-
Harga minyak dunia bergerak stabil setelah investor menilai sanksi ekonomi AS terhadap Iran berrisiko rendah.
-
Iran mengancam keamanan pelayaran Selat Hormuz yang menjadi jalur 20 persen pasokan minyak dunia.
-
Cadangan minyak strategis Amerika Serikat anjlok ke tingkat terendah sejak November tahun 1982.
Suara.com - Harga minyak dunia bergerak stabil pada Selasa setelah sempat merosot lebih dari dua persen akibat aksi ambil untung investor. Penurunan tekanan spekulasi terjadi seiring keputusan Amerika Serikat yang memilih strategi pengetatan ekonomi dibanding aksi militer langsung.
Keputusan Gedung Putih memperluas sanksi sekunder terhadap Iran dinilai para pelaku pasar sebagai opsi berrisiko lebih rendah bagi gangguan pasokan fisik. Langkah diplomasi ekonomi ini langsung meredam kekhawatiran konflik bersenjata terbuka di kawasan Timur Tengah.
Meskipun demikian, risiko gangguan distribusi di Selat Hormuz tetap membayangi pergerakan harga komoditas energi global tersebut. Ketegangan geopolitik yang terus berlanjut berpotensi memicu volatilitas harga sewaktu-waktu.
![Ilustrasi harga minyak dunia. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/05/54068-ilustrasi-harga-minyak-dunia.jpg)
Pergerakan harga minyak mentah Brent mencatatkan penurunan tipis sembilan sen ke level 92,16 dolar AS per barel. Sementara itu, acuan West Texas Intermediate justru menguat tipis satu sen menjadi 85,02 dolar AS per barel.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk memutus urat nadi perekonomian Iran demi menghentikan konflik yang sedang berlangsung. Negara-negara mitra diminta memilih antara menghentikan hubungan dagang dengan Tehran atau kehilangan akses sistem keuangan berbasis dolar.
Bagaimana Strategi Sanksi AS Memengaruhi Pergerakan Harga Minyak?
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan langkah pengetatan ini diambil untuk menekan pendapatan ekonomi pihak lawan secara signifikan.
"Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Senin memperkenalkan perluasan sanksi untuk memutus urat nadi ekonomi Iran, untuk memaksa penghentian perang di antara mereka, dengan memberi tahu negara-negara bahwa mereka harus memutuskan hubungan bisnis mereka atau berisiko diputus dari sistem keuangan berbasis dolar," ungkap laporan resmi terkait arahan kebijakan tersebut.
Pemerintah AS memberikan tenggat waktu kepatuhan bagi negara-negara mitra sebelum menerapkan sanksi keuangan tersebut secara penuh. Keputusan untuk tidak menyebutkan daftar negara sasaran secara terbuka memberi ruang penyesuaian bagi industri energi internasional.
Analis pasar menilai pendekatan penekanan ekonomi ini berhasil mengendalikan lonjakan harga minyak secara mendadak di pasar global. Pasar merespons positif langkah diplomasi keuangan ketimbang potensi ancaman serangan militer langsung ke fasilitas produksi.
"Pasar tampaknya menilai tekanan ekonomi sebagai jalur yang berisiko lebih rendah bagi pasokan fisik dibandingkan tindakan kinetik, itulah sebabnya reaksi awal minyak adalah bergerak lebih rendah daripada melonjak lebih tinggi," kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM.
Seberapa Besar Ancaman Gangguan Jalur Pelayaran Selat Hormuz?
Ancaman balasan dari pihak Iran terhadap lalu lintas kapal tanker di kawasan Selat Hormuz masih menahan penurunan harga lebih jauh.
"Namun, Iran masih mempertahankan kemampuan untuk merespons dengan mengganggu pelayaran, yang terus mempertahankan premi tersisa pada harga minyak," peringat Tim Waterer.
Insiden serangan terhadap kapal tanker minyak di lepas pantai Oman mempertegas tingginya risiko keamanan di koridor pelayaran vital tersebut. Sebuah proyektil tidak dikenal dilaporkan menghantam kapal hingga melumpuhkan operasinya di wilayah perairan tersebut.