Relokasi akibat Perubahan Iklim: Mengapa Tak Cukup dengan Memindahkan Warga ke Tempat Aman?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:55 WIB
Relokasi akibat Perubahan Iklim: Mengapa Tak Cukup dengan Memindahkan Warga ke Tempat Aman?
Ilustrasi Hunian (dok.Pexels/Beben Sugiarto)

Suara.com - Perubahan iklim membuat semakin banyak masyarakat menghadapi ancaman yang tidak lagi bisa diatasi hanya dengan membangun tanggul, memperkuat rumah, atau memperbaiki infrastruktur.

Ketika banjir, abrasi, kekeringan, dan badai terus berulang, sebagian masyarakat pada akhirnya harus meninggalkan tempat tinggalnya.

Dalam kondisi tertentu, relokasi terencana dapat menjadi salah satu pilihan untuk melindungi masyarakat dari risiko bencana yang semakin sulit dikendalikan. Namun, memindahkan warga ke lokasi yang lebih aman tidak otomatis membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Pengalaman sejumlah komunitas di Asia Selatan menunjukkan bahwa relokasi juga dapat membawa persoalan baru, mulai dari hilangnya mata pencaharian hingga terputusnya hubungan sosial dan budaya.

Salah satu gambaran mengenai persoalan tersebut terlihat di Old Podampetta, desa nelayan di pesisir timur India. Rumah-rumah yang ditinggalkan di kawasan itu menjadi penanda bahwa sebagian warga perlahan memilih menjauh dari laut.

Sebelumnya, kehidupan masyarakat sangat bergantung pada laut. Warga memulai hari dengan membaca kondisi pasang surut dan arah angin untuk menentukan aktivitas mereka. Namun, abrasi pantai dan siklon yang semakin sering membuat kehidupan di kawasan tersebut semakin berisiko.

Sebagian warga kemudian memilih pindah ke tempat yang lebih jauh dari garis pantai.

Fenomena serupa terjadi di sejumlah wilayah India dan Bangladesh. Pada 2024, hampir delapan juta orang di kedua negara tersebut diperkirakan mengungsi di dalam negeri akibat bencana yang berlangsung secara tiba-tiba.

Sebagian besar pengungsian awalnya diharapkan hanya berlangsung sementara. Warga berharap dapat kembali setelah kondisi membaik. Namun, kerusakan lingkungan yang parah membuat sebagian wilayah tidak lagi layak dihuni.

baca juga

Di sinilah konsep relokasi terencana mulai mendapat perhatian sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim.

Rumah baru belum tentu berarti kehidupan yang lebih baik

Relokasi memang dapat memberikan perlindungan sekaligus kepastian tempat tinggal. Di Bangladesh, misalnya, warga yang direlokasi dan memiliki alamat resmi dapat memperoleh akses terhadap sejumlah bantuan pemerintah, jaminan sosial, pinjaman, serta pelatihan keterampilan.

Namun, penelitian terhadap masyarakat yang direlokasi di India dan Bangladesh menunjukkan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kemampuan warga membangun kembali kehidupan mereka.

Sebagian masyarakat mendapatkan akses yang lebih baik terhadap pasar dan perumahan. Namun, sebagian lainnya kehilangan lahan pertanian, hutan, tempat menangkap ikan, dan pekerjaan yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan.

Seorang warga terdampak di Kendrapada, India, mengatakan masyarakat tidak memperoleh kompensasi atas lahan pertanian yang hilang.

“Kami tidak diberi kompensasi atas lahan pertanian yang hilang. Tidak ada pekerjaan di desa ini.”
Terbatasnya kesempatan kerja membuat sebagian warga kembali berpindah ke wilayah lain untuk mencari penghasilan. Artinya, relokasi tidak selalu menghentikan migrasi, melainkan dapat mengubah alasan perpindahan dari menghindari bencana menjadi mencari pekerjaan.

Yang ikut berpindah bukan hanya manusia

Persoalan relokasi juga menyangkut hubungan masyarakat dengan lingkungan dan budaya mereka.

Seorang warga di Odisha menggambarkan kehilangan tersebut ketika mengatakan bahwa di tempat baru bahkan tidak tersedia bunga yang biasa digunakan untuk persembahan kepada dewa.

