan masa remaja.

Ada juga sisi lain dari kondektur yang sering terlupakan dalam narasi nostalgia ini: kebaikan yang tak terduga.

Dian ingat suatu sore pada 2008, ketika ia ketinggalan dompet dan tidak punya uang sama sekali untuk pulang. Ia berdiri di halte Blok M dengan wajah panik, tidak tahu harus berbuat apa.

"Kondekturnya tanya, kenapa nggak naik-naik. Saya bilang nggak ada ongkos. Dia langsung bilang, 'Ya udah naik aja.' Gitu doang. Nggak pakai banyak omong," kisahnya.

Dian tidak ingat wajah kondektur itu. Tidak tahu namanya. Namun, kejadian itu ia ceritakan ulang hampir puluhan tahun kemudian, dengan nada yang sama hangatnya.

Seni Bertahan di Dalam Bus

Naik Metromini adalah keterampilan yang dipelajari, bukan bawaan lahir.

Ada tekniknya. Ada taktiknya. Dan setiap penumpang veteran punya versi sendiri dari panduannya.

Pertama: posisi berdiri. Jangan berdiri menghadap depan saat bus melaju kencang, karena saat rem mendadak, badan akan terhempas. Lebih aman berdiri miring ke samping, satu tangan di pegangan atas, dan kaki sedikit ditekuk seperti atlet selancar.

Kedua: tempat duduk. Kursi paling belakang terasa paling berguncang, tetapi punya keuntungan tersembunyi. Kondektur jarang meminta ongkos ke sana dua kali. Kursi depan dekat sopir paling nyaman, tetapi berisiko menjadi teman ngobrol paksa.

Ketiga: barang bawaan dan mental. Tas harus diletakkan di depan, bukan di punggung. Bukan karena aturan, melainkan karena pengalaman pahit yang dialami hampir semua orang setidaknya sekali. Sistem Kopaja dan Metromini yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun untuk naik, tak jarang ikut membuka celah bagi pelaku kriminal.

"Saya pernah kena palak di Kopaja," kisah Supri. "Tapi ya tetap naik Kopaja, karena memang cuma itu pilihannya," imbuh dia.

Ia tertawa mengingatnya sekarang. Tawa seseorang yang sudah cukup jauh dari kejadiannya sehingga bisa melihatnya sebagai sebuah cerita lucu.

Pertunjukan Gratis Setiap Hari

Bus Kopaja dan Metromini melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (23/3).
Ilustrasi Kopaja dan Metromini

Kalau ada satu hal yang membuat Metromini dan Kopaja tak tertandingi sebagai pengalaman, itu adalah para pengamennya.

Mereka naik di satu halte, tampil sepanjang beberapa blok, lalu turun dan menunggu bus berikutnya. Repertoar mereka eklektik tanpa pretensi: dangdut, pop lawas, campursari, sesekali lagu Barat yang liriknya separuh benar dan separuh karangan. Alat musiknya sederhana, mulai dari gitar kecil, kecrekan dari tutup botol, hingga hanya mengandalkan suara.

"Kadang ada yang nyanyinya bagus," tutur Dian. "Bikin macet jadi nggak berasa," lanjutnya mengenang masa-masa itu.

Namun, bukan hanya pengamen. Di dalam Metromini, hiburan datang dari mana saja. Percakapan keras antara dua ibu yang ternyata tetangga lama dan tidak saling tahu. Pedagang asongan yang masuk lewat jendela dan menawarkan tisu, permen, hingga payung lipat dengan semangat seorang presenter televisi. Atau sekadar pemandangan Jakarta yang bergeser di luar jendela: pasar, trotoar, dan gedung-gedung yang dulu masih kosong, tetapi kini telah menjadi mal.

"Jakarta itu saya kenal pertama kali dari jendela Metromini," kata Fauzi. "Bukan dari buku, bukan dari peta," lanjut dia.

Yang Hilang Bukan Hanya Busnya

Metromini dan Kopaja resmi menghilang dari jalanan Jakarta antara 2017 dan 2019. Transjakarta mengambil alih rute-rute mereka. Jakarta mendapatkan bus yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih tepat waktu.

