- Negosiasi Selat Hormuz macet total akibat Amerika Serikat dan Iran saling menuntut ganti rugi perang.
- Iran mengajukan enam syarat mutlak termasuk pencabutan sanksi ekonomi sebelum membuka kembali Selat Hormuz.
- Kebuntuan diplomasi AS dan Iran langsung memicu kenaikan harga minyak dunia di atas 5 persen.
Suara.com - Negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz menghadapi jalan buntu setelah Amerika Serikat dan Iran saling melempar tuntutan baru yang kian memperkeruh iklim diplomasi. Tuntutan ganti rugi perang dari kedua belah pihak langsung memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengancam stabilitas pasokan energi global.
Penutupan jalur vital pasokan seperlima minyak dunia ini berpotensi memicu inflasi global yang jauh lebih ekstrem jika kedua negara tidak segera melunakkan posisi tawar mereka. Kebuntuan tersebut juga diprediksi bakal memperlama konflik bersenjata antara Washington dan Teheran yang telah berlangsung selama lima bulan.
Diplomasi langsung antara kedua negara sebenarnya tidak pernah terjadi karena Teheran hanya mau berunding melalui perantara pihak ketiga yaitu Kesultanan Oman. Pendekatan unilateral ini menegaskan keretakan hubungan diplomatik yang sangat mendalam dan membatasi opsi penyelesaian krisis secara cepat.

Mengapa Tuntutan Baru Trump Memperkeruh Situasi?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Teheran harus membayar ganti rugi atas kerusakan serta korban jiwa dari berbagai aksi militer selama lima dekade terakhir.
"Kami akan meminta uang untuk kerusakan yang telah mereka lakukan selama periode 50 tahun," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. "Jadi jika ada kerugian yang harus dibayar, saya pikir Iran harus membayar kerugian tersebut."
Melalui platform Truth Social, Trump bahkan menuntut ganti rugi untuk keluarga 17 pelaut AS yang gugur dalam serangan kapal USS Cole tahun 2000 di Yaman, meski insiden itu sebenarnya dituduhkan kepada al-Qaeda.
"Juga, sehubungan dengan negosiasi Iran, Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang dialami rakyat Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!" tulis Trump.
Tuntutan keras dari Gedung Putih ini muncul tepat setelah Iran terlebih dahulu meminta AS membayar ganti rugi atas kerusakan akibat serangan militer Washington dan Israel.
Namun, retorika tajam Trump berbanding terbalik dengan optimisme Wakil Presiden AS JD Vance yang meyakini kesepakatan damai masih sangat mungkin tercapai.
"tidak ada rencana" kata Vance saat menjelaskan bahwa pihak Iran telah menyampaikan tidak berniat memungut tarif penyeberangan di Selat Hormuz.
Meskipun ada nada optimis dari Vance, harga minyak mentah tetap melonjak lebih dari 5 persen seiring memudarnya harapan publik terhadap perdamaian.
Apa Saja Syarat Mutlak Yang Diajukan Iran?
Iran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz sebelum seluruh syarat politik dan ekonominya dipenuhi oleh pemerintah AS.
Lembaga Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran merilis enam kondisi mutlak, yakni penghentian ancaman AS, penghentian serangan terhadap sekutu Iran, pengangkatan blokade laut, ganti rugi perang, pencabutan sanksi, serta pembebasan aset yang dibekukan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pembicaraan teknis pembagian jalur pelayaran baru dengan Oman telah memasuki tahap akhir.
Araghchi menegaskan kembali bahwa negaranya tidak melangsungkan komunikasi langsung dengan Washington.
"pesan-pesan dipahami telah dipertukarkan melalui perantara," ujar Araghchi mengenai mekanisme diplomasi yang berjalan.
Sikap mengeras dari kedua belah pihak ini dinilai para analis sebagai taktik tawar-menawar maksimal sebelum memasuki negosiasi inti.
Bagaimana Dampak Kebuntuan Ini Terhadap Perdamaian?
Analis senior Pusat Kebijakan Internasional, Negar Mortazavi, menilai bahwa posisi tawar kedua negara yang kian mengeras menutupi peluang tercapainya terobosan diplomatik.
"Kedua belah pihak tampaknya mengajukan tuntutan maksimalis menjelang negosiasi serius," kata Mortazavi kepada Al Jazeera.
Sikap terbaru AS dinilai sangat sensitif karena memasukkan isu-isu lampau yang berada di luar cakupan penghentian konflik militer saat ini.
"Tuntutan baru Trump sangat bermasalah karena mereka memperkenalkan masalah yang melampaui penghentian konflik saat ini. Jika ganti rugi atas protes dan peristiwa masa lalu lainnya menjadi kondisi nyata AS untuk kesepakatan, daripada sekadar posisi negosiasi, hal itu dapat membuat kesepakatan sangat sulit diterima oleh Teheran," tambahnya.
Mortazavi menambahkan bahwa Teheran membutuhkan jaminan keamanan agar konflik tidak kembali pecah di masa depan serta bantuan pemulihan ekonomi.
Krisis di jalur laut strategis ini pada akhirnya akan bermuara pada daya tahan ekonomi dan sosial dari masing-masing negara yang bertikai.
"Persamaan ini sekarang ada: penutupan vs blokade. Tapi pertanyaannya adalah, siapa yang berteriak duluan?" kata analis politik Hossein Royvaran yang berbasis di Teheran kepada Al Jazeera.
"Saat ini, Amerika menderita: dalam harga bensin, dalam inflasi, dalam kenaikan biaya hidup di dalam negeri. Ada ketidakpuasan mendalam di dalam Amerika atas perang ini dan konsekuensinya bagi masyarakat di sana," kata Royvaran kepada Al Jazeera.
"Hal yang sama juga terjadi di Iran, meskipun di Iran ada pembenaran yang dapat diterima masyarakat: bahwa perang ini dipaksakan kepada Iran dan Iran tidak punya pilihan selain membela diri."
Latar belakang krisis ini bermula dari pecahnya perang terbuka antara AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu yang berujung pada penutupan total Selat Hormuz oleh militer Teheran. Escalasi militer semakin memburuk setelah AS ikut serta dalam perang 12 hari Israel melawan Iran pada Juni 2025, yang memicu hilangnya kepercayaan Teheran terhadap komitmen diplomasi Washington.