- Kim Yo Jong mengkritik seruan denuklirisasi ASEAN terhadap Korea Utara dalam forum regional pekan lalu.
- Pemerintah Korea Utara menegaskan bahwa program senjata nuklir mereka bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar.
- Pernyataan keras tersebut semakin memperlebar jurang diplomasi antara Korea Utara dan komunitas internasional.
Suara.com - Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah adik pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, melontarkan kritik keras terhadap negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Kim Yo Jong menyebut seruan denuklirisasi Semenanjung Korea sebagai sikap bodoh dan konyol.
Pernyataan itu muncul setelah ASEAN dalam forum regional pekan lalu menyuarakan keprihatinan serius atas program nuklir Korea Utara.
Blok Asia Tenggara tersebut juga menekankan pentingnya dialog demi menciptakan perdamaian dan stabilitas kawasan.
![Momen tak biasa terjadi saat pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un menemui pemain sepak bola putri dari klub Naegohyang Women’s FC usai meraih gelar juara Liga Champions Wanita Asia. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/04/60121-kim-jong-un.jpg)
Kim Yo Jong menilai sikap ASEAN sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat.
Ia bahkan menuduh ASEAN bertindak layaknya corong Washington dalam isu denuklirisasi.
“Ini adalah kegagalan dalam berpikir strategis dan logika, serta manifestasi dari mimpi liar yang bodoh dan konyol,” ujar Kim Yo Jong dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah KCNA.
Korea Utara sendiri telah lama menegaskan haknya untuk memiliki senjata nuklir dan program rudal balistik. Status sebagai negara nuklir bahkan telah dimasukkan dalam konstitusi mereka sejak 2023.
Dalam pernyataannya, Kim Yo Jong juga menegaskan bahwa program nuklir negaranya tidak bisa ditawar.
Ia menyebutnya sebagai garis tanpa jalan mundur”.
Sikap keras Pyongyang ini bertolak belakang dengan dorongan internasional, termasuk dari ASEAN, yang menginginkan denuklirisasi total.
Upaya tersebut juga didukung oleh sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara.
Ketegangan ini memperlihatkan semakin lebarnya jurang antara Korea Utara dan komunitas internasional.
Upaya diplomasi yang sempat mencuat setelah pertemuan Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump pada 2019 kini tampak semakin menjauh.