Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen

Bangun Santoso, Hiskia Andika Weadcaksana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:33 WIB
Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen
Foto sebagai ilustrasi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera Selatan
baca 10 detik
  • Dosen UGM Fiqri Ardiansyah menyatakan penanganan karhutla bergantung pada komitmen politik pemerintah seperti saat Asian Games 2018 di Palembang.
  • Kerusakan alat deteksi dini dan keterbatasan jaringan sensor di wilayah terpencil menjadi kendala teknis pengawasan karhutla saat ini.
  • Kebijakan larangan pembukaan lahan menggunakan api wajib dipatuhi secara konsisten tanpa mengandalkan momentum politik atau ajang internasional.

Suara.com - Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, menilai ada persoalan yang lebih mendasar terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal itu bukan soal ketidakmampuan pemerintah tapi pada seberapa kuat kemauan politik serta komitmen pemerintah dalam menjaga konsistensi regulasi secara menyeluruh.

Bukti nyata mengenai kemampuan negara mengatasi bencana ini sebenarnya pernah terukir secara gamblang pada perhelatan Asian Games 2018 silam di Palembang, Sumatera Selatan.

"Seingat saya pun pernah cukup efektif ya (penanganan karhutla) ketika musim (Asian) Games yang di Palembang itu," ungkap Fiqri kepada Suara.com, Rabu (12/8/2026)

"Artinya bisa terus kemudian semuanya benar-benar dikoordinasikan supaya nggak ada asap karena akan ada hajat besar gitu kan sebetulnya bisa," imbuhnya.

Fenomena El Nino serta keberadaan bahan bakar organik yang melimpah di musim kemarau adalah variabel alami yang pasti berulang. Namun dinamika penyebarannya sangat ditentukan oleh kontrol manusia terhadap penggunaan api.

"Komitmen itu, nah itu yang sebetulnya harus direplikasikan ke seluruh wilayah," tegasnya.

Ia menyayangkan ketegasan dan pengawasan ketat yang diperlihatkan saat ada hajat besar internasional itu seolah menguap saat situasi kembali normal.

Pengawasan rutin di lapangan kini kerap terkendala oleh sistem pemantauan dini yang bolong akibat alat deteksi rusak, jaringan sensor tak menyeluruh di wilayah terpencil, serta lambatnya respons koordinasi taktis.

baca juga

"Sebetulnya sudah ada (alat deteksi dini karhutla) tapi memang setahu saya itu belum kemudian bisa menjangkau seluruh area. Terutama area-area yang kemudian remote yang cukup susah dijangkau," ujarnya.

Disebutkan Fiqri, bahwa kerusakan alat deteksi hingga tidak mutakhirnya pemetaan sumber air di area rawan kian memperparah kelemahan penanganan bencana saat ini.

Belum lagi melihat karakteristik lahan gambut yang kering dan terdegradasi membuat pemadaman permukaan menjadi tindakan yang menipu.

Secara teknis, tumpukan bahan organik di gambut tidak hanya menyebarkan api secara horizontal. Melainkan menyusup secara vertikal hingga menciptakan bara di kedalaman tanah yang terus menguapkan asap pekat.

"Nah yang menjadi permasalahan kenapa terus kemudian itu sulit, di permukaan apinya sudah tampak padam, tapi sebetulnya bara api yang di bawah itu masih nyala," ungkapnya.

Atas dasar dinamika teknis tersebut, kata dia, penegakan regulasi zero burning bagi seluruh pemangku kepentingan saat musim kemarau tidak boleh lagi ditawar atau sekadar menjadi wacana formalitas belakangan.

Kebijakan larangan pembukaan lahan menggunakan api harus dipatuhi secara penuh tanpa mengandalkan momentum-momentum politik atau ajang internasional semata.

"Nah sebetulnya kebijakan yang mengatur bahwa dalam penggunaan api itu tadi ya benar-benar dilarang dalam pembersihan lahan penggunaan pembersihan lahan atau pembukaan lahan dan sebagainya itu yang benar-benar harus ditaati," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Utang Pemerintah Tembus Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya Bandingkan Kondisi RI dengan Singapura

Utang Pemerintah Tembus Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya Bandingkan Kondisi RI dengan Singapura

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:40 WIB

Menhut Raja Juli: Indonesia Masuk Fase El Nino Godzilla, Mirip 2015

Menhut Raja Juli: Indonesia Masuk Fase El Nino Godzilla, Mirip 2015

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:04 WIB

Kita Bertengkar dengan Sesama, Padahal yang Harus Ditagih adalah Negara

Kita Bertengkar dengan Sesama, Padahal yang Harus Ditagih adalah Negara

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:15 WIB

El Nino Diprediksi Menguat, Bagaimana BMKG Antisipasi Kekeringan dan Karhutla?

El Nino Diprediksi Menguat, Bagaimana BMKG Antisipasi Kekeringan dan Karhutla?

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:47 WIB

Ketika Gedung Koperasi Berdiri, tetapi Usahanya Belum Tentu Hidup

Ketika Gedung Koperasi Berdiri, tetapi Usahanya Belum Tentu Hidup

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:20 WIB

Indonesia Dikelilingi Api: 107 Ribu Hektare Terbakar, Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan?

Indonesia Dikelilingi Api: 107 Ribu Hektare Terbakar, Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan?

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:32 WIB

Pemulihan Ekosistem Palsu Mengintai di Balik Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan

Pemulihan Ekosistem Palsu Mengintai di Balik Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:16 WIB

Terkini

Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen

Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:33 WIB

Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing

Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:28 WIB

Korban Tolak RJ, Sidang Kasus Pengeroyokan Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Berlanjut

Korban Tolak RJ, Sidang Kasus Pengeroyokan Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Berlanjut

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:26 WIB

Telok Abang Palembang Bukan Sekadar Tradisi Agustus, Kini Jadi Ikon Budaya Kota

Telok Abang Palembang Bukan Sekadar Tradisi Agustus, Kini Jadi Ikon Budaya Kota

Sumsel | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:26 WIB

Terungkap, Trik Warga Israel Bisa Lolos Masuk Bali Meski Tak Ada Hubungan Diplomatik

Terungkap, Trik Warga Israel Bisa Lolos Masuk Bali Meski Tak Ada Hubungan Diplomatik

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:21 WIB

Insanul Fahmi Terpuruk dan Jualan Sayur, Wardatina Mawa: Tapi Semua Sudah Terlambat

Insanul Fahmi Terpuruk dan Jualan Sayur, Wardatina Mawa: Tapi Semua Sudah Terlambat

Entertainment | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:20 WIB

Bus Koridor 13 Mogok di Ciledug, Penumpang Turun Jalan Kaki

Bus Koridor 13 Mogok di Ciledug, Penumpang Turun Jalan Kaki

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:10 WIB

Tiga Pria NTT Ditangkap Usai Bakar Burung Hantu Hidup-hidup, Alasannya Bikin Elus Dada

Tiga Pria NTT Ditangkap Usai Bakar Burung Hantu Hidup-hidup, Alasannya Bikin Elus Dada

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:05 WIB

Bukan Tambang, Ini Sektor yang Diam-Diam Dorong Ekonomi Sumsel 5,20 Persen

Bukan Tambang, Ini Sektor yang Diam-Diam Dorong Ekonomi Sumsel 5,20 Persen

Sumsel | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:59 WIB

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Kripto Syariah

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Kripto Syariah

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:55 WIB

×