Semua itu merupakan hal yang baik. Tidak ada yang meragukannya.

Namun, ada yang ikut pergi bersama bus-bus tua itu, sesuatu yang lebih sulit diberi nama.

Mungkin itu adalah keintiman yang lahir dari ketidaknyamanan bersama. Di dalam Metromini yang penuh sesak, orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat Jakarta—pegawai kantoran, ibu rumah tangga, pelajar, hingga pedagang—terjepit dalam ruang yang sama, menghirup udara yang sama, dan merasakan guncangan jalan yang sama. Tidak ada sekat. Tidak ada earphone yang memisahkan dunia masing-masing.

"Sekarang di Transjakarta semua pada lihat HP sendiri," kata Shafa. "Dulu di Metromini, ya karena nggak ada HP, kita terpaksa lihat sekitar. Lihat orang. Kadang ngobrol," imbuhnya.

Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat.

"Rasanya lebih... manusia, gitu," tegas Shafa.

Ulang Tahun Kota, Ulang Tahun Kenangan

Bus Kopaja dan Metromini melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (23/3).
Bus Kopaja dan Metromini melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (23/3).

Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-499 pada 22 Juni 2026. Hampir setengah milenium.

Dalam rentang waktu sepanjang itu, banyak hal yang datang dan pergi: rezim, arsitektur, nama jalan, bahkan nama kota itu sendiri. Metromini dan Kopaja hanyalah dua bagian kecil dalam daftar panjang tersebut. Usianya tidak lebih dari empat dekade, hanya sepersekian dari umur kota ini.

Namun, kenangan bekerja dengan cara yang tidak mengikuti logika proporsi. Sesuatu yang kecil bisa meninggalkan bekas yang besar jika hadir pada momen yang tepat: perjalanan pertama sendirian, sore ketika dompet tertinggal, atau pagi buta ketika kota belum sepenuhnya bangun dan bus merah itu melaju dalam keheningan yang aneh.

Shafa kini beralih menjadi pengguna Transjakarta. Dian naik MRT ke kantor. Supri sudah lama pindah ke Bekasi dan hampir tidak pernah masuk Jakarta tanpa kendaraan pribadi.

Namun, sesekali, pada hari-hari tertentu, salah satu dari mereka akan melintas di jalanan yang dulu menjadi rute Metromini kesayangannya. Dan untuk sepersekian detik, sebelum lampu hijau menyala dan kendaraan kembali bergerak, mereka bisa mendengarnya lagi.

Teriakan kondektur. Deru mesin tua. Klakson yang berbunyi bukan karena marah, melainkan karena memang begitulah caranya menyapa dunia.

Jakarta terus berulang tahun. Dan kenangan itu, merah, bising, hangat, ikut merayakannya diam-diam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sandiwara Berdarah di Menteng, Komisaris Wanita Rekayasa Perampokan Demi Habisi Dirut

Sandiwara Berdarah di Menteng, Komisaris Wanita Rekayasa Perampokan Demi Habisi Dirut

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 19:04 WIB

Cerita Rampok 500 Gram Emas Rekayasa! Rekan Bisnis di Menteng Siksa dan Tusuk Korban karena Dendam

Cerita Rampok 500 Gram Emas Rekayasa! Rekan Bisnis di Menteng Siksa dan Tusuk Korban karena Dendam

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:49 WIB

Shin Tae-yong Pasang Target Juara untuk Persija, Minta Pemain Berkorban Habis-habisan

Shin Tae-yong Pasang Target Juara untuk Persija, Minta Pemain Berkorban Habis-habisan

Bola | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:02 WIB

Ogah Kehilangan Permata Timnas Indonesia, Persija Resmi Ikat Jangka Panjang Rayhan Hannan

Ogah Kehilangan Permata Timnas Indonesia, Persija Resmi Ikat Jangka Panjang Rayhan Hannan

Bola | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:36 WIB

Haul Akbar HUT Jakarta, KAI Buka Alternatif Naik-Turun di Stasiun Jatinegara Mulai Sore Ini

Haul Akbar HUT Jakarta, KAI Buka Alternatif Naik-Turun di Stasiun Jatinegara Mulai Sore Ini

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 16:11 WIB

Sekretariat DPRD DKI Jakarta Sosialisasi Pilah Sampah

Sekretariat DPRD DKI Jakarta Sosialisasi Pilah Sampah

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 15:14 WIB

War Tiket Konser Day 3 BTS Capai 900 Ribu Antrean, Kurang dari 1 Jam!

