- Dosen UGM Dwi Sendi Priyono menyatakan karhutla Kalimantan memicu efek sublethal dan merusak metabolisme satwa liar.
- Paparan asap karhutla menurunkan kondisi tubuh, melumpuhkan perilaku sosial, serta mengganggu reproduksi satwa yang selamat.
- Karhutla menghancurkan koridor alami yang memicu fragmentasi habitat, penurunan variasi genetik, serta perkawinan sedarah.
Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya mengancam satwa yang mati terbakar secara langsung. Ada dampak yang jauh lebih kompleks mengintai satwa-satwa endemik di lokasi karhutla.
"Kalau soal dampak (karhutla) ke satwa liar, sebenernya berlapis, dan yang paling sering luput justru lapisan yang enggak keliatan," kata Dosen Fakultas Biologi UGM sekaligus Anggota Society for Wildlife Forensic Science (SWFS), Dwi Sendi Priyono, kepada Suara.com, Kamis (27/8/2026).
Satwa dengan mobilitas rendah memang menjadi kelompok yang paling rentan. Pasalnya mereka tidak memiliki kemampuan cukup untuk segera menjauh dari titik kebakaran.
Ia menyebut reptil, amfibi, mamalia kecil, serta satwa muda sebagai kelompok yang paling terdampak kematian langsung. Namun justru hal itu memiliki proporsi kecil.
Dijelaskan Sendi, pada bencana asap karhutla memicu efek sublethal yang merusak sistem metabolisme satwa meski mereka berada jauh dari titik api. Kualitas udara yang memburuk memaksa satwa membakar cadangan energi tubuh secara berlebihan demi bertahan hidup di tengah kepungan racun asap.
"Orangutan yang kena paparan asap itu waktu istirahatnya makin panjang, jarak jelajahnya berkurang, dan katabolisme lemaknya naik. Artinya mereka masuk kondisi defisit energi, tubuhnya bakar cadangan lemak, padahal gak kena api langsung," tuturnya.
Dampak merusak paparan asap ini turut melumpuhkan perilaku sosial serta reproduksi satwa. Misalnya 'nyanyian' Owa yang berguna sebagai penanda pertahanan teritori dan mencari pasangan saat kebakaran gambut 2006 silam kian berkurang frekuensi serta durasinya.
"Jadi satwa yang selamat pun kondisi tubuhnya turun dan fungsi reproduksinya terganggu, efeknya baru keliatan beberapa musim kemudian," tandasnya.
Tak berhenti di situ, kata Sendi, karhutla menghancurkan koridor alami yang menghubungkan antarwilayah hutan. Habitat yang terfragmentasi parah memecah populasi satwa menjadi kelompok-kelompok kecil yang terisolasi.
Kondisi itu memicu kemerosotan variasi genetik serta perkawinan sedarah (inbreeding) dan daya adaptasi satwa terhadap penyakit atau tekanan iklim menurun.
"Ini yang bikin satu populasi bisa punah walaupun secara angka individunya masih ada," tegasnya.