Bahaya Maut Di Balik Karhutla, Ketika Asap Bisa Jadi Mesin Pembunuh Diam-diam

Bangun Santoso, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 14 Agustus 2026 | 20:07 WIB
Bahaya Maut Di Balik Karhutla, Ketika Asap Bisa Jadi Mesin Pembunuh Diam-diam
Foto sebagai ILUSTRASI: kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera Selatan
baca 10 detik
  • Ketua Majelis Kehormatan PDPI Tjandra Yoga Aditama menyatakan asap kebakaran hutan memicu teror kesehatan global pada Juni 2026.
  • Partikel halus PM2.5 serta senyawa toksik dari asap kebakaran hutan dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan peradangan organ tubuh.
  • WHO mengimbau warga menghindari area kebakaran dan menggunakan masker respirator, sementara pemerintah wajib menjamin akses pelayanan medis darurat.

Suara.com - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan lagi sekadar persoalan lokal atau ancaman lingkungan biasa. Melainkan telah menjelma menjadi teror kesehatan global yang sangat mematikan.

Racun mikroskopis yang dibawa oleh asap pembakaran terbukti mampu melintasi batas-batas wilayah dan benua, sekaligus mengancam nyawa masyarakat hingga ke organ vital yang paling dalam.

"World Meteorological Organization (WMO) dalam publikasi Juni 2026 memang menyebutkan bahwa asap dari kebakaran hutan dapat terbang sampai ribuan kilometer, melewati batas negara, benua, laut dan samudera," kata Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama kepada Suara.com, Jumat (14/8/2026).

Tjandra menjelaskan bahwa bahaya utama dari asap ini terletak pada keberadaan partikel amat halus yang tidak kasat mata namun memiliki dampak destruktif bagi organ tubuh manusia. Partikel PM2.5 yang dihirup dari udara kotor dapat langsung masuk dan menembus sistem sirkulasi darah manusia secara cepat.

"Nah kalau yang dihisap ada partikel PM2.5 maka dampaknya dapat menyebar melalui peredaran darah dan mencetuskan terjadinya inflamasi atau peradangan," ungkapnya.

Lebih mendalam, bahaya asap kebakaran hutan juga dipicu oleh gumpalan senyawa toksik kompleks (toxic mix) yang tercipta dari pembakaran material kayu, tanaman, hingga sampah organik dan plastik.

Campuran berbahaya itu memicu ancaman kesehatan tingkat tinggi yang mematikan. Mulai dari gangguan saluran pernapasan akut hingga ancaman kematian bagi kelompok masyarakat yang rentan.

"Dampak yang terjadi bisa bersifat akut dan kronik. Mulai dari keluhan batuk, sesak, iritasi tenggorok dan mata, kejadian infeksi paru dan saluran napas, perburukan penyakit asma dan penyakit kronik lainnya, gangguan kesehatan mental sampai ke meningkatkan risiko perburukan status kesehatan dan pada keadaan penyakit tertentu dapat berujung ke kematian," paparnya.

Situasi darurat ini kian memburuk manakala paparan racun asap berpadu dengan lonjakan suhu udara yang ekstrem.

baca juga

"Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa gabungan antara situasi panas dan asap kebakaran hutan dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardio respirasi serta perawatan di rumah sakit," ujarnya.

Merespons krisis yang makin tak terkendali, kata Tjandra, WHO telah menetapkan langkah mitigasi darurat bagi warga yang berada di area terdampak.

Langkah tersebut mencakup imbauan untuk menghindari area kebakaran aktif, membatasi mobilitas, menggunakan masker jenis respirator, serta segera mendatangi fasilitas medis apabila merasakan gejala nyeri dada dan sesak napas.

"Tentu saja yang juga utama adalah agar masyarakat di daerah kebakaran hutan perlu selalu menjaga dan memelihara kesehatannya. Perilaku hidup bersih dan sehat harus terus diterapkan," pungkasnya.

