-
Kelompok Houthi menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di perairan Laut Merah.
-
Serangan proyektil memicu kebakaran pada kapal, namun seluruh awak dilaporkan selamat.
-
Aksi ini merupakan balasan atas penutupan akses Bandara Sanaa oleh pemerintah Yaman.
Milisi yang menguasai Sanaa sejak 2014 itu menuding Riyadh telah mengisolasi wilayah mereka selama lebih dari sedekade. Mereka mengklaim pembatasan darat, laut, dan udara telah merampas sumber daya serta menyengsarakan masyarakat.
“Orang-orang Saudi merasa bahwa mereka dapat memicu pemberontakan rakyat melawan Houthi dengan menggunakan metode pencekikan ekonomi ini,” kata Hussain al-Bukhaiti.
Riyadh membantah tuduhan penutupan akses dan menyebut Houthi pernah menolak tawaran pembukaan rute penerbangan baru dari Yordania. Namun, kubu Houthi tetap menjadikan pembebasan blokade pelabuhan dan bandara sebagai syarat utama penhentian serangan.
“Tujuan akhir dari blokade laut Ansar Allah terhadap Saudi adalah untuk memaksa Riyadh mencabut embargonya terhadap pelabuhan dan bandara yang dikuasai Houthi,” kata al-Bukhaiti.
Eskalasi ini memperparah ketegangan rute maritim di tengah gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat konflik kawasan. Arab Saudi sebelumnya mengalihkan rute ekspor minyak melalui Laut Merah untuk mengamankan distribusi energi dunia.
Kawasan Selat Bab al-Mandeb sendiri merupakan jalur krusial yang menyalurkan sekitar 5 persen pasokan minyak dunia setiap tahunnya. Dengan gangguan simultan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb, seperempat pasokan energi global kini berada dalam risiko penghentian total.
“Orang-orang yang mempertanyakan apakah Houthi dapat berhasil melakukan blokade terhadap Saudi harus mengingat, betapa berhasilnya Houthi menutup akses ke Laut Merah bagi pelabuhan-pelabuhan Israel, yang pada kenyataannya mengakibatkan penutupan pelabuhan Eilat di Israel selatan,” kata al-Bukhaiti.
“Pada akhirnya orang-orang Amerika harus membuat kesepakatan dengan Houthi, dengan mediasi dari Oman,” kata al-Bukhaiti.