War Tiket Konser Day 3 BTS Capai 900 Ribu Antrean, Kurang dari 1 Jam!

Your Say | Jum'at, 19 Juni 2026 | 15:02 WIB

Perampok Emas 500 Gram di Menteng Ditangkap usai Tikam Korban 7 Kali

Perampok Emas 500 Gram di Menteng Ditangkap usai Tikam Korban 7 Kali

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 14:22 WIB

Awas Macet! Ada Haul Akbar di Monas Malam Ini, Cek 8 Rute Alternatif dan Lokasi Parkir

Awas Macet! Ada Haul Akbar di Monas Malam Ini, Cek 8 Rute Alternatif dan Lokasi Parkir

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 14:07 WIB

Persija Jakarta Bongkar Kesepakatan Transfer dengan Shin Tae-yong, Pelatih Dapat Kuasa Penuh!

Persija Jakarta Bongkar Kesepakatan Transfer dengan Shin Tae-yong, Pelatih Dapat Kuasa Penuh!

Bola | Jum'at, 19 Juni 2026 | 13:58 WIB

Terkini

Mahkamah Konstitusi 'Main Aman' Beri Legitimasi Program MBG yang Bermasalah

Mahkamah Konstitusi 'Main Aman' Beri Legitimasi Program MBG yang Bermasalah

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:03 WIB

Sering Olahraga Bikin Rambut Lepek dan Ketombe? Ini Tips Menjaga Kulit Kepala Sehat

Sering Olahraga Bikin Rambut Lepek dan Ketombe? Ini Tips Menjaga Kulit Kepala Sehat

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:02 WIB

Gus Ipul Ingatkan Seluruh Jajaran: Program Sekolah Rakyat Butuh Kolaborasi dan Integritas

Gus Ipul Ingatkan Seluruh Jajaran: Program Sekolah Rakyat Butuh Kolaborasi dan Integritas

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:55 WIB

Kenali Modus Customer Service Palsu yang Mengincar OTP dan PIN

Kenali Modus Customer Service Palsu yang Mengincar OTP dan PIN

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:53 WIB

Dua Siswa Sekolah Rakyat Jadi Delegasi Indonesia di 9th ASEAN Children's Forum

Dua Siswa Sekolah Rakyat Jadi Delegasi Indonesia di 9th ASEAN Children's Forum

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:51 WIB

Promo Tiket Kereta Api di BRImo Langsung Dapat Cashback 15 Persen, Cek Syaratnya!

Promo Tiket Kereta Api di BRImo Langsung Dapat Cashback 15 Persen, Cek Syaratnya!

Bri | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:48 WIB

Terbukti Tarik Pungli ke Sesama PPPK, 1 ASN Pemprov Banten Dipecat Tidak Hormat

Terbukti Tarik Pungli ke Sesama PPPK, 1 ASN Pemprov Banten Dipecat Tidak Hormat

Banten | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:47 WIB

Pemkab Musi Banyuasin Usulkan Lahan Sekolah Rakyat

Pemkab Musi Banyuasin Usulkan Lahan Sekolah Rakyat

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:47 WIB

Habiskan Malam Panjang di Ibu Kota: Intip 5 Cara Menikmati Jakarta hingga Dini Hari di PIK

Habiskan Malam Panjang di Ibu Kota: Intip 5 Cara Menikmati Jakarta hingga Dini Hari di PIK

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:45 WIB

Dari Susu Jadi Yogurt Berkualitas, Transformasi Peternak Karanglo Naik Kelas Bersama BRI

Dari Susu Jadi Yogurt Berkualitas, Transformasi Peternak Karanglo Naik Kelas Bersama BRI

Bri | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:38 WIB

×