- Kementerian Kelautan dan Perikanan menandatangani LoI dengan Rubicon Carbon pada Hari Mangrove Sedunia untuk proyek karbon biru di pesisir utara Jawa.
- Pemerintah menargetkan restorasi mangrove seluas 50.000 hingga 70.000 hektare guna menghadapi perubahan iklim serta mendukung komitmen iklim nasional.
- Kemitraan strategis ini dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi dan ekologi bagi 1,4 juta masyarakat di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa.
Suara.com - Indonesia memiliki hutan mangrove terbesar di dunia, membentang seluas sekitar 3,44 juta hektare atau hampir seperlima dari total mangrove global. Namun, di balik besarnya potensi itu, sekitar 38 persen kawasan mangrove diperkirakan telah mengalami degradasi.
Kondisi tersebut membuat upaya restorasi tidak lagi dipandang semata sebagai agenda konservasi, tetapi juga bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim sekaligus membangun ekonomi pesisir.
Momentum Hari Mangrove Sedunia tahun ini dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat arah tersebut. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan perusahaan pengembang pasar karbon internasional, Rubicon Carbon, untuk menjajaki proyek karbon biru berintegritas tinggi di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa.
Kerja sama ini menjadi salah satu langkah pemerintah menghubungkan perlindungan ekosistem pesisir dengan pembiayaan iklim. Sebelumnya, KKP juga meluncurkan Roadmap dan Action Guide Ekosistem Karbon Biru Indonesia pada COP30 di Belém, sekaligus menegaskan bahwa sektor kelautan dan perikanan akan menjadi bagian dari komitmen iklim nasional melalui Nationally Determined Contribution (NDC).

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan pemerintah menargetkan restorasi sekaligus penguatan ekosistem mangrove di pesisir utara Jawa dengan potensi cakupan sekitar 50.000 hingga 70.000 hektare.
"Indonesia berkomitmen mengoptimalkan potensi ekonomi karbon biru sekaligus memastikan masyarakat pesisir tetap menjadi pusat dari pengembangannya," kata Trenggono.
Menurut KKP, pesisir Jawa Tengah dipilih karena memiliki kawasan mangrove yang luas, kebutuhan rehabilitasi yang tinggi, serta dukungan infrastruktur dan pemerintah daerah. Wilayah tersebut juga dinilai memiliki peluang pengembangan pasar karbon karena keberadaan kawasan industri dan sektor minyak serta gas yang membutuhkan skema pengimbangan emisi.
Rubicon Carbon akan bekerja sama dengan KKP untuk mengembangkan proyek yang memenuhi standar internasional. Perusahaan tersebut menilai Indonesia memiliki kombinasi antara kebijakan yang semakin matang, ekosistem mangrove yang luas, serta keterlibatan masyarakat yang menjadi modal penting dalam pengembangan karbon biru.
Head of Asia Rubicon Carbon, Flora Ji, mengatakan keberhasilan proyek karbon biru bergantung pada keseimbangan antara manfaat lingkungan dan manfaat sosial bagi masyarakat pesisir.
Sementara itu, Chief Market Relations Officer Rubicon Carbon Filipe Blackwood Oliveira menyebut kemitraan ini dirancang agar manfaat ekonomi maupun ekologinya dapat dirasakan sekitar 1,4 juta masyarakat yang tinggal di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa.
Di sisi lain, pemerintah menilai keberhasilan restorasi mangrove tidak cukup hanya bergantung pada investasi. Perlindungan kawasan, keterlibatan masyarakat lokal, serta tata kelola yang transparan menjadi faktor yang akan menentukan apakah mangrove benar-benar dapat berfungsi sebagai penyerap karbon sekaligus penyangga kehidupan masyarakat pesisir dalam jangka panjang.