-
Sebanyak 21 wilayah mencatatkan kualitas udara kategori tidak sehat akibat paparan kabut asap.
-
IPD Serian di Sarawak menjadi lokasi dengan angka indeks pencemaran tertinggi mencapai 190.
-
Sebanyak 47 wilayah berada dalam kategori sedang dan tidak ada daerah berudara sehat.
Suara.com - Lonjakan krisis kualitas udara yang kian memburuk kini mengancam kesehatan warga Malaysia di 21 wilayah secara nasional, Selasa (25/8/2026). Paparan asap beracun kebakaran hutan Kalimantan yang tebal membuat tidak ada satu pun daerah yang mencatatkan kualitas udara dalam kategori baik.
IPD Serian di Sarawak Malaysia menjadi titik dengan kondisi terparah di seluruh negeri setelah mencatatkan angka Indeks Pencemar Udara (IPU) mencapai 190. Tren pemburukan ini diikuti wilayah lain seperti Kuching dengan skor 181 dan Samarahan di angka 172.
Dominasi wilayah terdampak tidak hanya terpusat di Sarawak yang menyumbang tujuh area berudara buruk. Sebanyak 14 lokasi di luar negara bagian tersebut juga masuk dalam zona tidak sehat.

Dikutip dari The Star, sektor pemukiman padat dan pusat aktivitas ekonomi ikut terkena imbas penyebaran polusi ini. Johan Setia memimpin pemburukan kualitas udara di Selangor dengan skor 164, diikuti Shah Alam di angka 151.
Sementara itu, wilayah semenanjung seperti Kedah, Perak, hingga kawasan ibu kota turut melaporkan kondisi serupa. Sungai Petani mencatat angka 154, Seri Manjung di level 152, serta Cheras berada pada skor 132.
Mengapa Wilayah Terdampak Udara Buruk Terus Meluas?
Penyebaran kabut asap ini merata hingga ke pusat pemerintahan Putrajaya yang menyentuh angka 130. Daerah lain seperti Kota Tinggi, Bukit Rambai, hingga Minden di Pulau Pinang juga berada di atas ambang batas normal.
Kondisi kritis ini makin mengkhawatirkan karena wilayah penyangga lainnya berada sangat dekat dengan ambang batas berbahaya. Seberang Perai, Batu Muda, dan Klang sama-sama mengintai di batas atas kategori sedang dengan skor 99.
Sistem pemantauan mengonfirmasi bahwa 47 lokasi di seluruh negeri saat ini tertahan di kategori sedang. Pergerakan angka ini berpotensi bergeser ke arah yang lebih buruk jika paparan polusi terus memuncak.
Data ini dihimpun secara waktu nyata langsung dari 68 stasiun pemantau kualitas udara yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Pembaruan informasi disalurkan setiap jam untuk memantau pergerakan polusi.
Berdasarkan skala resmi, skor 0 hingga 50 mengindikasikan kualitas udara sehat, sedangkan range 51 sampai 100 tergolong sedang. Kategori tidak sehat berada pada rentang 101 hingga 200, sangat tidak sehat pada 201 sampai 300, dan angka di atas 300 dikategorikan berbahaya.