Sistem Pendidikan 'Tuli dan Buta', Sosiolog Sebut Aksi Bom Siswa Padang Sebagia Perlawanan Ekstrem

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:16 WIB
Sistem Pendidikan 'Tuli dan Buta', Sosiolog Sebut Aksi Bom Siswa Padang Sebagia Perlawanan Ekstrem
Pekerja kebersihan menyapu lantai sekolah pascaledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/7/2026). [ANTARA FOTO/Fitra Yogi/agr]
baca 10 detik
  • Seorang siswa meledakkan bom rakitan di MAN 3 Padang akibat akumulasi perundungan yang dialaminya di lingkungan sekolah.
  • Sosiolog UGM menilai peristiwa ini mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dalam melindungi siswa serta minimnya pendampingan emosional bagi peserta didik.
  • Pemerintah perlu segera melakukan reformasi ekosistem pendidikan secara radikal untuk mengatasi akar masalah kekerasan daripada sekadar memberikan sanksi pidana.

Suara.com - Kasus peledakan bom rakitan di MAN 3 Padang yang diduga dilakukan oleh seorang siswa dinilai bukan sekadar persoalan kriminalitas remaja. Apalagi peristiwa itu dipicu oleh akumulasi aksi perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, menyebut bahwa fenomena itu menggambarkan manifestasi dari kegagalan akut kontrol sosial di dalam institusi pendidikan Indonesia.

Apalagi peristiwa ini bukan pertama kali dan terus berulang. Kondisi itu menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem pendidikan yang selama ini gagal menyentuh akar masalah.

"Sistem pendidikan kita itu declining sebetulnya, betul-betul terpuruk. Sebagai institusi yang harusnya memberikan sosialisasi, mestinya menjadi sistem yang memperadabkan dari anak yang bertumbuh... tetapi nyatanya tidak," kata Abe sapaan akrabnya kepada Suara.com, Rabu (15/7/2026).

Ia menilai terdapat tiga persoalan besar yang saling berkaitan, yakni paparan teknologi digital, praktik kekerasan seperti bullying di lingkungan sekolah, serta kegagalan struktur sosial melindungi siswa.

Ketiga faktor itu yang kemudian membentuk kondisi remaja rentan melampiaskan kemarahan melalui tindakan ekstrem.

"Aksi nekat siswa tadi menurut saya itu bentuk perlawanan ekstrem ya terhadap sistem yang saya kira dianggapnya tidak mempedulikannya, tuli, tidak punya mata, tidak punya telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya," ujarnya.

Abe mengkritik sistem pendidikan yang dinilai semakin represif. Sekolah, kata dia, lebih sibuk mengejar target administrasi dan kurikulum ketimbang membangun hubungan yang hangat dengan peserta didik.

Akibatnya, ruang dialog dan pendampingan emosional terhadap siswa semakin minim. Hal itu berdampak pada pengawasan terhadap para siswa.

baca juga

Belum lagi soal praktik bullying yang selama ini kerap hanya dianggap sebagai kenakalan biasa. Padahal dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Dalam kondisi tersebut, siswa yang tertekan menjadi semakin rentan mencari jalan keluar melalui tindakan kekerasan.

"Kita terus selalu saja mengobati simtom, kita itu hanya mengobati gejala, bukan akarnya," tegasnya.

Suasana di MAN 3 Padang usai ledakan bom rakitan. [Suara.com / B.Rahmat]
Suasana di MAN 3 Padang usai ledakan bom rakitan. [Suara.com / B.Rahmat]

Menurut Abe, kasus di MAN 3 Padang bukan tak mungkin terulang kembali. Sebab penanganan hanya berhenti pada penghukuman pelaku.

Sedangkan tidak ada evaluasi mendasar kepada ekosistem yang membentuk lahirnya kekerasan tersebut.

Oleh karena itu, penyelesaian kasus semacam ini tidak bisa hanya dilakukan dengan memberikan sanksi pidana kepada pelaku atau memperketat pengamanan fisik sekolah.

Namun lebih besar yakni mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan evaluasi kurikulum dan reformasi ekosistem pendidikan secara radikal agar sekolah kembali menjadi tempat yang memanusiakan manusia.

