-
Iran mendesak IAEA mengutuk keras serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Darkhovin.
-
Juru Bicara Esmaeil Baghaei menyindir IAEA yang sebelumnya kerap mengeluarkan pernyataan politik.
-
Teheran menegaskan bahwa proyek reaktor di barat daya Iran tersebut murni bertujuan damai.
Suara.com - Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara yang menyasar fasilitas nuklir Darkhovin di wilayah Iran.
Pemerintah Iran langsung bereaksi keras dan menuntut pertanggungjawaban internasional atas aksi agresif yang dinilai melanggar hukum tersebut.
Teheran kini menekan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) agar tidak tinggal diam dan segera mengeluarkan sikap resmi.
![Ilustrasi serangan Amerika Serikat dan Israel di wilayah pemukiman penduduk Iran. [Dok. Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/14/92016-serangan-as-israel.jpg)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa lembaga pengawas nuklir PBB tersebut harus berani mengambil posisi yang adil.
"Iran berharap dewan gubernur IAEA dan direktur jenderal menyatakan posisi mereka secara jelas dalam masalah ini untuk mengutuk kejahatan AS," ujar Baghaei dalam konferensi pers di Teheran, dikutip dari Al Jazeera, Senin (20/7/2026).
Tuntutan ini menjadi ujian berat bagi kredibilitas IAEA yang sering kali dianggap tebang pilih oleh negara-negara Timur Tengah.
Baghaei secara terbuka menyindir rekam jejak badan dunia tersebut dalam merespons isu-isu krusial global.
Dia menyebut bahwa pengawas nuklir PBB itu sebelumnya pernah membuat pernyataan politik mengenai isu-isu nuklir.
Kini, Iran menantang IAEA untuk membuktikan independensinya tanpa pengaruh dari kekuatan negara-negara Barat.
Langkah konkret dari IAEA dianggap penting untuk mencegah normalisasi serangan militer terhadap fasilitas non-kombatan di masa depan.
Pemerintah Iran mengutuk keras serangan udara tersebut karena target operasi militer Amerika Serikat bukanlah instalasi perang.
Baghaei menyatakan dengan tegas bahwa situs Darkhovin dibangun dan digunakan murni untuk tujuan damai.
Hingga saat ini, fasilitas yang terletak di wilayah barat daya Iran tersebut sebenarnya masih berada dalam tahap konstruksi.
Agresi sepihak ini dinilai dapat merusak peta jalan pemanfaatan energi alternatif yang sedang dikembangkan oleh Teheran.
Konflik seputar program nuklir Iran telah berlangsung selama beberapa dekade dan terus menjadi sumbu ketegangan di Timur Tengah. Amerika Serikat dan sekutunya kerap menuduh Teheran mengembangkan senjata pemusnah massal di balik program energi mereka.
Sebaliknya, Iran berulang kali membantah tudingan tersebut dan menegaskan hak mereka atas teknologi nuklir sipil. Serangan langsung ke situs Darkhovin yang sedang dibangun ini menandai eskalasi baru yang berpotensi merusak stabilitas keamanan regional.