-
Pentagon menghapus empat prajurit gugur perang Iran dari daftar resmi korban perang utama.
-
Data korban dipindahkan ke kategori baru bernama Operasi Luar Negeri bersama 207 prajurit luka.
-
Pejabat militer AS semakin tertutup dan tidak menggelar konferensi pers sejak awal Mei.
Suara.com - Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengubah status empat prajurit yang gugur dalam konflik versus Iran dari daftar resmi korban perang.
Langkah kontroversial ini memicu sorotan tajam terkait transparansi data militer di tengah memanasnya pertempuran kedua negara.
Sistem Analisis Korban Pertahanan AS secara mendadak mengeliminasi 4 nama tentara tewas serta puluhan personel luka-luka dari catatan utama.

Perubahan drastis ini menandai pergeseran penanganan data korban jiwa yang sebelumnya diakses secara terbuka oleh publik.
Padahal, basis data tersebut selama ini menjadi rujukan utama informasi korban pertempuran bagi media internasional.
Kini, riwayat prajurit yang gugur dialihkan ke dalam label baru bernama "Operasi Luar Negeri".
Kategori anyar tersebut memuat empat nama tentara tewas beserta 207 personel militer yang mengalami luka-luka.
Meski demikian, belum ada kepastian resmi apakah seluruh cedera tersebut murni akibat gempuran langsung perang Iran.
"Penurunan angka korban yang dipublikasikan disebabkan oleh anomali dan gangguan data sementara yang bakal ditangani dalam waktu dekat," kata Juru Bicara Pentagon, Joel Valdez, dikutip dari Al Jazeera, Senin (27/7/2026)
Pernyataan resmi tersebut disampaikan untuk meredam polemik penanganan data di internal Departemen Pertahanan.
Pengubahan kategori data ini terjadi bertepatan dengan meningkatnya kritik publik atas minimnya keterbukaan informasi strategi perang.
Para pejabat militer AS dinilai makin tertutup dalam membeberkan rincian operasi militer sejak bentrokan kembali memuncak.
Departemen Pertahanan tercatat tidak lagi menggelar konferensi pers resmi membahas perang Iran sejak awal Mei lalu.
Selain itu, Komando Pusat AS secara sepihak menghentikan pengiriman laporan rutin korban perang kepada awak media.
Langkah isolasi informasi ini semakin memperkuat kecurigaan publik terhadap rekayasa narasi perang oleh pemerintah.
Saling serang antara pasukan militer Amerika Serikat dan Iran terus memicu jatuhnya korban dari kedua belah pihak.
Keterbukaan data korban menjadi isu sensitif bagi pemerintah AS guna menjaga stabilitas politik serta dukungan publik dalam negeri.