-
Konflik Timur Tengah dan kenaikan avtur memicu lonjakan kerugian paruh pertama maskapai Eropa.
-
Austrian Airlines menghentikan sejumlah rute efisiensi dan menghapus jadwal menginap awak pesawat.
-
Brussels Airlines menunda penambahan armada Airbus A330 akibat penurunan profitabilitas dan mogok kerja.
Suara.com - Konflik geopolitik di Timur Tengah melumpuhkan kinerja keuangan maskapai penerbangan Eropa hingga memicu pembengkakan kerugian operasional secara drastis pada semester pertama 2026. Tekanan hebat ini memaksa maskapai mengambil tindakan ekstrem dengan memangkas rute penerbangan domestik hingga menunda rencana ekspansi armada penerbangan jarak jauh.
Kenaikan harga bahan bakar jet dan pembatalan rute strategis menjadi beban utama penerbangan komersial internasional. Situasi ekonomi makin memburuk karena penyesuaian harga tiket tidak sebanding dengan lonjakan biaya operasional maskapai.
"Konflik yang berkaitan dengan Iran sangat berdampak terhadap kami akibat lonjakan tajam biaya bahan bakar jet serta keharusan membatalkan sejumlah rute. Kenaikan harga tiket hanya mampu mengimbangi sebagian dari dampak finansial tersebut hingga Juni," kata CEO Austrian Airlines Annette Mann.
![Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/25/18701-ilustrasi-kilang-minyak-harga-minyak-dunia-minyak.jpg)
Laporan resmi mencatat kerugian operasional Austrian Airlines melonjak sebesar 50 juta euro (Rp1 triliun) menjadi total 93 juta euro (Rp1,9 triliun) pada paruh pertama 2026 akibat krisis di Timur Tengah.
Pengeluaran bahan bakar meningkat lebih dari 60 juta euro (Rp1,2 triliun) dibanding periode tahun lalu meskipun telah menggunakan strategi lindung nilai. Pembatalan penerbangan ke Amman, Erbil, Tel Aviv, dan Teheran turut menyumbang kerugian tambahan hingga puluhan juta euro.
Manajemen tetap berupaya menjaga rencana investasi jangka panjang sembari menekan pengeluaran operasional harian.
Mann menambahkan bahwa pihak maskapai telah mengambil sejumlah langkah internal untuk meminimalkan dampak ekonomi jangka pendek semaksimal mungkin, sembari tetap mempertahankan rencana investasi jangka panjang.
Efisiensi ketat dilakukan dengan menghentikan rute Wina–Graz mulai jadwal musim dingin akibat rendahnya tingkat keterisian penerbangan selama beroperasinya jalur tersebut.
Langkah rasionalisasi berlanjut dengan penangguhan rute menuju Tbilisi, Keflavik, dan Porto untuk mengurangi beban biaya maskapai. Jadwal menginap armada dan awak kapal di Klagenfurt, Kopenhagen, Warsawa, serta Krakow resmi dihapuskan dari agenda penerbangan.
Meskipun menghadapi krisis berat, pihak manajemen optimistis mampu mencatatkan kinerja keuangan positif di akhir tahun. Peningkatan efisiensi internal dan penyesuaian tarif penerbangan diharapkan menjadi penopang utama pemulihan operasional.
Sebagai bagian dari jaringan Lufthansa Group, kebijakan pemangkasan rute jarak pendek telah dijalankan sejak April lalu demi merespons melambungnya harga avtur.
Di sisi lain, Brussels Airlines melaporkan kerugian EBIT yang disesuaikan mencapai 70 juta euro (sekitar Rp1,5 triliun) untuk paruh pertama 2026.
Tiga faktor utama pendorong penurunan kinerja keuangan maskapai Belgia tersebut meliputi harga bahan bakar yang melambung, aksi mogok kerja, serta penyebaran wabah Ebola di Afrika Timur.
Penurunan profitabilitas sebesar 50 persen terjadi di tengah peningkatan jumlah penumpang dan pendapatan penerbangan. Maskapai mencatat keterangkutan 4,5 juta penumpang dalam 34.200 penerbangan atau tumbuh masing-masing 8,1 persen dan 5,5 persen.
Pembengkakan biaya bahan bakar Brussels Airlines tercatat menyentuh angka 64 juta euro (sekitar Rp1,3 triliun) imbas gejolak harga minyak dunia.