- Sejumlah pedagang di Tanah Abang mengalami penurunan omzet hingga 75 persen saat menjelang HUT ke-81 RI pada Agustus 2026.
- Penurunan omzet tersebut disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat serta pergeseran pola belanja konsumen ke toko online.
- Peneliti CELIOS menyatakan bahwa penurunan pembelian aksesori kemerdekaan mengindikasikan kelesuan ekonomi dan pengereman belanja barang non-urgen.
Suara.com - Kemeriahan menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia masih menyisakan persoalan bagi para pedagang kecil. Di tengah berbagai persiapan perayaan 17 Agustus 2026, sejumlah pedagang aksesori kemerdekaan dan baju adat mengaku mengalami penurunan penjualan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ekonomi yang dinilai belum stabil serta pergeseran pola belanja masyarakat ke toko online disebut menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi penjualan.
Di kawasan Tanah Abang, Jakarta, salah satu pedagang aksesori kemerdekaan, Arif, mengatakan omzet Toko Agen Aksesori Kemerdekaan Nurmala yang dikelolanya anjlok hingga 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Biasanya, omzet Toko Nurmala dapat menembus lebih dari Rp100 juta setiap momen kemerdekaan. Namun, tahun ini pencapaian tersebut belum terulang.
"Biasanya modal udah balik tanggal-tanggal segini," kata Arif kepada Suara.com, Senin (10/8/2026).
Pada tahun sebelumnya, Arif bahkan harus mengangkut stok bendera dan berbagai pernak-pernik kemerdekaan menggunakan truk hingga lima kali pengiriman. Tahun ini, ia hanya melakukan dua kali pengiriman karena memperkirakan jumlah pembeli akan menurun.

Menurut Arif, penurunan penjualan juga dipengaruhi pergeseran konsumen ke toko online. Ia menilai pelaku pasar online mampu menawarkan harga yang jauh lebih murah.
"Sekarang kalau orang datang, nanya ke sini, bilangnya murah di online," kata Arif.
Di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin tak menentu, Arif mengaku hanya bisa mengandalkan pesanan dari pelanggan setianya di sejumlah daerah.
Kondisi serupa dirasakan pedagang Toko Hastopa, Riska. Ia mengatakan penjualan bendera Merah Putih di lapaknya turun hingga 75 persen dibandingkan tahun lalu.
Pada tahun sebelumnya, Riska mampu mengantongi omzet sekitar Rp5 juta dari penjualan bendera dalam waktu kurang dari satu bulan. Tahun ini, kondisi tersebut berubah drastis.
"Jauh beda sama tahun sekarang. Buat penurunan 75 persen khusus bendera," kata Riska.
Jika tahun lalu Riska menyediakan stok hingga ratusan bendera, tahun ini ia hanya menyiapkan sekitar 50 bendera. Keputusan tersebut diambil setelah melihat daya beli masyarakat yang dinilainya menurun.
Riska juga menilai maraknya transaksi online turut menekan penjualan pedagang konvensional.
"Kalau kata aku ya online sih, ya, merusak. Soalnya online suka menjatuhkan harga."
Penjualan Baju Adat Ikut Menurun
Penurunan penjualan tak hanya dialami pedagang aksesori kemerdekaan. Pedagang baju adat di kawasan Tanah Abang juga merasakan kondisi serupa menjelang HUT ke-81 RI.
Pengelola Toko Setia Jaya di Pasar Tanah Abang, Clara, mengatakan jumlah pembeli baju adat tahun ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Tahun lalu jauh lebih ramai," kata Clara kepada Suara.com, Senin (10/8/2026).
Pada tahun sebelumnya, penjualan baju adat di tokonya terbilang lebih baik. Bahkan, sejumlah peserta upacara di Ibu Kota Nusantara (IKN) memesan baju adat dari Toko Setia Jaya.
Tahun ini, penjualan baju adat mengalami penurunan hingga 50 persen. Jika dibandingkan dengan momentum Hari Kartini pada tahun yang sama, penjualan untuk kebutuhan HUT RI bahkan jauh lebih rendah.
"Tahun ini lebih ramai Kartini. Kayaknya 70 persen Kartini, 30 persen Agustusan," tambahnya.
Harga baju adat di Toko Setia Jaya berkisar Rp150 ribu hingga Rp300 ribu. Sementara baju adat khusus anak-anak dibanderol mulai Rp20 ribu.
