- Menteri Agama Nasaruddin Umar mengundurkan diri dan menyerahkan suratnya kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 26 Agustus 2026.
- Pengunduran diri tersebut dilakukan agar ia dapat memenuhi aturan untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
- Pihak istana telah menerima serta memberikan restu atas pengunduran diri Menteri Agama Nasaruddin Umar tersebut.
Visi utamanya adalah kemandirian organisasi dengan fokus pada pemantapan gagasan "Merawat Jagat, Membangun Peradaban".
Gus Yahya dikenal piawai dalam memperkuat posisi tawar NU di kancah internasional, membawa misi perdamaian dunia melalui diplomasi agama yang moderat.
Prof. KH Nasaruddin Umar
Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal ini mewakili perpaduan antara ulama dan teknokrat.
Lahir pada 23 Juni 1959, Nasaruddin Umar membawa narasi harmoni keumatan. Ia mendapatkan dukungan signifikan dari cabang-cabang NU di luar Pulau Jawa.
Kehadirannya dipandang sebagai simbol desentralisasi kepemimpinan NU yang didukung oleh pengalaman birokrasi tingkat tinggi.
2. Poros Pesantren Tradisional: Menjaga Khittah dan Akar Rumput
Poros ini menekankan pada pentingnya kembali ke marwah pesantren sebagai pusat transmisi keilmuan dan moralitas NU.
KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang lahir pada 17 Agustus 1958 ini merepresentasikan otoritas historis.
Sebagai cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, Gus Kikin adalah simbol penjaga tradisi klasik NU.
Kehadirannya memberikan rasa tenang bagi warga Nahdliyin yang menginginkan kepemimpinan yang mengakar kuat pada nilai-nilai dasar pendiri NU.
KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
Tokoh muda dari Jawa Tengah ini memiliki basis massa yang sangat militan. Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Gus Yusuf telah mengantongi dukungan dari 23 PCNU di Jawa Tengah. Ia dikenal sangat responsif terhadap isu-isu populis dan kesejahteraan ekonomi.
Visi dakwah kulturalnya dianggap mampu menyentuh aspirasi *grassroots* yang menginginkan PBNU lebih peka terhadap masalah sosial sehari-hari.
KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
Gus Rozin muncul dengan tawaran paradigma pendidikan yang adaptif. Dalam forum silaturahim PCNU se-Jawa Tengah pada Juli 2026, ia menegaskan kesiapannya maju.
Fokus utamanya adalah menjembatani keilmuan kitab kuning dengan tantangan akademis modern.
Bagi Gus Rozin, warga NU harus tetap profesional tanpa kehilangan identitas kepesantrenannya.
3. Poros Regenerasi dan Pembaruan: Intelektualitas dan Check and Balances
Kelompok ini diisi oleh tokoh-tokoh yang relatif lebih muda dan menawarkan perspektif baru dalam tata kelola organisasi.
KH Zulfa Mustofa
Lahir pada 7 Agustus 1977, Wakil Ketua Umum PBNU ini dikenal sebagai intelektual yang menguasai ilmu fiqih secara mendalam.
Keunikannya dalam menciptakan syair-syair Bahasa Arab secara spontan menjadikannya sosok yang dikagumi secara kultural.
Ia menawarkan perpaduan ideal antara penguasaan khazanah klasik dan manajemen organisasi yang modern serta lincah.
KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas yang berusia 49 tahun ini dikenal vokal dalam menyuarakan pentingnya "check and balances" di internal PBNU.
Gus Salam konsisten mengingatkan agar NU tidak terjebak dalam pragmatisme politik praktis. Baginya, organisasi harus tetap berpihak pada prinsip keadilan dan kemaslahatan publik, terutama demi kepentingan warga NU di tingkat bawah.