Riset: Hutan Mungkin Tak Lagi Menyerap Karbon Sebanyak yang Kita Perkirakan, Mengapa?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:06 WIB
Riset: Hutan Mungkin Tak Lagi Menyerap Karbon Sebanyak yang Kita Perkirakan, Mengapa?
Potret Hutan (Pexels/Rudi Singh)

Suara.com - Hutan selama ini menjadi salah satu benteng utama dalam menahan laju perubahan iklim. Pohon menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer melalui proses fotosintesis, kemudian menyimpannya dalam batang, akar, dan jaringan lainnya.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan hutan menyerap karbon di masa depan kemungkinan tidak sebesar yang selama ini diperkirakan.

Hutan Diperkirakan Menyerap Karbon Lebih Sedikit di Masa Depan

Penelitian yang dipublikasikan dalam Geophysical Research Letters berjudul "Land Models Likely Underestimate the Impact of Future Atmospheric Dryness on European Tree Growth" mengungkapkan bahwa peningkatan suhu akibat perubahan iklim dapat memperlambat pertumbuhan pohon sehingga kapasitas penyimpanan karbon hutan berpotensi menurun hingga 30 persen.

Saat ini, ekosistem daratan menyerap sekitar 27 persen emisi karbon dioksida yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Namun, para peneliti menemukan bahwa udara yang semakin panas dan kering dapat menghambat pertumbuhan pohon meskipun proses fotosintesis masih berlangsung. Akibatnya, karbon yang diserap tidak seluruhnya diubah menjadi biomassa kayu yang mampu menyimpan karbon dalam jangka panjang.

Penulis senior sekaligus Asisten Profesor Ilmu Bumi dan Atmosfer di College of Agriculture and Life Sciences, Daniele Visioni, mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan alam dalam menahan laju perubahan iklim akan semakin terbatas.

"Semakin kita teliti, semakin jelas bahwa dengan pemanasan global yang berkelanjutan, akan semakin sulit bagi alam untuk mengimbanginya," ujar Daniele Visioni.

Pohon Tetap Berfotosintesis, tetapi Sulit Tumbuh

Penelitian ini memanfaatkan data pengamatan selama delapan tahun dari hutan di Swiss yang mencakup berbagai jenis pohon berdaun lebar dan konifer (berbiji terbuka) yang mengukur laju pertumbuhan spesies pohon berdaun lebar dan pohon konifer selama delapan tahun. Penulis utama dan peneliti pascadoktoral, Brendan Clark, selama proses penelitian tersebut menemukan bahwa cuaca yang lebih kering dan panas menyebabkan pertumbuhan yang berkurang. 

baca juga

"Jadi, pohon itu mungkin melakukan fotosintesis, tetapi tidak tumbuh," tutur  Clark 

Hasil pengamatan tersebut kemudian dibandingkan dengan salah satu model permukaan daratan yang banyak digunakan untuk memproyeksikan perubahan iklim. Hasilnya menunjukkan bahwa model tersebut melebihkan pertumbuhan pohon hingga dua kali lipat pada pohon berdaun lebar dan hingga tiga kali lipat pada pohon konifer. Namun, hasil pengamatan nyata di lapangan menunjukkan pertumbuhan pohon tidak sebesar yang diperkirakan model. 

Menurut para peneliti, penyebab utamanya adalah berkurangnya tekanan air di dalam sel-sel pohon ketika kondisi menjadi lebih panas dan kering. Meski daun tetap mampu melakukan fotosintesis, proses pembelahan sel yang diperlukan untuk membentuk jaringan kayu baru menjadi terhambat. Dengan kata lain, pohon tetap menyerap karbon, tetapi tidak mampu mengubahnya menjadi pertumbuhan batang secara optimal.

Temuan ini memiliki implikasi penting terhadap proyeksi perubahan iklim. Jika hutan menyimpan karbon lebih sedikit daripada yang diperkirakan, maka konsentrasi karbon dioksida di atmosfer dapat meningkat lebih cepat sehingga mempercepat pemanasan global. Karena itu, para peneliti menilai model iklim perlu diperbarui agar lebih mencerminkan respons biologis pohon terhadap kondisi lingkungan yang semakin panas dan kering.

