- Mata uang Iran anjlok ke tingkat terendah sepanjang sejarah mencapai 2 juta per dolar AS.
- Penurunan nilai tukar ini terjadi akibat perang ekonomi dan sanksi besar-besaran dari Amerika Serikat.
- Blokade militer AS dan penghentian ekspor minyak membuat Iran kehilangan sumber pendapatan utama negaranya.
Suara.com - Mata uang Iran, rial, terus ambruk sampai ke titik terendah dalam sejarah di tengah perang melawan Amerika Serikat yang sudah berlangsung selama enam bulan.
Rial Iran diperdagangkan di 1,9 juta per dolar AS pada Senin (24/8/2026), demikian diwartakan Bloomberg mengutip data dari Bonbast, situs yang memonitor pergerakan nilai tukar mata uang Iran.
Sementara menurut TGJU, yang juga menyajikan data real time nilai tukar rial Iran, menunjukkan bahwa 1 dolar AS sudah bernilai 2 juta rial pada Minggu (23/8/2026).
Nilai tukar rial, demikian dilaporkan The Guardian, sudah turun 4,5 persen sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan lalu mengumumkan akan melancarakan operasi perang ekonomi besar-besaran terhadap Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent rencananya akan mengumumkan sanksi-sanksi baru terhadap Iran pada Senin siang waktu AS atau Selasa pagi waktu Indonesia barat.
Bessent, dalam tulisannya di media Financial Times, Senin mengatakan serangan ekonomi terhadap Iran adalah "operasi finansial terbesar yang pernah dilancarkan AS terhadap musuhnya dalam sejarah."
"Tujuan kami adalah untuk memutus semua aliran perekonomian yang menyangga rezim tiran Iran, sampai Teheran ditinggalkan sendirian," tegas Bessent.
Iran saat ini tengah menghadapi blokade di Selat Hormuz oleh militer AS. Negara itu tak lagi bisa mengekspor minyak dan gas, sumber pendapatan utama pemerintah.
Pekan lalu gubernur bank sentra Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan negaranya sudah tak mengekspor minyak sama sekali.
AS juga mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran.
Meski China dan Rusia mengecam ancaman Washington tersebut, tapi Uni Emirat Arab pekan lalu mengumumkan menghentikan semua transaksi finansial dengan Iran.
Uni Emirat Arab merupakan mitra bisnis penting Iran, karena menjadi penghubung utama antara perekonomian Iran dengan dunia lewat pusat-pusat keuangan di Dubai dan Abu Dhabi.
Sementara menurut Donya-e Eqtesad, surat kabar ekonomi terkemuka Iran, ambruknya nilai tukar rial disebabkan oleh terganggunya transfer mata uang asing, terhentinya ekspor minyak, meningkatnya kebutuhan impor dan melonjaknya inflasi.