Suara.com - Wakil Ketua DPD RI, GKR Hemas, mengingatkan pentingnya penguatan identitas dan karakter generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam National Leadership Camp Rumah Kepemimpinan 2026 bertema “Membangun Identitas Kepemimpinan Bangsa Melalui Nilai-Nilai Kebudayaan” di Auditorium Vokasi Universitas Indonesia, Sabtu (20/6/2026).
Di hadapan ratusan peserta dari berbagai daerah, GKR Hemas menilai generasi muda Indonesia saat ini hidup dalam era yang penuh perubahan dan ketidakpastian. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), arus informasi global, hingga perubahan geopolitik dunia menghadirkan tantangan yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.
Menurutnya, persoalan terbesar yang dihadapi bangsa saat ini bukan hanya terkait ekonomi atau teknologi, tetapi juga menyangkut jati diri bangsa. Kemajuan teknologi telah membuat batas geografis semakin kabur dan memungkinkan generasi muda mengikuti perkembangan dunia secara cepat, namun di balik manfaat tersebut dan terdapat risiko yang perlu diwaspadai.
Karena itu, GKR Hemas menekankan pentingnya menjadikan kebudayaan sebagai fondasi dalam membangun kepemimpinan masa depan. Kebudayaan bukan sekadar kesenian atau tradisi, melainkan nilai-nilai yang membentuk karakter individu dan bangsa.
Indonesia sendiri memiliki modal besar berupa keberagaman budaya yang melahirkan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, musyawarah, tepa selira, dan semangat persaudaraan. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompetitif dan individualistik.
Karena itu, pembangunan bangsa tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik dan ekonomi. Penguatan karakter yang berakar pada nilai-nilai kebudayaan bangsa harus menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional.
GKR Hemas juga menyoroti dampak perkembangan kecerdasan buatan yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Teknologi dapat membantu manusia mengolah data dan mempercepat pengambilan keputusan, namun tidak dapat menggantikan karakter dan nilai moral.
“Ada satu hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, yaitu karakter. Kecerdasan buatan dapat memberikan informasi, tetapi tidak memiliki nurani,” ujarnya.
Lebih lanjut, GKR Hemas menekankan pentingnya kepemimpinan yang mampu merawat keberagaman, membangun dialog, dan memperkuat persatuan. Ia juga mendorong semakin banyak perempuan mengambil peran strategis dalam kehidupan publik karena kepemimpinan ditentukan oleh integritas, kapasitas, dan komitmen untuk melayani, bukan oleh jenis kelamin.
Menjelang target Indonesia Emas 2045, GKR Hemas mengingatkan bahwa bonus demografi dan kemajuan ekonomi tidak akan berarti tanpa kualitas karakter yang kuat. Oleh sebab itu, generasi muda diminta menjadi pemimpin yang terbuka terhadap perkembangan dunia, namun tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan dan budaya Indonesia.
“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah generasi yang mampu menggabungkan kecerdasan dengan integritas, kemampuan dengan kepedulian, keberanian dengan kebijaksanaan, berkarakter, dan cinta pada sejarah bangsanya,” tutur GKR Hemas.
Ia pun mengajak seluruh peserta National Leadership Camp 2026 untuk terus belajar, menjaga kepekaan terhadap persoalan masyarakat, serta menjadikan kepemimpinan sebagai bentuk pengabdian bagi bangsa dan negara. ***