- Presiden ke-7 RI Jokowi melakukan ritual adat menginjak kepala kerbau saat melakukan kunjungan kerja di Provinsi Lampung.
- Aksi tersebut memicu perdebatan politik antara PDIP dan PSI terkait makna simbolis prosesi adat masyarakat Lampung tersebut.
- PSI mengkritik PDIP karena dianggap merendahkan budaya, sementara PDIP membantah adanya maksud politis dalam menanggapi ritual tersebut.
Bestari justru membalikkan pertanyaan tersebut, dengan mempertanyakan kredibilitas Andreas dalam menilai langkah politik orang lain.
"Dia yang membuat standarisasi. Dia itu siapa kok menentukan arah orang lain?" kata Bestari.
Ketegangan antara kedua pihak ini, seolah mempertegas jurang pemisah yang semakin lebar antara kubu pendukung Jokowi dan PDIP.
Bestari menyarankan agar PDIP lebih fokus membenahi internal partai, ketimbang terus-menerus melontarkan komentar negatif terhadap Jokowi hanya berdasarkan rasa ketidaksukaan atau luka lama politik.
"Kalau tidak suka, ya hindari. Kalau luka, kecewa, terdegradasi karena ditinggal Jokowi, berbenah diri dulu. Ini kadang mengaku oposisi, terkadang tidak oposisi. Tidak jelas jenis kelaminnya," kata dia.
Sebagai penutup kritiknya, Bestari bahkan meminta Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, untuk turun tangan mendisiplinkan para kadernya.
Ia berharap agar pendidikan mengenai penghormatan terhadap budaya daerah dimasukkan ke dalam kurikulum internal partai agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Semoga Ibu Megawati bisa menasihati anak buahnya. Itu supaya bisa menghormati budaya masyarakat Indonesia. Masukkan kurikulum sekolah kader PDIP," kata Bestari.