-
Iran memanfaatkan jeda gencatan senjata untuk melipatgandakan produksi rudal dan drone tempur.
-
Stok amunisi Iran diperkirakan masih tersisa mayoritas untuk menghadapi perang jangka panjang.
-
Eskalasi militer di Selat Hormuz terus mengancam keamanan jalur pelayaran kapal komersial dunia.
Suara.com - Militer Iran memanfaatkan celah kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat untuk mendongkrak kapasitas tempur dan memproduksi amunisi secara massif. Langkah percepatan ini diambil sebagai bentuk antisipasi jika proses negosiasi damai berakhir kegagalan dan pertempuran kembali meletus.
Jeda pertempuran yang berlangsung tidak disia-siakan oleh angkatan bersenjata Tehran untuk memulihkan armada tempurnya. Selain memperbaiki unit yang rusak, pasokan alutsista impor dan persenjataan rakitan lokal terus dialirkan ke garda depan.
“Kami telah memanfaatkan semaksimal mungkin peluang nota kesepahaman dan setiap momen gencatan senjata,” kata juru bicara tentara Mohammad Akraminia kepada televisi pemerintah minggu ini, merujuk pada MoU yang kini ditangguhkan yang ditandatangani dengan AS pada bulan Juni.

Peningkatan kemampuan militer ini ditandai dengan pengerjaan drone generasi paling gres yang telah diuji coba secara langsung di medan konflik. Pihak militer mengklaim pengoperasian drone anyar ini berjalan sukses dan spesifikasinya siap dipublikasikan dalam waktu dekat.
Kapasitas manufaktur persenjataan Tehran tercatat melesat tajam dibandingkan periode sebelum perang pecah. Laju perakitan pesawat tanpa awak bahkan melonjak hingga tiga kali lipat guna memperkuat armada udara mereka.
“Meskipun para komandan senior gugur, angkatan bersenjata tidak hanya tidak kehilangan kohesi mereka, tetapi juga menghadapi musuh dengan banyak kejutan melalui kecepatan, inisiatif, dan kemampuan taktis yang tinggi,” kata penjabat menteri tersebut.
Pasukan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) melaporkan bahwa akurasi lontaran rudal meningkat pesat berkat evaluasi data pertempuran lapangan. Di sisi lain, intelijen Amerika Serikat menaksir Tehran masih menyimpan mayoritas cadangan amunisi strategisnya.
Data menunjukkan Iran bertahan dengan 70 persen stok rudal serta 40 persen armada drone yang utuh. Kondisi persediaan ini dinilai lebih dari cukup untuk melayani perang asimetris berdurasi panjang di kawasan Selat Hormuz.
Serangan udara masif yang diluncurkan pihak lawan gagal melumpuhkan total sistem pertahanan udara Iran. Sejumlah drone pengintai dan tempur milik Amerika Serikat justru berhasil dijatuhkan saat menerobos ruang udara bagian selatan.
“Kami telah meningkatkan produksi dan kualitas dalam negeri. Rudal kami sebelumnya telah ditingkatkan dalam hal jangkauan dan daya hancur hulu ledak,” katanya.
Persenjataan rakitan tersebut disimpan secara aman di dalam markas bawah tanah yang tersebar di berbagai wilayah. Fasilitas tersembunyi ini secara berkala menyuplai unit tempur siap pakai ke garis depan pertempuran.
“Kami juga memiliki persediaan di kota-kota rudal dan drone bawah tanah kami, bagian-bagian barunya secara bertahap memasuki jalur operasional kami,” kata Kanani Moghaddam, seraya menambahkan bahwa ini adalah salah satu alasan mengapa Trump berulang kali membatalkan serangan yang lebih besar terhadap Iran.
Ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil yang ditiupkan Washington belum mampu menekan Tehran untuk menyerah. Pembatalan serangan secara mendadak oleh pemerintah Amerika Serikat memicu ketidakpastian keamanan di kawasan Timur Tengah.
Dampak gejolak ini menjalar hingga ke wilayah Laut Merah melalui aksi penyerangan kapal-kapal komersial. Insiden ledakan juga terdeteksi di area perbatasan Kuwait yang diduga berasal dari lintasan drone.
Laluan kapal tanker di Selat Hormuz kini berada di bawah pengawasan ketat garda militer Iran. Jalur pelayaran utara hanya dibuka bagi kapal yang telah berkoordinasi langsung dengan pihak otoritas Tehran.
“Kemampuan rudal kami telah didistribusikan di negara yang luas ini. Komponen rudal diproduksi di tempat-tempat yang bahkan tidak dapat mereka bayangkan,” kata mantan komandan IRGC tersebut.
Aksi pendudukan pulau-pulau strategis di wilayah selatan diprediksi bakal menelan biaya operasional yang sangat mahal bagi Amerika Serikat. Iran menegaskan bahwa pengerahan kekuatan militer tidak akan pernah bisa membuka kembali akses lalu lintas Selat Hormuz secara paksa.
“Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali melalui serangan militer,” katanya.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memuncak sejak eskalasi militer terbuka meletus pada 28 Februari. Konflik ini memicu pertempuran sengit yang melibatkan kekuatan udara dan laut di sepanjang kawasan strategis Selat Hormuz.
Upaya diplomasi sempat diusahakan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada bulan Juni dengan fasilitasi mediator regional seperti Oman. Namun, penangguhan MoU tersebut membuat situasi kembali memanas dan memicu kedua belah pihak meningkatkan kesiapsiagaan tempur.