- Menteri PPPA Arifah Fauzi menyoroti minimnya kedekatan komunikasi antara orang tua dan anak saat peringatan Hari Anak Nasional.
- Survei Forum Anak Jawa Tengah menunjukkan bahwa 80 persen anak lebih memilih mencurahkan masalahnya kepada teman daripada orang tua.
- Arifah mengajak masyarakat meningkatkan perlindungan serta membangun komunikasi keluarga agar rumah menjadi tempat yang aman bagi anak.
Suara.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyoroti masih minimnya kedekatan komunikasi antara anak dan orang tua. Menurutnya, kondisi tersebut terlihat dari hasil survei yang menunjukkan sebagian besar anak lebih memilih mencurahkan masalah kepada teman dibandingkan kepada orang tuanya.
Hal itu disampaikan Arifah dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Ia menegaskan perlindungan dan pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
"Kami melihat di sini bahwa dalam rangka Hari Anak ini kita ingin menumbuhkan, membangun kembali kesadaran dari seluruh elemen masyarakat bahwa kita punya tanggung jawab bersama untuk pemenuhan hak anak dan melakukan perlindungan terhadap anak. Sehingga anak ini butuh untuk didengar," kata Arifah dalam konferensi pers Hari Anak Nasional di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Arifah mengungkapkan, Forum Anak Jawa Tengah pernah melakukan survei terhadap anak-anak seusia mereka. Dalam waktu 10 hari, survei tersebut diikuti sekitar 20 ribu anak di Jawa Tengah.
Salah satu hasil yang paling menjadi perhatian adalah ketika responden ditanya mengenai tempat mereka mencurahkan masalah.
"Ada satu pertanyaan yang sangat menggelitik ketika mereka ada satu pertanyaan begini, kalau kalian ada masalah, curhatnya ke siapa? 20% mereka curhatnya kepada orang tua, 80% mereka curhatnya kepada teman," ujarnya.
Menurut Arifah, kondisi tersebut patut menjadi refleksi bersama. Sebab, anak belum tentu mendapatkan solusi yang tepat ketika hanya mengandalkan teman sebaya sebagai tempat bercerita.
Ia pun mempertanyakan mengapa hanya sebagian kecil anak yang merasa nyaman menjadikan orang tua sebagai tempat berbagi persoalan.
"Ketika hanya 20% mereka curhat kepada orang tua, ada pertanyaan besar di hati saya, ada apa dengan keluarga mereka, ada apa dengan rumah mereka sehingga mereka tidak bisa curhat atau tidak punya waktu kesempatan untuk curhat kepada orang tuanya? Sehingga dia curhat kepada temannya. Nah ini yang mungkin menjadi perhatian kita bersama," pinta Arifah.
Ia berharap momentum Hari Anak Nasional dapat menjadi pengingat bagi para orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih hangat dengan anak, sehingga rumah kembali menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk didengar dan mendapatkan dukungan saat menghadapi persoalan.