- Warga RW 08 Menteng Jaya meminta PT KAI membersihkan lahan terbengkalai.
- Permintaan pembersihan disampaikan karena usulan perubahan lahan tidur tersebut menjadi lapangan serbaguna ditolak PT KAI.
- Kondisi lahan yang dipenuhi semak belukar memicu pembuangan sampah sembarangan dan kemunculan ular.
Suara.com - Warga RW 08 Menteng Jaya, Jakarta Pusat, meminta PT Kereta Api Indonesia (KAI) segera membersihkan lahan tidur yang selama ini dibiarkan terbengkalai. Permintaan itu muncul setelah usulan menjadikan lahan tersebut sebagai lapangan serbaguna untuk kegiatan warga ditolak.
Ketua Karang Taruna RW 08 Menteng Jaya, Andicka Prasetia, mengatakan lahan yang dimaksud berada di dekat lokasi penyelenggaraan Liga Aspal. Menurutnya, area itu selama bertahun-tahun tidak dimanfaatkan dan dipenuhi rumput liar.
"Itu agak maju sedikitlah dari lapangan Liga Aspal itu, yang ada di ujung jalan, dan yang memang lahan itu tuh terbengkalai," kata Andicka yang akrab disapa Odoy kepada Suara.com, Kamis (6/8/2026).
Odoy meluruskan bahwa lapangan yang selama ini digunakan anak-anak untuk bermain bola bukan berada di atas lahan KAI, melainkan jalan umum milik Pemerintah Daerah (Pemda).
Sementara lahan tidur milik KAI hanya diusulkan warga agar dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik.
Menurut dia, warga berharap lahan tersebut bisa dialihfungsikan menjadi lapangan serbaguna sehingga dapat digunakan untuk berbagai aktivitas masyarakat.
"Daripada lahan itu kotor jadi kumuh, mending kami manfaatkan gitu. Buat main bola, terus ibu-ibu senam, terus bapak-bapak mungkin olahraga lain, gitu kan," ujarnya.
Karena usulan itu tidak disetujui, warga kini meminta KAI setidaknya merawat dan membersihkan lahan tersebut agar tidak semakin terbengkalai.
Odoy mengatakan kondisi lahan yang dipenuhi semak belukar justru memancing warga membuang sampah sembarangan.
"Jadi tidak lagi memancing masyarakat bahwa itu tempat kotor," katanya.
Selain persoalan sampah, ia juga menyoroti keberadaan ular yang beberapa kali muncul dari area tersebut. Meski ular yang terlihat berukuran kecil, warga khawatir masih ada ular yang lebih besar bersembunyi di balik rimbunnya rumput liar.
Menurutnya, kondisi itu dapat membahayakan anak-anak yang sering bermain di sekitar lokasi.
"Itu kan jadi bahaya gitu, takutnya ada ular keluar dari situ. Itu kan jadi masalah sebenarnya," ungkap Odoy.
Ia berharap KAI segera mengambil langkah konkret membersihkan lahan tersebut agar tidak menimbulkan risiko bagi warga sekitar. Menurutnya, pencegahan jauh lebih baik dibanding harus menghadapi dampak ketika sudah terjadi insiden.