Risiko Hipotermia dan Kekerasan Terhadap Anak di Pengungsian Gempa NTT

Muhamad Yasir, Lilis Varwati

Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:36 WIB
Risiko Hipotermia dan Kekerasan Terhadap Anak di Pengungsian Gempa NTT
Tiga anak bermain di posko pengungsian Lapangan Barangkolong, Reo, Kabupaten Manggarai, NTT, Kamis (20/8/2026). [ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym]
baca 10 detik
  • Menteri PPPA mengingatkan risiko hipotermia hingga kekerasan bagi anak di pengungsian pascagempa Kabupaten Nagekeo, NTT, setelah seorang balita meninggal dunia.
  • Kementerian PPPA berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasar, pemeriksaan kesehatan, serta penyediaan ruang aman bagi anak terdampak bencana.
  • Kementerian PPPA menyalurkan sekitar 30 ton bantuan spesifik bagi perempuan dan anak.

Suara.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengingatkan berbagai risiko yang mengancam anak-anak di lokasi pengungsian pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dari hipotermia hingga kekerasan dan eksploitasi.

Sorotan tersebut disampaikan setelah seorang balita meninggal dunia di lokasi pengungsian korban gempa di Kabupaten Nagekeo.

Arifah mengatakan kondisi pengungsian di tengah situasi darurat bencana dapat meningkatkan kerentanan anak, terutama bayi dan balita yang memiliki kebutuhan khusus.

Keterbatasan tempat tinggal yang layak, perlindungan dari cuaca ekstrem, hingga akses terhadap kebutuhan dasar menjadi persoalan yang harus mendapat perhatian serius.

“Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah keterbatasan tempat tinggal yang layak, perlindungan dari cuaca ekstrem, air bersih dan sanitasi, makanan bergizi, pakaian dan selimut, serta akses terhadap layanan kesehatan yang tidak sesuai standar yang dapat berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan dan keselamatan anak,” ujar Arifah kepada wartawan di Jakarta, Selasa (25/8/2026).

Ia mengatakan Kementerian PPPA telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan anak-anak yang terdampak gempa.

Berdasarkan informasi yang diterima Kemen PPPA, balita yang meninggal tersebut tinggal di Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, dan berada di Posko Pura Desa Tonggurambang.

Menurut Arifah, sehari sebelum kejadian, UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Nagekeo telah mendatangi lokasi dan memberikan bantuan. Pelayanan kesehatan juga disebut tersedia di lokasi pengungsian.

“Kami terus memastikan kondisi dan kebutuhan anak-anak terdampak bencana mendapatkan perhatian dan penanganan yang diperlukan,” katanya.

baca juga
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi (Suara.com/Lilis Varwati)
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi (Suara.com/Lilis Varwati)

Anak Rentan Hipotermia hingga Kekerasan

Arifah menekankan, perlindungan terhadap anak selama masa tanggap darurat tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar.

Pemerintah dan tenaga kesehatan juga diminta memastikan anak mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara berkala, kebutuhan gizi yang cukup, serta perlindungan dari berbagai gangguan kesehatan, termasuk risiko hipotermia.

Di sisi lain, perlindungan anak di lokasi pengungsian perlu diperkuat untuk mencegah terjadinya kekerasan, eksploitasi, hingga penelantaran.

Menurut dia, lokasi pengungsian perlu dilengkapi dengan ruang aman bagi anak, dukungan psikososial, serta mekanisme pengaduan dan rujukan bagi anak-anak yang membutuhkan pertolongan.

Kebutuhan anak perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi pengungsian, penyediaan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, distribusi bantuan, hingga pengawasan terhadap keamanan anak,” tegasnya.

Kemen PPPA Kirim 30 Ton Bantuan

Di tengah kondisi tersebut, Kementerian PPPA bersama sejumlah mitra menyiapkan sekitar 30 ton bantuan kebutuhan spesifik bagi perempuan dan anak untuk wilayah terdampak gempa di NTT.

Bantuan itu telah disalurkan pada Senin (24/8/2026) dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Lanud Halim Perdanakusuma.

Bantuan akan dikirim ke sejumlah wilayah terdampak di Pulau Flores dan tujuh kabupaten/kota, termasuk Kabupaten Nagekeo.

Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mendukung perlindungan dan pemulihan psikososial para pengungsi, terutama perempuan dan anak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Update Gempa NTT: Korban Meninggal Tembus 100 Orang, Luka Berat Tak Tertolong

Update Gempa NTT: Korban Meninggal Tembus 100 Orang, Luka Berat Tak Tertolong

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 17:54 WIB

Dari Jepang, Kolombia, hingga NTT: Daftar 'Gempa Besar' Selama Agustus 2026

Dari Jepang, Kolombia, hingga NTT: Daftar 'Gempa Besar' Selama Agustus 2026

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:12 WIB

Prabowo Bakal Datang ke NTT, Istana: Dalam Waktu Dekat

Prabowo Bakal Datang ke NTT, Istana: Dalam Waktu Dekat

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 16:12 WIB

Terkini

Sempat Jadi Omongan, Ternyata Ini Alasan Presiden Prabowo Baru Tiba di NTT 11 Hari Pascagempa

Sempat Jadi Omongan, Ternyata Ini Alasan Presiden Prabowo Baru Tiba di NTT 11 Hari Pascagempa

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:06 WIB

Komisi III dan Polisi Sepakat Buka Rekening Supriyono alias Botok Hari Ini

Komisi III dan Polisi Sepakat Buka Rekening Supriyono alias Botok Hari Ini

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:05 WIB

Raih Hibah United Board 2026, UAJY dan AMSI Kolaborasi Kuatkan Jurnalisme Biodiversitas

Raih Hibah United Board 2026, UAJY dan AMSI Kolaborasi Kuatkan Jurnalisme Biodiversitas

Jogja | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:05 WIB

Zaahira, Anak Istimewa yang Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat

Zaahira, Anak Istimewa yang Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:02 WIB

Soal Tarif Parkir Naik Sampai Rp60 Ribu, Dishub DKI Tegaskan Masih Usulan dan Belum Diputuskan

Soal Tarif Parkir Naik Sampai Rp60 Ribu, Dishub DKI Tegaskan Masih Usulan dan Belum Diputuskan

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:01 WIB

Review Sore: Istri dari Masa Depan, Cinta, Pilihan, dan Kesempatan Kedua

Review Sore: Istri dari Masa Depan, Cinta, Pilihan, dan Kesempatan Kedua

Your Say | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:00 WIB

Masterpiece yang Carut Marut: Kelebihan dan Kekurangan Film Snake Eyes: G.I. Joe Origins

Masterpiece yang Carut Marut: Kelebihan dan Kekurangan Film Snake Eyes: G.I. Joe Origins

Your Say | Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:59 WIB

Minta Kader Tiru Gaya KDM, Herman Khaeron: Rakyat Jabar Memilih Pakai Hati

Minta Kader Tiru Gaya KDM, Herman Khaeron: Rakyat Jabar Memilih Pakai Hati

Jabar | Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:59 WIB

Pengacara Bantah Isu Febrie Adriansyah Incar Kursi Jaksa Agung: Beliau Mau Pensiun

Pengacara Bantah Isu Febrie Adriansyah Incar Kursi Jaksa Agung: Beliau Mau Pensiun

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:58 WIB

3 Tersangka Pembubaran Ibadah di Bantul Tak Ditahan, Polisi: Mereka Kooperatif

3 Tersangka Pembubaran Ibadah di Bantul Tak Ditahan, Polisi: Mereka Kooperatif

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:57 WIB

×