Clark menegaskan bahwa penyempurnaan model tersebut penting untuk menghasilkan proyeksi iklim yang lebih akurat.

"Mengetahui seberapa baik lahan mampu menyerap karbon di masa depan sangat penting untuk mengetahui berapa banyak CO2 yang akan ada di atmosfer, dan berapa banyak pemanasan yang akan terjadi,” ujar Clark. 

Daniele menilai penelitian ini memberikan dasar yang lebih kuat untuk memahami dampak pemanasan global terhadap kemampuan hutan menyerap karbon.

"Penelitian Brendan merupakan langkah penting dalam meningkatkan kemampuan kita untuk mengukur seberapa berbahaya pemanasan global di masa depan,” ungkap Daniele.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Raja Juli: Tidak Ada Sejengkal Kawasan Hutan yang Saya Lepaskan

Raja Juli: Tidak Ada Sejengkal Kawasan Hutan yang Saya Lepaskan

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 13:35 WIB

Reboisasi Tak Selalu Menambah Pasokan Air, Mengapa Iklim Jadi Faktor Penentu?

Reboisasi Tak Selalu Menambah Pasokan Air, Mengapa Iklim Jadi Faktor Penentu?

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 12:50 WIB

Mengapa Fashion Berkelanjutan Masih Sulit Diakses Sebagian Konsumen?

Mengapa Fashion Berkelanjutan Masih Sulit Diakses Sebagian Konsumen?

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 13:30 WIB

Terkini

IHSG Berisiko Terkoreksi Hari Ini, Waspadai Saham-saham Berikut!

IHSG Berisiko Terkoreksi Hari Ini, Waspadai Saham-saham Berikut!

Bisnis | Jum'at, 17 Juli 2026 | 08:19 WIB

Kisah Tragis Gatot yang Dieksekusi Anak Angkat Secara Sadis di Nganjuk

Kisah Tragis Gatot yang Dieksekusi Anak Angkat Secara Sadis di Nganjuk

Jatim | Jum'at, 17 Juli 2026 | 08:15 WIB

Pagi-pagi Iran Kirim Rudal 'Kiamat' ke Kuwait dan Bahrain, Balas Dendam Serangan AS Semalam

Pagi-pagi Iran Kirim Rudal 'Kiamat' ke Kuwait dan Bahrain, Balas Dendam Serangan AS Semalam

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 08:07 WIB

Inilah 4 Resep Rendang Daging Sapi yang  Gurih dan Empuk!

Inilah 4 Resep Rendang Daging Sapi yang Gurih dan Empuk!

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 08:00 WIB

Tak Ada Jalan, Perahu Jadi Andalan Siswa Berangkat Sekolah di Muara Gembong

Tak Ada Jalan, Perahu Jadi Andalan Siswa Berangkat Sekolah di Muara Gembong

Foto | Jum'at, 17 Juli 2026 | 08:00 WIB

As Long as the Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Tumbuh di Tengah Perang

As Long as the Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Tumbuh di Tengah Perang

Your Say | Jum'at, 17 Juli 2026 | 08:00 WIB

RI Masih Dapat Berkah dari Geopolitik, Investasi Tetap Mengalir Rp1.010,6 T di Semester I

RI Masih Dapat Berkah dari Geopolitik, Investasi Tetap Mengalir Rp1.010,6 T di Semester I

Bisnis | Jum'at, 17 Juli 2026 | 07:58 WIB

Indonesia Masuki Era Penduduk Menua, Lansia Butuh Banyak Rumah Sehat

Indonesia Masuki Era Penduduk Menua, Lansia Butuh Banyak Rumah Sehat

Bisnis | Jum'at, 17 Juli 2026 | 07:51 WIB

Breakingnews! Selat Hormuz di Ambang Lumpuh Total

Breakingnews! Selat Hormuz di Ambang Lumpuh Total

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 07:49 WIB

Valuasi Menarik, Intip Prospek Saham TLKM dan ISAT Pasca Implementasi Biometrik

Valuasi Menarik, Intip Prospek Saham TLKM dan ISAT Pasca Implementasi Biometrik

Bisnis | Jum'at, 17 Juli 2026 | 07:42 WIB

×