-
Kebakaran hutan ekstrem melahap wilayah Prancis dan Spanyol hingga memaksa 330.000 orang mengungsi.
-
Presiden Emmanuel Macron menyebut bencana kebakaran hutan ini sebagai yang terburuk sejak Perang Dunia II.
-
Gelombang panas ekstrem memicu kebakaran hebat yang memperparah krisis iklim di kawasan Eropa Selatan.
Suara.com - Kebakaran hutan dahsyat melahap wilayah barat daya Prancis dan meluas hingga 4 kali luas Kota Paris.
Krisis kebakaran terburuk sejak Perang Dunia II ini telah memaksa lebih dari 220.000 warga meninggalkan rumah mereka.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak seluruh tim pemadam kebakaran untuk tetap bertahan di tengah situasi yang makin kritis.
![Presiden Prancis Emmanuel Macron (kiri) didampingi Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Komarudin (keempat kanan) berswafoto bersama pelajar setibanya di UNJ, Jakarta, Rabu (28/5/2025). [ANTARA FOTO/Fauzan/rwa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/05/29/97741-kunjungan-presiden-prancis-ke-indonesia-emmanuel-macron-universitas-negeri-jakarta-unj.jpg)
“Kita menghadapi kebakaran yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Macron saat meninjau pusat koordinasi pemadaman kebakaran dikutip dari Anadolu, Selasa (28/7/2026).
Ancaman kobaran api kini mengintai Kota Bordeaux yang dikenal sebagai pusat industri anggur terkemuka.
Pasukan pemadam berusaha keras menahan laju api sebelum suhu udara melonjak tinggi pada pekan ini.
Petugas pemadam kebakaran bertaruh dengan waktu di tengah ancaman gelombang panas susulan.
Macron memperingatkan bahwa pertempuran melawan si jago merah akan berlangsung lama dan sangat berat.
“Minggu-minggu ke depan akan sulit. Kita harus tetap teguh,” tegas Macron kepada para petugas di lapangan.
Pemerintah daerah Gironde melarang aktivitas liburan musim panas demi mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.
Alat berat dikerahkan untuk memotong area hutan guna memutus jalur penyebaran api.
Para petani lokal turut membantu menyediakan pasokan air menggunakan tangki pribadi mereka.
Kebakaran yang sangat ganas ini menghasilkan badai listrik yang memicu titik api baru di berbagai tempat.
Petugas pemadam berhasil menahan laju api sekitar 15 kilometer dari pinggiran Kota Bordeaux.
“24 jam terakhir berjalan dengan baik, berkat kerja Anda,” ujar Macron menyampaikan apresiasinya.
“Tidak diragukan lagi, hari esok akan lebih rumit dari hari ini,” lanjut Macron mengingatkan bahaya susulan.
Kondisi serupa dialami Spanyol yang mencatatkan rekor kebakaran hutan terbesar sepanjang sejarah negara tersebut.
Lebih dari 330.000 warga di Prancis dan Spanyol terpaksa mengungsi akibat kobaran api yang tak terkendali.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menegaskan bahwa bencana ini merupakan dampak langsung dari darurat iklim global.
"Apa yang kita alami bukanlah serangkaian insiden yang terpisah. Ini adalah konsekuensi dari darurat iklim yang membuat kebakaran hutan semakin ganas dan gelombang panas semakin sering terjadi," tegas Sánchez.
Kebakaran di wilayah Ávila Spanyol telah menghanguskan lahan seluas 500 kilometer persegi.
Warga lokal merasa marah dan tidak berdaya menyaksikan rumah serta lingkungan mereka hancur terbakar.
“Lihat bagaimana lembahnya terbakar. Lihat rumah-rumahnya, orang-orangnya,” ungkap David Gonzalez seorang tukang kebun setempat.
“Kami merasakan banyak kemarahan dan ketidakberdayaan. Ini sesuatu yang tidak manusiawi,” tambah Gonzalez dengan penuh emosi.
Suhu udara di Spanyol diproyeksikan melonjak melebihi 40 derajat Celsius pada pekan ini.
Sementara itu, wilayah Puglia di Italia selatan juga diserang kebakaran hutan yang memaksa ratusan wisatawan dievakuasi lewat jalur laut.
Bencana kebakaran hutan hebat yang melanda negara-negara Eropa Selatan seperti Prancis, Spanyol, dan Italia dipicu oleh gelombang panas ekstrem yang datang lebih awal dan berulang kali sepanjang tahun.
Hutan serta semak belukar yang mengering akibat kekeringan panjang mengubah kawasan vegetasi menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.
Fenomena iklim yang kian ganas ini membuktikan intensifikasi krisis iklim global yang memerlukan penanganan darurat dan aksi nyata antarnegara secara masif.