-
Katy Perry mengecam penggunaan lagu Firework dalam video serangan udara AS ke Iran.
-
Banyak musisi papan atas dunia menolak karya musik mereka dijadikan propaganda politik Trump.
-
Konflik antara Donald Trump dan para bintang pop AS terus memanas di media sosial.
Suara.com - Katy Perry mengecam keras langkah pemerintah Donald Trump yang mencatut lagu hit miliknya, Firework, dalam konten propaganda serangan udara Amerika Serikat ke Iran.
Pelantun lagu pop tersebut merangsek memberikan perlawanan tajam usai karyanya dipasang untuk melatari dentuman bom di media sosial resmi Gedung Putih.
Gedung Putih mengunggah video TikTok berdurasi singkat yang menampilkan ledakan bom berlatar lirik lagu Firework, lengkap dengan teks ancaman bagi Iran.
![Serangan AS ke Pulau Kharg kini berisiko 'membunuh diri'. Pakar mengungkapkan strategi baru Iran yang bisa menghancurkan ekonomi dan militer Washington lewat serangan balasan. [Dok. X/@DropSiteNews]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/16/62732-serangan-as-ke-pulau-kharg.jpg)
Katy Perry tidak tinggal diam dan langsung meluapkan kemarahannya atas pemanfaatan karya musiknya tanpa izin untuk aksi kekerasan.
“Saya tidak menyetujui ini, saya tidak diminta izin, dan saya sama sekali tidak membenarkannya. Saya menulis lagu ini untuk menjadi lagu kebangsaan tentang harapan, penyembuhan, dan kekuatan batin bagi orang-orang yang melalui masa-masa tergelap mereka," tegas Katy Perry melalui akun X resminya.
“Melihat pesan tentang harga diri dan semangat dijadikan senjata untuk mengisi latar kehancuran dan kekerasan adalah pelanggaran mutlak terhadap semua nilai yang diusung lagu saya. Musik saya adalah untuk menyatukan orang-orang, bukan merayakan peperangan," lanjut Perry.

Pihak pemerintah AS melalui staf Gedung Putih, Kaelan Dorr, merespons kecaman tersebut secara sinis dengan menyindir video musik lama Katy Perry.
“Apakah ini dirimu?" tulis Kaelan Dorr seraya membagikan klip Part of Me yang menampilkan Katy Perry berbalut seragam tempur militer.
Sikap keras kekasih mantan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau ini menambah panjang daftar musisi papan atas yang menentang penggunaan karya mereka oleh rezim Trump.
Sebelum aksi protes Katy Perry, penyanyi Kesha lebih dahulu meluapkan amarahnya saat lagu Blow dipakai melatari video aksi militer pemerintah pada Maret lalu.
“Berdentilah menggunakan musikku, orang-orang mesum," cetus Kesha tanpa kompromi melalui akun media sosial pribadinya.
Langkah serupa diambil Olivia Rodrigo yang geram lantaran tembang All-American Bitch dipakai untuk mengancam imigran dengan deportasi.
“Jangan pernah gunakan lagu-laguku untuk mempromosikan propaganda rasis dan penuh kebencianmu," kecam penyanyi keturunan Filipina-Amerika tersebut hingga pihak berwenang menghapus audio lagunya.
Penyanyi Sabrina Carpenter turut menyuarakan ketidaksenangannya saat lagu Juno dijadikan latar belakang video penangkapan imigran oleh otoritas AS.
“Jangan pernah libatkan saya atau musik saya untuk menguntungkan agenda tidak manusiawi Anda," kecam Sabrina Carpenter yang menilai langkah pemerintah sangat tidak manusiawi.