![Toko Setia Jaya di Pasar Tanah Abang yang menjual baju adat. [Suara.com/Alif]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/10/29172-toko-setia-jaya-di-pasar-tanah-abang.jpg)
Clara menduga penurunan penjualan tak lepas dari kondisi ekonomi dalam negeri yang cenderung belum stabil. Di sisi lain, ia juga melihat perubahan pola belanja masyarakat yang semakin banyak beralih ke pasar online.
Untuk beradaptasi, Toko Setia Jaya turut memasarkan produknya melalui toko online.
"Karena customer kita juga kebanyakan online."
Meski menghadapi perubahan pola belanja, Toko Setia Jaya tetap konsisten menyediakan baju adat selama hampir 40 tahun. Clara mengatakan keberadaan toko tersebut tidak hanya menjadi bagian dari bisnis, tetapi juga salah satu bentuk upaya pelestarian budaya.
Penjualan Online Pun Ikut Menurun
Tren penurunan penjualan aksesori kemerdekaan ternyata tak hanya dirasakan pedagang konvensional. Pelaku usaha yang mengandalkan pasar online juga mengaku mengalami penurunan minat pembeli tahun ini.
Pengelola Toko Juragan Bendera, Eva, mengatakan toko yang telah menjual aksesori kemerdekaan sejak 1998 itu mengalami penurunan penjualan, baik secara online maupun secara langsung.
Meski demikian, Eva tidak merinci persentase penurunan penjualan di toko yang berlokasi di Kota Surabaya tersebut.
"Lumayan turun. Banyak pelanggan-pelanggan kami yang memangkas anggaran," kata Eva melalui pesan teks pada Sabtu, (15/8/2026).
Sebagian besar penjualan Toko Juragan Bendera memang berasal dari pasar online. Eva mengatakan tokonya telah mulai memasarkan produk secara online sejak 2012 melalui website.
Menurutnya, transaksi online lebih diminati karena memberikan kemudahan akses bagi konsumen. Toko Juragan Bendera juga menawarkan diskon untuk pembelian melalui website guna menarik pembeli.
Daya Beli Masyarakat Menurun

Peneliti fiskal Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bara Setiadi turut menyoroti tren penurunan penjualan aksesori kemerdekaan tersebut.
Menurut Bara, kondisi itu dapat menjadi indikasi melemahnya daya beli masyarakat di tengah situasi ekonomi yang lesu.
"Turunnya pembelian aksesoris kemerdekaan ini bisa jadi karena overall minat atau kemampuan daya beli masyarakat secara umum," katanya kepada Suara.com pada Jumat, (14/8/2026).
Bara menduga masyarakat kini melakukan pengereman belanja, terutama untuk barang-barang yang dianggap tidak memiliki urgensi mendesak.
Selain itu, pergeseran transaksi ke pasar online juga dinilai menjadi salah satu penyebab turunnya pembelian secara langsung. Pasar online, kata Bara, dapat menawarkan harga lebih murah melalui berbagai skema diskon.
"Untuk barang-barang musiman seperti aksesoris kemerdekaaan pasti konsumer akan melihat harga, yang dicari bukan kualitas jangka panjang. Kalau harga di online shop lebih murah akan sangat make sense konsumen akan membeli produk dalam online shop," tambahnya.
Meski pasar online menjadi bagian dari perubahan perilaku konsumen, Bara mengingatkan pemerintah agar memberikan perhatian terhadap peredaran barang melalui platform digital. Pasalnya, pasar online juga kerap dibanjiri produk impor yang berpotensi menggerus produk lokal.
"Tugas pemerintah di sini bukan hanya menertibkan online shop tapi juga gempuran barang impor, jangan sampai ujung-ujungnya regulasi menghambat inovasi UMKM lokal," pungkasnya.
Penurunan penjualan yang dirasakan pedagang aksesori kemerdekaan maupun baju adat menunjukkan perubahan pola belanja masyarakat menjelang HUT ke-81 RI. Bahkan, penurunan juga mulai dirasakan pelaku usaha yang berjualan secara online.
Di tengah semarak perayaan kemerdekaan, para pedagang kini tak hanya menghadapi persoalan daya beli masyarakat, tetapi juga harus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan persaingan harga di pasar digital.
Reporter: Alif Bintang