Suara.com - Perubahan iklim membuat semakin banyak masyarakat menghadapi ancaman yang tidak lagi bisa diatasi hanya dengan membangun tanggul, memperkuat rumah, atau memperbaiki infrastruktur.
Ketika banjir, abrasi, kekeringan, dan badai terus berulang, sebagian masyarakat pada akhirnya harus meninggalkan tempat tinggalnya.
Dalam kondisi tertentu, relokasi terencana dapat menjadi salah satu pilihan untuk melindungi masyarakat dari risiko bencana yang semakin sulit dikendalikan. Namun, memindahkan warga ke lokasi yang lebih aman tidak otomatis membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Pengalaman sejumlah komunitas di Asia Selatan menunjukkan bahwa relokasi juga dapat membawa persoalan baru, mulai dari hilangnya mata pencaharian hingga terputusnya hubungan sosial dan budaya.
Salah satu gambaran mengenai persoalan tersebut terlihat di Old Podampetta, desa nelayan di pesisir timur India. Rumah-rumah yang ditinggalkan di kawasan itu menjadi penanda bahwa sebagian warga perlahan memilih menjauh dari laut.
Sebelumnya, kehidupan masyarakat sangat bergantung pada laut. Warga memulai hari dengan membaca kondisi pasang surut dan arah angin untuk menentukan aktivitas mereka. Namun, abrasi pantai dan siklon yang semakin sering membuat kehidupan di kawasan tersebut semakin berisiko.
Sebagian warga kemudian memilih pindah ke tempat yang lebih jauh dari garis pantai.
Fenomena serupa terjadi di sejumlah wilayah India dan Bangladesh. Pada 2024, hampir delapan juta orang di kedua negara tersebut diperkirakan mengungsi di dalam negeri akibat bencana yang berlangsung secara tiba-tiba.
Sebagian besar pengungsian awalnya diharapkan hanya berlangsung sementara. Warga berharap dapat kembali setelah kondisi membaik. Namun, kerusakan lingkungan yang parah membuat sebagian wilayah tidak lagi layak dihuni.
Di sinilah konsep relokasi terencana mulai mendapat perhatian sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim.
Rumah baru belum tentu berarti kehidupan yang lebih baik
Relokasi memang dapat memberikan perlindungan sekaligus kepastian tempat tinggal. Di Bangladesh, misalnya, warga yang direlokasi dan memiliki alamat resmi dapat memperoleh akses terhadap sejumlah bantuan pemerintah, jaminan sosial, pinjaman, serta pelatihan keterampilan.
Namun, penelitian terhadap masyarakat yang direlokasi di India dan Bangladesh menunjukkan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kemampuan warga membangun kembali kehidupan mereka.
Sebagian masyarakat mendapatkan akses yang lebih baik terhadap pasar dan perumahan. Namun, sebagian lainnya kehilangan lahan pertanian, hutan, tempat menangkap ikan, dan pekerjaan yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan.
Seorang warga terdampak di Kendrapada, India, mengatakan masyarakat tidak memperoleh kompensasi atas lahan pertanian yang hilang.
“Kami tidak diberi kompensasi atas lahan pertanian yang hilang. Tidak ada pekerjaan di desa ini.”
Terbatasnya kesempatan kerja membuat sebagian warga kembali berpindah ke wilayah lain untuk mencari penghasilan. Artinya, relokasi tidak selalu menghentikan migrasi, melainkan dapat mengubah alasan perpindahan dari menghindari bencana menjadi mencari pekerjaan.
Yang ikut berpindah bukan hanya manusia
Persoalan relokasi juga menyangkut hubungan masyarakat dengan lingkungan dan budaya mereka.
Seorang warga di Odisha menggambarkan kehilangan tersebut ketika mengatakan bahwa di tempat baru bahkan tidak tersedia bunga yang biasa digunakan untuk persembahan kepada dewa.
Hal itu menunjukkan bahwa sebuah tempat tidak hanya memiliki nilai ekonomi. Lingkungan juga dapat menjadi bagian dari identitas, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, relokasi perlu direncanakan bersama masyarakat sejak awal. Warga perlu memiliki ruang untuk menentukan kebutuhan, lokasi, desain permukiman, serta cara membangun kembali mata pencaharian mereka.
Permukiman baru juga perlu dirancang untuk menghadapi risiko iklim di masa depan, seperti banjir, panas ekstrem, dan siklon.
Relokasi seharusnya menjadi pilihan ketika masyarakat tidak lagi dapat beradaptasi dengan aman di tempat asalnya. Jika perpindahan memang tidak dapat dihindari, pemerintah perlu memastikan warga tidak kehilangan lebih banyak setelah pindah.
Keberhasilan relokasi akibat perubahan iklim pada akhirnya bukan hanya soal memindahkan masyarakat dari tempat berbahaya ke tempat yang lebih aman. Yang lebih penting adalah memastikan mereka tetap memiliki kehidupan, pekerjaan, hubungan sosial, dan rasa memiliki di tempat baru.