- Pemerintah bersama BMKG menjalankan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Timur untuk mengatasi kekeringan dan karhutla akibat El Nino.
- Operasi modifikasi cuaca yang berlangsung pada Agustus 2026 tersebut berhasil menurunkan hujan serta menambah cadangan air Waduk Sepaku IKN.
- Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tetap menyiagakan tim gabungan karena ancaman kekeringan dan ratusan titik panas masih berlangsung.
Suara.com - Dampak El Nino mulai menekan ketersediaan air dan meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur. Kondisi ini mendorong pemerintah menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengisi kembali cadangan air sekaligus membantu mengendalikan karhutla.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Otorita Ibu Kota Negara (OIKN), TNI Angkatan Udara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menjalankan OMC di sejumlah wilayah.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan salah satu sasaran operasi tersebut adalah Waduk Sepaku yang menjadi sumber air baku bagi kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Cadangan air di waduk tersebut terus menurun sejak Juli 2026 sebagai dampak El Nino.
“Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia. Apabila kondisi awan mendukung, penyemaian awan dilakukan sehingga mempercepat proses turunnya hujan serta bisa memperluas areanya,” kata Budi dalam pernyataannya, Selasa (25/8/2026).
Ia menyebutkan bahwa masalah kekeringan di Kaltim berjalan beriringan dengan meningkatnya aktivitas titik panas.
BMKG mencatat 13.273 titik panas terdeteksi di Kaltim sepanjang 1-23 Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat 35,5 persen dibanding periode yang sama pada 2015, ketika puncak musim kemarau juga berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino.
Data BMKG per 20 Agustus juga menunjukkan sejumlah wilayah Kaltim mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori Sangat Pendek hingga Panjang.
Durasi HTH terpanjang tercatat di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Paser yang sudah tidak mengalami hujan selama 28 hari berturut-turut.
Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan asap karhutla. Budi mengatakan asap umumnya bergerak ke arah barat laut hingga timur laut, bahkan melewati batas administratif menuju Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia.
OMC di kawasan IKN dilaksanakan pada 22-27 Agustus untuk mengantisipasi terus menurunnya cadangan air Waduk Sepaku.
Menurut Budi, hujan telah turun di kawasan tersebut dan sekitarnya dalam dua hari terakhir hingga Senin pagi setelah pelaksanaan OMC.
Sementara itu, OMC di Kabupaten Berau dilakukan pada 24-28 Agustus. Operasi ini dilaksanakan berdasarkan permintaan Bupati Berau kepada BNPB dan BMKG untuk membantu menangani titik panas di wilayah tersebut.
BMKG tidak hanya melihat jumlah titik api dalam menentukan pelaksanaan OMC. Potensi pertumbuhan awan yang dapat disemai juga menjadi pertimbangan.
Untuk periode 23-31 Agustus, potensi pertumbuhan awan di Kaltim masih berada pada kategori tinggi hingga sedang, terutama di bagian utara. Namun, potensi tersebut diperkirakan menurun pada 28-31 Agustus.