"Maka, dalam perspektif ini saya kira kita mesti melihat bahwa ini ada kegagalan kontrol sosial di dalam institusi ya. Itu bagaimana sebetulnya jangan toleran terhadap praktik bullying itu. Perhatikan betul laku perilaku siswa keseharian dan betul-betul itu mesti cura personalis," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

IHSG Masih Betah di Level 6.000 pada Sesi I, BMRI dan BBCA Diserbu

IHSG Masih Betah di Level 6.000 pada Sesi I, BMRI dan BBCA Diserbu

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:08 WIB

Prabowo Sempat Panggil Jaksa Agung Bahas Kasus Febrie Adriansyah, Begini Penjelasan Istana

Prabowo Sempat Panggil Jaksa Agung Bahas Kasus Febrie Adriansyah, Begini Penjelasan Istana

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:05 WIB

Jet Tempur Amerika Serikat Hancurkan Pos Rudal Iran

Jet Tempur Amerika Serikat Hancurkan Pos Rudal Iran

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:01 WIB

Lindungi Kulitmu, Ini 5 Skincare Penyelamat saat Cuaca Panas Ekstrem

Lindungi Kulitmu, Ini 5 Skincare Penyelamat saat Cuaca Panas Ekstrem

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:00 WIB

Ikut Demo? Jangan Lakukan 5 Kesalahan Fatal Ini saat Terpapar Gas Air Mata

Ikut Demo? Jangan Lakukan 5 Kesalahan Fatal Ini saat Terpapar Gas Air Mata

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:10 WIB

Ngeri! Selain Rakit Bom, Pelajar MAN 3 Padang Juga Simpan Panah dan Pisau di Sekolah

Ngeri! Selain Rakit Bom, Pelajar MAN 3 Padang Juga Simpan Panah dan Pisau di Sekolah

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 09:54 WIB

Terkini

4 Jenazah Ditemukan, 129 Penumpang KMP Virgo Transport 8 Masih Hilang

4 Jenazah Ditemukan, 129 Penumpang KMP Virgo Transport 8 Masih Hilang

News | Rabu, 16 September 2026 | 10:58 WIB

BRI Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026, Konsisten Dukung Kemajuan Olahraga Nasional

BRI Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026, Konsisten Dukung Kemajuan Olahraga Nasional

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 10:58 WIB

Apa Itu Beras Fortifikasi? Ini Beda Kandungannya dengan Beras Biasa

Apa Itu Beras Fortifikasi? Ini Beda Kandungannya dengan Beras Biasa

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 10:55 WIB

Arab Saudi Panas, Jenderal Turki al-Maliki Janji Balas Dendam Serangan Rudal Houthi Yaman

Arab Saudi Panas, Jenderal Turki al-Maliki Janji Balas Dendam Serangan Rudal Houthi Yaman

News | Rabu, 16 September 2026 | 10:50 WIB

Weton Ketemu 24 Artinya Apa Menurut Primbon Jawa? Ini Maknanya dalam Hubungan

Weton Ketemu 24 Artinya Apa Menurut Primbon Jawa? Ini Maknanya dalam Hubungan

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 10:50 WIB

5 Bedak Tabur Wardah untuk Makeup Natural dari yang Termurah hingga Premium

5 Bedak Tabur Wardah untuk Makeup Natural dari yang Termurah hingga Premium

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 10:45 WIB

Modus Licik Ban Serep Terbongkar! Sabu 5,4 Kg Jaringan JakartaLombok Disergap di Surabaya

Modus Licik Ban Serep Terbongkar! Sabu 5,4 Kg Jaringan JakartaLombok Disergap di Surabaya

Jatim | Rabu, 16 September 2026 | 10:42 WIB

Hwang Minhyun Diincar Gantikan Lee Jong Suk dalam Drama Iseop's Romance

Hwang Minhyun Diincar Gantikan Lee Jong Suk dalam Drama Iseop's Romance

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 10:39 WIB

Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?

Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 10:37 WIB

WN China Berburu dan Makan Penyu di Raja Ampat, Kemenpar Minta Pihak yang Fasilitasi Ikut Diusut

WN China Berburu dan Makan Penyu di Raja Ampat, Kemenpar Minta Pihak yang Fasilitasi Ikut Diusut

News | Rabu, 16 September 2026 | 10:35 WIB

×