- Industri energi surya di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat, namun menghadapi kendala kesiapan tenaga kerja yang berkualitas.
- Riset Coaction Indonesia memproyeksikan jutaan lapangan kerja hijau, tetapi perusahaan kesulitan menemukan tenaga kerja dengan keterampilan teknis praktis.
- Xurya mendirikan Solar Academy Indonesia sejak 2024 untuk menjembatani kesenjangan antara teori pendidikan dengan kebutuhan operasional di lapangan.
Suara.com - Saat membicarakan transisi energi, perhatian sering tertuju pada kapasitas pembangkit, investasi, atau target penurunan emisi. Padahal, keberhasilan transisi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang tersedia, tetapi juga oleh orang-orang yang akan merancang, membangun, dan mengoperasikannya.
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika energi surya mulai mendapat ruang lebih besar dalam arah kebijakan energi nasional. Namun di tengah optimisme pertumbuhan industri, muncul tantangan yang jarang menjadi pusat pembahasan, kesiapan sumber daya manusia (SDM).
Menurut Co-Founder & Director of Technology Xurya, Edwin Widjonarko, industri energi surya di Indonesia saat ini sudah mulai memasuki fase pertumbuhan.

Permintaannya meningkat, jumlah pelaku usaha bertambah, dan ekosistemnya mulai berkembang. Tetapi perkembangan tersebut belum selalu diikuti oleh kesiapan tenaga kerja dengan kualitas yang merata.
“Yang menurut saya masih jarang dibicarakan justru kesiapan SDM. Karena industri ini berkembang cepat, jumlah perusahaan EPC (Engineering, Procurement, and Construction) dan installer juga bertambah. Tapi kualitas tenaga kerjanya belum selalu setara dengan kebutuhan industrinya,” kata Edwin.
Green jobs berpotensi tumbuh, tetapi tidak otomatis mudah diisi
Tantangan ini juga terlihat dalam riset Coaction Indonesia berjudul Kesiapan Pasar Tenaga Kerja dalam Pengembangan Green Jobs di Sektor Energi Terbarukan.
Studi tersebut memproyeksikan bahwa transisi energi menuju target Net Zero Emission melalui pengembangan energi terbarukan dapat menciptakan 6,31–10,19 juta lapangan kerja bersih hingga 2060.
Energi surya diperkirakan menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan potensi 1,86–4,57 juta pekerjaan.
Namun, di balik proyeksi tersebut, penelitian menemukan paradoks yang menarik: tenaga kerja tersedia, tetapi perusahaan tetap mengalami kesulitan merekrut.
Banyak lulusan sebenarnya memiliki latar pendidikan yang sesuai. Namun ketika masuk ke dunia kerja, kemampuan yang dimiliki belum selalu menjawab kebutuhan operasional industri.
Riset tersebut menyebut tantangan utamanya bukan pada ketersediaan tenaga kerja, melainkan pada kedalaman keterampilan teknis dan kemampuan menerjemahkan teori menjadi penyelesaian masalah di lapangan.
Masalahnya bukan kekurangan teori, tetapi minim pengalaman praktik
Edwin melihat kondisi yang serupa dari pengalaman industri. Menurutnya, secara umum arah pendidikan sudah cukup baik. Banyak tenaga kerja memiliki fondasi teori yang kuat. Tetapi ketika harus bekerja dalam kondisi nyata, masih muncul jarak antara apa yang dipelajari dan apa yang dibutuhkan.
“Fondasinya sebenarnya sudah bagus. Tapi saat harus diaplikasikan ke situasi nyata masih kurang nyambung,” ujarnya.