Hal itu menunjukkan bahwa sebuah tempat tidak hanya memiliki nilai ekonomi. Lingkungan juga dapat menjadi bagian dari identitas, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, relokasi perlu direncanakan bersama masyarakat sejak awal. Warga perlu memiliki ruang untuk menentukan kebutuhan, lokasi, desain permukiman, serta cara membangun kembali mata pencaharian mereka.

Permukiman baru juga perlu dirancang untuk menghadapi risiko iklim di masa depan, seperti banjir, panas ekstrem, dan siklon.

Relokasi seharusnya menjadi pilihan ketika masyarakat tidak lagi dapat beradaptasi dengan aman di tempat asalnya. Jika perpindahan memang tidak dapat dihindari, pemerintah perlu memastikan warga tidak kehilangan lebih banyak setelah pindah.

Keberhasilan relokasi akibat perubahan iklim pada akhirnya bukan hanya soal memindahkan masyarakat dari tempat berbahaya ke tempat yang lebih aman. Yang lebih penting adalah memastikan mereka tetap memiliki kehidupan, pekerjaan, hubungan sosial, dan rasa memiliki di tempat baru.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kebakaran di Kawasan Bromo: Mengapa Pemulihan Ekosistem Tak Bisa Sekadar Menanam Pohon?

Kebakaran di Kawasan Bromo: Mengapa Pemulihan Ekosistem Tak Bisa Sekadar Menanam Pohon?

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:49 WIB

Transisi Energi Tak Cukup Ganti Sumber Energi: Mengapa Geothermal Perlu Dikaji Ulang?

Transisi Energi Tak Cukup Ganti Sumber Energi: Mengapa Geothermal Perlu Dikaji Ulang?

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:30 WIB

Mengenal Carbon Trading: Saat Krisis Iklim Bertemu Logika Pasar

Mengenal Carbon Trading: Saat Krisis Iklim Bertemu Logika Pasar

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 08:25 WIB

Terkini

Penggeledahan Rumah Febrie di Sentul di Luar Izin, Ahli Sebut Tak Sah

Penggeledahan Rumah Febrie di Sentul di Luar Izin, Ahli Sebut Tak Sah

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:56 WIB

Jadwal Lengkap Persija di Super League 2026/2027: Ujian Berat Pasukan STY di Dua Pekan Pertama

Jadwal Lengkap Persija di Super League 2026/2027: Ujian Berat Pasukan STY di Dua Pekan Pertama

Bola | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:56 WIB

Relokasi akibat Perubahan Iklim: Mengapa Tak Cukup dengan Memindahkan Warga ke Tempat Aman?

Relokasi akibat Perubahan Iklim: Mengapa Tak Cukup dengan Memindahkan Warga ke Tempat Aman?

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:55 WIB

4 Rekomendasi Kulkas Mini Skincare Terbaik untuk Simpan Serum dan Masker, Desain Estetik

4 Rekomendasi Kulkas Mini Skincare Terbaik untuk Simpan Serum dan Masker, Desain Estetik

Lifestyle | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:54 WIB

Diskon Promo Klik Indomaret dari BRI, Belanja Bulanan Jadi Lebih Hemat

Diskon Promo Klik Indomaret dari BRI, Belanja Bulanan Jadi Lebih Hemat

Bri | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:53 WIB

Dicecar soal Laporan Utang Pemerintah, Purbaya Tantang Balik DPR: Mau Minta Kapan?

Dicecar soal Laporan Utang Pemerintah, Purbaya Tantang Balik DPR: Mau Minta Kapan?

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:51 WIB

Promo Cashback Belanja di Depo Bangunan, Khusus Nasabah BRI Selama Agustus 2026

Promo Cashback Belanja di Depo Bangunan, Khusus Nasabah BRI Selama Agustus 2026

Bri | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:42 WIB

Pemkab Kepulauan Meranti Serahkan SK Pengakuan MHA 3 Komunitas Adat

Pemkab Kepulauan Meranti Serahkan SK Pengakuan MHA 3 Komunitas Adat

Riau | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:41 WIB

Loneliness in Hyper-Conectivity: Kesepian di Tengah Keterhubungan Digital

Loneliness in Hyper-Conectivity: Kesepian di Tengah Keterhubungan Digital

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:40 WIB

51 Saksi Sudah Diperiksa, Mengapa Belum Ada Tersangka di Kasus Lampu Jalan Palembang?

51 Saksi Sudah Diperiksa, Mengapa Belum Ada Tersangka di Kasus Lampu Jalan Palembang?

Sumsel | Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:38 WIB

×