- Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang menyatakan Indonesia dan ASEAN secara konsisten mendorong perdamaian serta denuklirisasi melalui forum ARF pada Juli 2026.
- Kim Yo Jong mengecam seruan denuklirisasi ASEAN dalam forum ARF dan menuding negara anggota bertindak sebagai corong kepentingan Amerika Serikat.
- Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membela kepemilikan senjata nuklir Korea Utara dalam pertemuan keamanan regional di Filipina.
Suara.com - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang buka suara menanggapi peringatan keras Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, terhadap seruan forum ASEAN soal denuklirisasi.
Kecaman Kim Yo Jung kepada Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara tersebut sebagai respons langsung pada pernyataan yang dikeluarkan oleh ketua ASEAN Regional Forum (ARF).
Yvonne menyampaikan pernyataan ASEAN melalui kerangka ASEAN Regional Forum (ARF) mencerminkan sentralitas ASEAN dengan posisi yang konsisten.
Indonesia bersama negara-negara ASEAN, kata Yvonne, secara berkelanjutan memajukan perdamaian dan stabilitas di kawasan, melalui penghormatan terhadap hukum internasional, dialog, dan penyelesaian sengketa secara damai.
"Indonesia secara konsisten menolak proliferasi maupun kepemilikan senjata nuklir dan mendorong perlucutan senjata nuklir secara efektif dan menyeluruh. Pada saat yang sama, Indonesia menghormati hak setiap negara untuk mengembangkan dan memanfaatkan energi serta teknologi nuklir untuk tujuan damai sesuai dengan kewajiban internasional yang berlaku," tutur Yvonne kepada Suara.com, Rabu (29/7/2026).
Yvonne mengatakan, ARF merupakan satu-satunya forum di kawasan yang inklusif mewakili 26 negara termasuk Korea Utara, Korea Selatan, AS, RRT, Rusia, hingga Papua Nugini dan Uni Eropa.
Ia berujar sebagai arsitektur keamanan kawasan utama, ARF efektif dalam memajukan dialog dan diplomasi serta berbagai inisiatif konkrit meningkatkan mutual-trust and confidence.
"Indonesia mendorong agar seluruh Partisipan ARF, termasuk Korea Utara (sejak 2000), terus memanfaatkan engagement dalam kerangka ARF sesuai prinsip-prinsip yang sejalan dengan visi ARF dan juga semangat revitalisasi, yaitu inklusif, konstruktif, dan ASEAN-led," kata Yvonne.
Peringatan Keras Korea Utara
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, memberikan peringatan keras kepada Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya agar tidak menjadi antek-antek asing, terutama menjadi 'corong' kepentingan Amerika Serikat.
Dikutip dari NK News, Selasa (28/7/2026), Kim Yo Jong melontarkan kedcaman tersebut setelah forum ASEAN terbaru menerbitkan seruan denuklirisasi.
Pernyataan keras ini muncul hanya beberapa hari setelah Rusia secara terbuka membela kepemilikan senjata nuklir Republik Rakyat Demokratik Korea, dalam sebuah pertemuan keamanan regional di Filipina.
Reaksi Kim Yo Jong ini menandakan Pyongyang tidak memiliki niat sedikit pun untuk melunakkan sikap militeristiknya, meskipun mendapat tekanan diplomatik dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Pernyataan Kim, yang disiarkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), merujuk langsung pada pernyataan yang dikeluarkan oleh ketua ASEAN Regional Forum (ARF).
Forum tersebut mempertemukan para diplomat utama dari negara-negara anggota dan mitra wicara pekan lalu untuk membahas stabilitas kawasan.
Sekretaris Luar Negeri Filipina, Theresa P Lazaro, yang memimpin acara tersebut, menyampaikan dalam pernyataan resminya mengenai "keprihatinan mendalam atas pengembangan senjata nuklir dan program rudal balistik RRDK yang terus berlanjut" yang dianggap melanggar sanksi PBB
Dalam dokumen tersebut, Lazaro menggarisbawahi bahwa ambisi nuklir Korea Utara merupakan "perkembangan mengkhawatirkan yang mengancam perdamaian dan stabilitas di kawasan."
