- Munas dan Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Kediri mengalami kericuhan akibat kesalahpahaman penentuan lokasi Muktamar ke-35.
- PBNU membatalkan usulan Pondok Pesantren Lirboyo sebagai lokasi Muktamar setelah muncul penolakan dan hak veto Rais Aam.
- PBNU membentuk tim khusus untuk meninjau lima calon lokasi baru berdasarkan standar infrastruktur, keamanan, logistik, dan aspek spiritual.
![Munas NU Ricuh jelang muktamar tahun 2026 [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/23/37125-munas-nu-ricuh.jpg)
Pembatalan ini menyusul adanya langkah penolakan atau hak veto yang dikeluarkan oleh Rais Aam PBNU, yang berimbas pada keharusan dilakukannya peninjauan ulang secara menyeluruh.
Sekretaris Steering Committee (SC) Munas dan Konbes NU 2026, Prof. Dr. KH Muhammad Nuh, menjelaskan bahwa perhelatan agung Muktamar NU ke-35 ini dijadwalkan bakal berlangsung pada tanggal 1 hingga 5 Agustus 2026. Guna menentukan kepastian lokasi baru, PBNU dalam waktu dekat akan segera mengesahkan tim khusus.
"Tempatnya sudah ada beberapa usulan, mulai dari NTB, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Barat. Kami akan segera membentuk tim yang akan melakukan review terhadap tempat-tempat itu," urai Mohammad Nuh yang juga merupakan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.
Hingga saat ini, tercatat ada lima wilayah provinsi yang mengajukan diri secara resmi sebagai kandidat tuan rumah, yakni Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera Barat.
Guna menyaring kandidat tersebut, forum menetapkan prasyarat mutlak: lokasi perhelatan wajib berada di dalam kompleks pondok pesantren yang memiliki basis santri aktif menetap.
Lebih lanjut, KH Muhammad Nuh menjabarkan terdapat empat parameter utama yang akan digunakan oleh tim khusus dalam memberikan penilaian kelayakan, yaitu:
- Kesiapan sarana, prasarana, dan infrastruktur penunjang harian.
- Jaminan sistem keamanan selama acara berlangsung.
- Dukungan skema pembiayaan logistik.
- Pertimbangan aspek spiritual (batiniah).
"Aspek spiritual selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap pengambilan keputusan strategis di lingkungan NU," tegas Nuh.
Suhu Politik Internal Memanas Jelang Muktamar
Di samping persoalan teknis logistik tempat acara, konstelasi politik di internal Nahdlatul Ulama terpantau mulai menghangat menjelang agenda pergantian tongkat estafet kepemimpinan nasional bursa PBNU pada Agustus mendatang.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, secara terbuka melayangkan kritik tajam yang diarahkan langsung kepada kinerja fungsionaris PBNU periode berjalan.
Cak Imin ini menilai performa dan jalannya roda organisasi PBNU di bawah kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf saat ini mengalami kemunduran performa yang cukup signifikan jika dikomparasikan dengan periode-periode sebelumnya.