Di sisi lain, pemerintah dituntut tidak lepas tangan dan wajib bertanggung jawab secara aktif. Mulai dari memberikan peringatan dini kualitas udara secara berkala, menyampaikan panduan kesehatan secara terus-menerus, serta menjamin ketersediaan akses pelayanan medis gawat darurat bagi seluruh warga tanpa terkecuali.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kebakaran Bromo Masih Meluas, Lalai Bukan Alasan Lolos dari Jerat Hukum

Kebakaran Bromo Masih Meluas, Lalai Bukan Alasan Lolos dari Jerat Hukum

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 12:56 WIB

Tragedi Karhutla Kubu Raya, Kasim Meninggal Saat Bantu Petugas Jinakkan Api

Tragedi Karhutla Kubu Raya, Kasim Meninggal Saat Bantu Petugas Jinakkan Api

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:51 WIB

Diselimuti Kabut Asap, Kualitas Udara Palembang Sangat Tidak Sehat

Diselimuti Kabut Asap, Kualitas Udara Palembang Sangat Tidak Sehat

Foto | Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:33 WIB

Santer Diisukan Mundur karena Sakit, Pratikno Tegaskan Dirinya Sehat Sedang di Bromo

Santer Diisukan Mundur karena Sakit, Pratikno Tegaskan Dirinya Sehat Sedang di Bromo

Video | Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:00 WIB

Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen

Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:33 WIB

Menhut Raja Juli: Indonesia Masuk Fase El Nino Godzilla, Mirip 2015

Menhut Raja Juli: Indonesia Masuk Fase El Nino Godzilla, Mirip 2015

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:04 WIB

Kebakaran Hebat di Pondok Kelapa, Pabrik Bingkai hingga 9 Kontrakan Ludes

Kebakaran Hebat di Pondok Kelapa, Pabrik Bingkai hingga 9 Kontrakan Ludes

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:52 WIB

Terkini

Daftar Harga HP Xiaomi Agustus 2026, Lengkap Redmi dan POCO

Daftar Harga HP Xiaomi Agustus 2026, Lengkap Redmi dan POCO

Tekno | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Ulasan Film Seni Merayu Tuhan: Refleksi Sunyi Anak Muda Mencari Arah Hidup

Ulasan Film Seni Merayu Tuhan: Refleksi Sunyi Anak Muda Mencari Arah Hidup

Your Say | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Dasco: Dwikewarganegaraan Diaspora Akan Diberlakukan Terbatas dan Sangat Selektif

Dasco: Dwikewarganegaraan Diaspora Akan Diberlakukan Terbatas dan Sangat Selektif

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 20:01 WIB

Dasco Jamin PDIP Tak Ditinggal di RUU Pemilu: Mereka Fraksi Terbesar

Dasco Jamin PDIP Tak Ditinggal di RUU Pemilu: Mereka Fraksi Terbesar

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:58 WIB

Prabowo Minta Anak 1 SD Belajar Bahasa Asing, DPR Ingatkan Tantangan Guru dan Fasilitas

Prabowo Minta Anak 1 SD Belajar Bahasa Asing, DPR Ingatkan Tantangan Guru dan Fasilitas

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:54 WIB

Danantara Ingatkan Semua Pihak Jaga Ekonomi Tetap Kondusif demi Tarik Investor

Danantara Ingatkan Semua Pihak Jaga Ekonomi Tetap Kondusif demi Tarik Investor

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:50 WIB

Cerita di Balik Pertemuan Sekjen Parpol Koalisi, Dari Refleksi Kemerdekaan Hingga Obrolan Politik

Cerita di Balik Pertemuan Sekjen Parpol Koalisi, Dari Refleksi Kemerdekaan Hingga Obrolan Politik

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:48 WIB

Prabowo: Prabowonomics Sebenarnya Marhaenisme, PDIP Sulit Tak Mendukung

Prabowo: Prabowonomics Sebenarnya Marhaenisme, PDIP Sulit Tak Mendukung

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:45 WIB

Anggaran MBG di RABPN 2027 Sejumlah Rp240 Triliun

Anggaran MBG di RABPN 2027 Sejumlah Rp240 Triliun

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:44 WIB

Target 150 Ribu Siswa Sekolah Rakyat Disorot, Dinilai Abaikan Akar Ketimpangan

Target 150 Ribu Siswa Sekolah Rakyat Disorot, Dinilai Abaikan Akar Ketimpangan

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:41 WIB

×