-
Gempa bermagnitudo 6,8 yang mengguncang Kumamoto Jepang mengakibatkan sedikitnya 34 orang tewas.
-
Posisi Jepang di Cincin Api Pasifik membuat wilayahnya rutin dihantam gempa bumi besar.
-
Evakuasi korban berjalan sulit akibat terik gelombang panas dan ancaman gempa susulan.
Guru Besar Universitas Kobe, Shoichi Yoshioka, menguraikan besarnya proporsi bahaya seismik yang dihadapi wilayahnya.

“Sekitar 10% dari gempa bumi dunia bermagnitudo 6 atau lebih tinggi terjadi di atau di sekitar Jepang, sehingga risikonya jauh lebih tinggi daripada di tempat-tempat seperti Eropa atau Amerika Serikat bagian timur, di mana gempa bumi jarang terjadi,” kata Shoichi Yoshioka.
Dampak visual dari bencana alam ini menanamkan memori kolektif yang mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Setiap kali, kita menyaksikan hilangnya nyawa yang tragis, bangunan yang hancur, dan tsunami yang menyebabkan kehancuran, meninggalkan kesan ketakutan yang abadi,” tambah Shoichi Yoshioka.
Beliau menilai trauma historis inilah yang membentuk kesiapsiagaan tinggi warga.
“Ketakutan ini kemungkinan dirasakan oleh banyak warga. Saya pikir ini berkontribusi signifikan terhadap mengapa Jepang sangat bersiap,” tutur Shoichi Yoshioka.
Tragedi yang melanda Kumamoto kali ini membangkitkan ingatan pahit warga atas gempa besar tahun 2016 silam.
Seorang warga lokal, Shoji Yonemitsu, menyampaikan rasa terkejutnya atas rentetan musibah yang terus berulang.
“Mengapa? Mengapa ini terus terjadi di sekitar kita di sini di Kumamoto?” kata Shoji Yonemitsu.
Ia membandingkan pengalaman guncangan yang dirasakannya antara bencana masa lalu dan kejadian terkini.
“Guncangan saat itu berada pada tingkat yang sama sekali berbeda. Namun gempa kemarin tetap cukup menakutkan,” ujar Shoji Yonemitsu.
Ketahanan Infrastruktur dan Bayangan Megathrust
Rentetan bencana masa lalu seperti Gempa Great Kanto 1923 dan Kobe 1995 mendorong pembaharuan standar bangunan ketat sejak dekade 1980-an.
Arsitektur modern Jepang kini wajib menerapkan teknologi penahan gempa, termasuk struktur lentur dan lantai pemperedam getaran.
Meskipun sistem mitigasi dan edukasi evakuasi telah diperkenalkan sejak usia dini, risiko bencana skala kolosal tetap membayangi.
Pemerintah memprediksi adanya potensi gempa megathrust Palung Nankai bermagnitudo 8 hingga 9 dalam kurun waktu 30 tahun mendatang.
Prediksi siklus tersebut masih memicu perdebatan ilmiah di kalangan pakar geologi terkait tingkat akurasinya.
Para ahli menyarankan agar fokus utama tetap diarahkan pada penutupan celah ketimpangan mitigasi di daerah serta peningkatan kesadaran publik.