Lebih lanjut, Lazaro menyatakan negara-negara anggota mendesak untuk "melanjutkan dialog damai di antara semua pihak yang berkepentingan demi mewujudkan perdamaian dan stabilitas abadi di Semenanjung Korea yang terdenuklirisasi."

Kim Yo Jong tidak menahan diri dalam menanggapi seruan tersebut. Ia secara terbuka menyatakan "ketidakpuasannya terhadap sikap bermusuhan forum tersebut yang secara terang-terangan sejalan dengan gembar-gembor AS tentang 'denuklirisasi'."
Menurut Kim, tuntutan tersebut bertentangan dengan konstitusi RRDK yang telah menetapkan status negara itu sebagai negara bersenjata nuklir
Kim menggambarkan forum ASEAN tersebut sebagai "corong bayaran untuk AS." Ia menekankan bahwa kepatuhan terus-menerus terhadap tujuan denuklirisasi hanyalah "mimpi liar yang bodoh dan konyol" yang kini telah kehilangan semua maknanya di mata Pyongyang.
"Teguh dan jelas adalah pendirian RRDK, bahwa penjera nuklir adalah perisai pamungkas bagi kedaulatan nasional dan jaminan tertinggi untuk membela kedaulatan," tegas Kim Yo Jong.
Ia juga menambahkan, Pyongyang akan terus memperluas kemampuan nuklirnya "tanpa penundaan."
Dukungan Rusia dan Eskalasi Global
Pernyataan Kim Yo Jong ini muncul di saat yang krusial, bertepatan dengan peringatan ke-73 tahun kemenangan Korea Utara dalam Perang Korea 1950-1953, sebuah peristiwa yang dirayakan secara besar-besaran di Pyongyang dan dihadiri langsung oleh Kim Jong Un.
Namun, yang paling menarik perhatian pengamat politik internasional adalah dukungan yang diberikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.
Di sela-sela pertemuan ASEAN, Lavrov membela upaya Korea Utara untuk memperluas persenjataan militer dan nuklirnya.
Lavrov berargumen, Pyongyang tidak melihat alternatif lain selain mengandalkan senjata nuklir untuk mempertahankan kedaulatannya dari apa yang mereka persepsikan sebagai ancaman Barat.
Kehadiran Rusia sebagai pembela Korea Utara di panggung ASEAN menunjukkan pergeseran geopolitik yang signifikan, di mana Moskow dan Pyongyang semakin mempererat aliansi strategis mereka di tengah isolasi internasional yang dialami kedua negara.
Di sisi lain, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang tetap solid pada posisi mereka. Para menteri luar negeri ketiga negara tersebut menegaskan kembali komitmen mereka untuk mencapai denuklirisasi total di Semenanjung Korea.
Mereka memandang bahwa senjata nuklir Korut adalah ancaman eksistensial bagi keamanan global.
Menariknya, situasi di internal Korea Selatan sendiri sempat menunjukkan sinyal yang beragam.
Menteri Unifikasi Korea Selatan, Chung Dong-young, sempat menyatakan Seoul mungkin tidak lagi mengejar denuklirisasi Korea Utara sebagai tujuan segera
Sebaliknya, ia menyarankan prioritas pada strategi "perdamaian didahulukan" yang berpusat pada pembicaraan pengendalian senjata.
Namun, sikap ini tampak kontras dengan pernyataan bersama trilateral yang dikeluarkan bersama AS dan Jepang.
Korea Utara sendiri menunjukkan ketertarikan yang semakin menurun terhadap mekanisme diplomasi regional.
Meskipun sempat mengirim perwakilan ke ASEAN Regional Forum pada tahun 2024, mereka telah melewatkan pertemuan-pertemuan setelahnya, lebih memilih komunikasi langsung melalui retorika keras atau hubungan bilateral dengan negara-negara sekutu kuat seperti Rusia dan China.
Dengan penegasan terbaru dari Kim Yo Jong ini, harapan untuk menghidupkan kembali dialog denuklirisasi dalam waktu dekat tampaknya semakin tipis.
Pyongyang justru terlihat semakin percaya diri dengan status nuklirnya, terutama dengan adanya dukungan diplomatik dari kekuatan besar seperti Rusia yang bersedia menantang narasi dominan Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik.