-
Kepala Polisi Seattle Shon Barnes mundur akibat lambatnya transparansi informasi penembakan festival.
-
Andre Sayles diangkat menjadi pejabat interim untuk menjaga stabilitas keamanan kota Seattle.
-
Lambatnya peringatan darurat dan kesalahan informasi menjadi pemicu utama pengunduran diri Barnes.
Suara.com - Kepala Polisi Seattle Shon Barnes resmi melepaskan jabatannya setelah diterpa kritik tajam terkait keterlambatan penanganan komunikasi publik saat tragedi penembakan festival. Wali Kota Katie Wilson mengumumkan pengunduran diri tersebut sekaligus menunjuk Wakil Kepala Polisi Andre Sayles sebagai pimpinan sementara.
Seattle adalah sebuah kota besar di negara bagian Washington, AS. Tanggung jawab Police Chief di sana berfokus pada pengamanan tingkat kotamadya (city/municipal police).
Insiden berdarah di festival Bite of Seattle tersebut menewaskan tiga orang dan melukai empat korban lainnya. Gelombang desakan publik memuncak karena pihak kepolisian membutuhkan waktu hampir lima jam hanya untuk memberikan kejelasan informasi kepada warga.
![Insiden penembakan massal terjadi hanya beberapa menit dari markas timnas Inggris di Kansas City, Amerika Serikat. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/08/89428-penembakan-massal-di-kansas.jpg)
Keputusan pengunduran diri ini mengekspos celah koordinasi darurat kota yang gagal mengaktifkan sistem peringatan dini saat krisis berlangsung. Kegagalan komunikasi tersebut berujung pada pencopotan pimpinan tertinggi kepolisian kota.
Barnes membagikan harapannya saat mengakhiri masa tugas setelah gejolak komunikasi krisis melanda jajarannya.
"Saya berharap transisi ini memberikan kesempatan bagi kota dan departemen ini untuk mengembalikan fokus penuh pada hal yang paling penting, yaitu mengatasi kekerasan senjata pemuda dan mencegah lebih banyak tragedi," kata Barnes, dikutip dari AP, Jumat (31/7/2026).
Saat insiden penembakan meletus di arena festival, Barnes sedang menghadiri konferensi penegak hukum di luar kota. Puluhan petugas di lokasi berhasil membendung jatuhnya lebih banyak korban serta menangkap pelaku berusia 15 tahun.
Kepanikan warga memuncak karena kepolisian tidak kunjung membagikan status bahaya maupun instruksi keselamatan secara cepat. Bahkan Wali Kota Katie Wilson sempat keliru menyampaikan jumlah pelaku yang ditangkap sebelum akhirnya meralat pernyataan tersebut.
Wilson mengakui kelemahan mendasar dalam alur penyampaian informasi darurat kepada masyarakat.
"Apa yang tidak saya pahami sepenuhnya pada saat itu adalah betapa sedikit informasi yang telah sampai ke publik atau media sejak insiden dimulai jam 6 sore," kata Wilson.
"Jika saya mengetahuinya, saya akan mendesak untuk segera dilakukan pengarahan, daripada menunggu konferensi pers diatur," ujar Wilson.
Pengunduran diri pejabat berkulit hitam kedua dalam sejarah kepolisian Seattle ini memicu reaksi keras dari sejumlah lembaga masyarakat. Aliansi organisasi sipil menilai penanganan masalah keamanan publik tidak semestinya dibebankan kepada satu individu semata.
Lembaga swadaya masyarakat menyuarakan pembelaan resmi melalui surat terbuka untuk mempertahankan posisi Barnes.
"Chief Barnes tidak boleh dijadikan kambing hitam atas tantangan keselamatan publik yang kompleks," tulis pernyataan resmi lembaga tersebut.
Empat dari enam anggota Dewan Kota yang mendukung stabilitas kepolisian juga menyuarakan kecemasan serupa atas pergantian pimpinan yang terlalu sering.