-
Faishal Ibrahim resmi mengundurkan diri dari kabinet Singapura akibat skandal pesan daring.
-
Kasus komunikasi tidak pantas ini berujung pada investigasi polisi terkait dugaan pelecehan.
-
PM Lawrence Wong menegaskan mundurnya menteri dilakukan demi menjaga standar etika pejabat.
Suara.com - Menteri Urusan Muslim Singapura Faishal Ibrahim resmi meletakkan jabatannya akibat skandal interaksi tidak pantas terhadap perempuan.
Langkah drastis ini diambil di tengah sorotan tajam publik terhadap integritas moral para pejabat negara.
Perdana Menteri Lawrence Wong mengungkapkan bahwa mayoritas komunikasi tidak patut tersebut dilakukan secara daring.
![Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong [Instagram/@lawrencewongst]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/28/22957-perdana-menteri-singapura-lawrence-wong-instagramatlawrencewongst.jpg)
Dikutip dari Al Jazeera, hubungan digital ini juga berlanjut dalam beberapa pertemuan di sela-sela acara formal pemerintahan.
Dampak dari polemik ini memicu saling lempar tuduhan pelecehan di antara kedua belah pihak.
Aparat kepolisian kini tengah turun tangan untuk mendalami laporan dari masing-masing pihak tersebut.
Perdana Menteri menegaskan tidak ada unsur tindak pidana yang terbukti dalam kasus komunikasi ini.
Kendati demikian, fokus utama kini tertuju pada kelayakan moral sang menteri di kursi pemerintahan.
PM Lawrence Wong menegaskan bahwa ada persoalan lain mengenai kepantasan perilaku sang profesor.
"Ada pertanyaan terpisah tentang apakah perilaku Faishal memenuhi standar yang diharapkan dari seorang pemegang jabatan politik dan anggota parlemen," ujar Wong dalam keterangan resminya.
Pernyataan tegas kepala pemerintahan tersebut menandai berakhirnya karier panjang Faishal di panggung politik praktis.
Ia melepaskan seluruh keanggotaan di partai penguasa sekaligus mandatnya sebagai menteri di kabinet.
Melalui surat resmi, mantan menteri tersebut mengklarifikasi batasan hubungan yang terjadi selama ini.
Ia menegaskan tidak pernah ada kontak fisik yang terjadi di antara mereka berdua.
Faishal Ibrahim mengakui adanya kekeliruan fatal dalam mengelola komunikasi interpersonal tersebut sejak awal mulanya.
"Meskipun tidak ada hubungan fisik di antara kami, dan saya tidak berniat agar interaksi tersebut berkembang menjadi hubungan fisik, ada kesalahan penilaian di pihak saya dalam cara saya menangani interaksi tersebut, dan kegagalan dalam menetapkan batasan yang lebih jelas pada tahap awal," tulis Faishal.
Merespons keputusan pahit ini, sang Perdana Menteri menyampaikan rasa prihatin yang mendalam.
Wong mengaku sedih melihat rekan sejawatnya harus menyudahi pengabdian politik dalam situasi rumit.
Faishal Ibrahim sendiri bukanlah figur baru karena telah mengabdi sebagai anggota parlemen sejak 2006.
Karier politiknya memuncak saat dipercaya memimpin portofolio urusan Muslim pada tahun 2025 lalu.
Kasus teranyar ini menambah panjang daftar hitam skandal yang mengguncang stabilitas People's Action Party.
Partai penguasa tersebut selama ini dikenal sangat ketat dalam menjaga citra bersih tanpa noda.
Sebelum peristiwa ini, publik Singapura sudah diguncang kasus korupsi mantan Menteri Perhubungan Subramaniam Iswaran.
Iswaran terbukti menerima suap dari konglomerat properti demi memuluskan kepentingan bisnis tertentu.
Gelombang dinamika politik lokal juga sempat diwarnai pengunduran diri dua tokoh oposisi akibat perselingkuhan.
Rentetan insiden moral ini diakui telah mengikis kepercayaan publik terhadap ekosistem politik Singapura.