- Hong Kong menggeser Singapura sebagai sumber investasi asing terbesar ke Indonesia dengan nilai 5,5 miliar dolar AS pada kuartal II 2026.
- Peningkatan investasi tersebut didorong oleh perusahaan asal China yang mayoritas menyalurkan modalnya melalui Hong Kong ke sektor industri hilirisasi mineral.
- Menteri Investasi Rosan Roeslani menyatakan Singapura tetap menjadi investor kumulatif terbesar untuk periode semester I tahun 2026 di Indonesia.
Suara.com - Hong Kong untuk pertama kalinya dalam satu dekade menggeser Singapura sebagai sumber investasi asing terbesar ke Indonesia pada kuartal II 2026.
Pergeseran itu terjadi seiring meningkatnya investasi yang masuk melalui Hong Kong, yang sebagian besar berasal dari investor asal China.
Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengatakan, realisasi investasi dari Hong Kong pada kuartal II 2026 mencapai 5,5 miliar dolar AS. Nilai tersebut melampaui Singapura yang mencatatkan investasi sebesar 4,2 miliar dolar AS.
"Nah, ini yang saya sampaikan. Ternyata dalam kuartal kedua ini, untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, China investasinya lebih agresif melalui Hong Kong," kata Rosan kepada wartawan, Kamis (17/7/2026).
Menurutnya, tempat pertama dari investasi di kuartal kedua ini ditempati oleh Hong Kong dengan 5,5 miliar, Singapura 4,2 miliar, Tiongkok 1,7 miliar, Jepang 0,9 miliar, dan Malaysia 0,7 miliar.
Meski demikian, Rosan menjelaskan, posisi Singapura sebagai investor terbesar masih bertahan jika dihitung secara kumulatif pada semester I 2026.

Sepanjang Januari-Juni 2026, investasi dari Singapura mencapai 8,8 miliar dolar AS, disusul Hong Kong sebesar 7,8 miliar dolar AS, Tiongkok 3,9 miliar dolar AS, Jepang 1,9 miliar dolar AS, dan Amerika Serikat 1,7 miliar dolar AS.
Menjawab pertanyaan wartawan, Rosan menjelaskan, pencatatan asal investasi dilakukan berdasarkan negara tempat investasi tersebut masuk ke Indonesia, bukan berdasarkan asal modal akhir (ultimate beneficial owner).
Menurut dia, sebagian besar investasi yang tercatat berasal dari Hong Kong sejatinya merupakan modal dari perusahaan asal China.
"Kalau yang dari Hong Kong ini, memang sebetulnya asal-asalnya kebanyakan memang dari China. Tetapi, misalnya seperti Singapura, walaupun kita catat sebagai dari Singapura, tapi itu belum tentu dari Singapura. Kita catat dari Malaysia, karena masuknya dari Malaysia, belum tentu dari Malaysia," ujarnya.
Ia menambahkan, investasi yang masuk melalui Hong Kong masih didominasi sektor hilirisasi, terutama industri yang berkaitan dengan mineral.
"Industrinya memang yang di Hong Kong itu masih banyak berinvestasi di bidang hilirisasi yang berhubungan dengan mineral," kata Rosan.