-
Pemadaman listrik pascagempa Kumamoto memaksa rumah sakit segera merujuk pasien ke fasilitas lain.
-
Suhu udara mencapai 32,7 derajat Celsius memicu gejala heatstroke pada beberapa pasien lansia.
-
Pemerintah Jepang mengerahkan 3.600 personel militer untuk membantu penanganan darurat dan evakuasi korban.
Suara.com - Rumah sakit di Prefektur Kumamoto kewalahan menanggulangi krisis listrik pasca gempa bumi saat suhu udara terus melonjak. Pengelola fasilitas medis terpaksa berpacu dengan waktu untuk memindahkan para pasien ke tempat yang lebih aman.
Kondisi darurat ini membuat operasional perawatan darurat di area terdampak menyerupai penanganan medis di wilayah konflik. Pihak manajemen fasilitas kesehatan juga menghadapi kendala besar dalam menemukan tempat rujukan yang siap menampung.
“Rumah sakit ini sudah seperti rumah sakit di zona perang,” kata salah satu manajer di Rumah Sakit Kumamoto Minami.

“Kami sedang mencari rumah sakit penerima, tetapi kami tidak tahu apakah kami akan benar-benar dapat menemukannya,” ujar manajer tersebut.
Fasilitas kesehatan khusus lansia seperti Sakurajyuji Kumamoto Uki Hospital kesulitan mengoperasikan pendingin ruangan akibat terputusnya aliran daya. Suhu udara di wilayah tersebut diproyeksikan menembus angka 32,7 derajat Celsius pada hari Rabu.
Sejumlah pasien di rumah sakit tersebut mulai menunjukkan gejala yang mengarah pada serangan gelombang panas atau heatstroke. Gangguan kesehatan ini memperburuk risiko keselamatan para pasien yang mayoritas berusia lanjut.
Kerusakan infrastruktur publik juga melumpuhkan aktivitas warga dan jaringan transportasi di seluruh kawasan Kumamoto. Bangunan pusat perbelanjaan Aeon Mall runtuh sebagian dan menelan korban jiwa serta puluhan pekerja yang hilang.
Sembilan pekerja di pabrik kertas Nippon di Kota Yatsushiro dilaporkan belum ditemukan usai area pabrik mengalami kerusakan parah. Selain itu, sebuah jembatan jalan raya utama tampak melengkung dan tidak bisa dilalui kendaraan.
Layanan kereta api terhenti total dan seluruh jadwal penerbangan di Bandara Kumamoto dibatalkan sejak Selasa. Lebih dari 46.000 rumah tangga kehilangan pasokan listrik, sementara ratusan fasilitas umum dialihfungsikan menjadi tempat pengungsian.
Bencana ini dipicu oleh gempa bumi dangkal berkedalaman 10 kilometer yang mengguncang Kumamoto pada Selasa pukul 16.27 waktu setempat. Badan Survei Geologi Amerika Serikat mencatat setidaknya ada enam kali gempa susulan tanpa potensi tsunami.
Perdana Menteri Sanae Takaichi mengonfirmasi sedikitnya 13 orang tewas, sementara jumlah korban luka dan hilang masih terus didata. Pemerintah Jepang mengerahkan 3.600 personel militer bersama tim SAR untuk mempercepat proses evakuasi.
"Orang-orang masih menunggu bantuan, dan setiap detik sangat berarti," ujar Takaichi.