- Dalam Jatim Media Summit 2026, para pemangku kepentingan sepakat bahwa industri media nasional wajib melakukan transformasi beyond media.
- Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono menyatakan bahwa penurunan trafik hingga 46 persen memaksa media meninggalkan model bisnis lama.
- CEO KEK Singhasari David Santoso menegaskan kawasan tersebut siap mendukung transformasi media melalui kolaborasi pendidikan dan investasi internasional.
Suara.com - Disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan merosotnya bisnis periklanan digital menjadi alarm keras bagi industri media nasional. Dalam Jatim Media Summit (JMS) 2026, Kamis 30 Juli 2026, para pemangku kepentingan sepakat media tidak lagi bisa bergantung pada model bisnis lama yang hanya mengandalkan trafik dan iklan digital.
Sesi perdana JMS 2026 bertajuk "Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Transformasi Beyond Media Jawa Timur" menghadirkan Ketua Harian Indonesian Creative Cities Network (ICCN) Vicky Arief Herinadharma, Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono, serta CEO KEK Singhasari David Santoso.
Ketiganya menegaskan bahwa transformasi industri media bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar media tetap hidup di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.
Ketua Harian ICCN Vicky Arief Herinadharma mengatakan Jawa Timur memiliki momentum besar setelah ditetapkan Bappenas sebagai provinsi prioritas pengembangan ekonomi kreatif nasional.
Menurutnya, ekonomi kreatif telah terbukti menjadi solusi untuk mengurangi pengangguran, meningkatkan investasi, memperbesar ekspor, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui kekuatan sumber daya manusia, kreativitas, dan inovasi.
"Kalau seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur memiliki navigasi pembangunan ekonomi kreatif, maka ini akan menjadi solusi nyata untuk berbagai persoalan daerah, terutama pengangguran dan investasi," ujarnya.
Ia juga menilai Jawa Timur memiliki modal besar untuk menjadi episentrum ekonomi kreatif Indonesia karena didukung KEK Singhasari sebagai kawasan ekonomi khusus pertama yang fokus pada sektor ekonomi kreatif dan teknologi.
Selain itu, hadirnya kampus internasional King's College London di KEK Singhasari dinilai memperkuat posisi Jawa Timur sebagai pusat pengembangan talenta kreatif.
Di sektor media, Vicky menilai peran media harus berubah dari sekadar penyebar informasi menjadi penggerak ekosistem ekonomi kreatif.
Ia mengusulkan pembentukan Jatim Kreatif Media Kolektif, sebuah aliansi strategis yang menghimpun ratusan media lokal di Jawa Timur agar mampu bersaing secara nasional melalui kolaborasi konten, event, layanan kreatif, integrasi data UMKM, hingga pengembangan intellectual property (IP) lokal.
"Daripada media kecil berjalan sendiri-sendiri, lebih baik berkolaborasi membangun kekuatan bersama sehingga mampu menciptakan model bisnis baru," katanya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono membeberkan kondisi industri media yang semakin berat.
Ia mengungkapkan hampir seluruh media nasional mengalami penurunan trafik yang signifikan selama satu tahun terakhir.
"Hasil pemantauan kami menunjukkan penurunan trafik media mencapai sekitar 40 hingga 46 persen dalam setahun terakhir. Hampir semua media mengalami kondisi serupa," ujarnya.
Menurut Suwarjono, situasi tersebut membuat model bisnis lama berbasis page views, Google AdSense, dan banner advertising tidak lagi mampu menopang keberlangsungan perusahaan media. Belanja iklan juga terus menurun, sementara biaya produksi jurnalisme tetap tinggi.
Karena itu, media harus segera membangun sumber pendapatan baru melalui konsep Beyond Media, yakni mengembangkan bisnis di luar aktivitas jurnalistik konvensional.