- Sembilan warga Singapura dilaporkan hilang dalam bencana banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet.
- Keluarga korban mendesak pemerintah meningkatkan alokasi tim SAR serta melacak sinyal telepon genggam.
- Otoritas mencatat 469 korban tewas dan ratusan wisatawan hilang akibat sapuan air bah.
Suara.com - Sembilan warga negara Singapura menghilang dalam bencana banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Kerabat para korban mendesak kejelasan proses evakuasi karena minimnya kabar resmi dari otoritas terkait.
Kenisha Rawla (15) dan Parnika Rawla (20) mengaku kesulitan memperoleh perkembangan kondisi kedua orang tua mereka, Shubakshi Rawla (49) dan Sumit Rawla (53). Komunikasi terakhir keluarga terjadi pada Rabu pagi saat orang tua mereka berada di kawasan Rasuwagadhi, Nepal.
Pasangan tersebut mendarat di Kathmandu sejak 23 Agustus untuk menjalani ziarah Kailash Yatra dan menginap di Hotel Kailash, Timure. Namun hingga kini, tidak ada kabar pasti mengenai posisi maupun status keselamatan pasangan tersebut.
![Bencana banjir bandang dan longsor dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/28/95949-banjir-nepal.jpg)
Parnika menyampaikan kecemasannya karena tidak mendapat kepastian dari pihak mana pun terkait keberadaan orang tuanya.
“Tidak ada yang memberi tahu kami apa pun. Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kami tidak tahu apakah mereka sudah diselamatkan, di mana mereka berada, apakah hotel tempat mereka menginap sudah diperiksa,” ujarnya, dikutip dari CNA, Jumat (28/8/2026).
Upaya keluarga mencari informasi terus membentur jalan buntu karena nomor telepon kontak darurat tidak dapat dihubungi.
“Kami terus bertanya kepada orang-orang, dan orang-orang terus memberi kami nomor telepon, dan nomor-nomor telepon itu tidak dapat dihubungi. Kami tidak punya informasi. Kami sedih dan kami bingung,” tambah Parnika.
Dipti Bhatnagar, adik dari Shubakshi, menyebutkan bahwa kakak dan iparnya sangat bersemangat sebelum berangkat menuju wilayah Tibet. Shubakshi dikenal sebagai sosok ahli gizi yang ramah dan selalu membantu banyak orang dalam kesehariannya.
“Kakak saya adalah salah satu orang terbaik yang saya kenal di dunia. Dia orang yang sangat suka membantu. Dia seorang ahli gizi. Dia benar-benar selalu berusaha keras untuk membantu semua orang, dan saya tahu bahwa semua orang yang dia kenal dan bantu sedang berdoa untuknya. Kayak ipar saya adalah orang yang sangat kerja keras. Dia benar-benar percaya pada pekerjaan,” ungkap Dipti sambil meneteskan air mata.
Dipti memohon agar pemerintah memobilisasi lebih banyak tim penyelamat dan memanfaatkan teknologi pencarian lokasi terkini.
“Kami benar-benar, sangat membutuhkan pemerintah untuk meluncurkan orang-orang untuk upaya penyelamatan. Dapatkan lokasi melalui perusahaan seperti Apple dan siapa saja yang dapat membagikan lokasi semua wisatawan, sehingga lebih mudah bagi tim penyelamat. Ini hanya permohonan yang rendah hati,” tuturnya.
“Tolong, tolong bantu kami.”
Bagaimanakah Kondisi Lapangan dan Dampak Kerusakan Bencana?
Bencana alam ini dipicu oleh runtuhnya dinding es, lumpur, dan batuan ke aliran sungai pegunungan pada Rabu pagi. Dampaknya merusak pemukiman perbatasan dan menewaskan sedikitnya 469 jiwa, sementara otoritas memperingatkan risiko banjir susulan.
Pemerintah Nepal telah merilis daftar 668 wisatawan hilang, termasuk sembilan nama warga negara Singapora. Selain pasangan Rawla, warga Singapora lain yang belum ditemukan yakni Estee Loeh, Ghosh Aditi, Ng Kit Kuen, Rajesvaran Ayyavoo, Rengarajan Prabu, Shalinny Deavy Elan Sozan, serta Subramaniam Diraviam.
Presiden Himalayan Glacier, Sagar Pandey, mengonfirmasi bahwa 47 dari 54 anggota rombongan turnya kini belum ditemukan. Telepon satelit yang dibawa rombongan juga tidak sanggup menembus hambatan sinyal di lokasi kejadian.
Pandey mengonfirmasi bahwa bangunan hotel tempat rombongan menginap kini sudah hancur total diterjang material banjir. Selain wisatawan, tujuh staf lokal pendamping tur tersebut juga dinyatakan hilang.
Arus air banjir yang datang dengan kecepatan tinggi memupuskan harapan para pekerja lokal untuk menyelamatkan diri.
“Tapi Anda tahu... banjir datang hampir 150 meter di atas permukaan tanah. Jadi itulah mengapa dalam jendela waktu yang sedikit, mereka tidak memiliki kesempatan untuk naik ke bukit setinggi itu dengan segera karena banjir bandang sangat kuat dan sangat cepat. Dan kedua, (banjir) datang di atas rumah, di atas bangunan, jauh di atas. Jadi itulah mengapa hal itu tidak memungkinkan orang untuk melarikan diri dan lari ke atas bukit,” kata Pandey.
Jarak pandang yang terbatas membuat kedatangan banjir sulit terdeteksi dari area penginapan. Pandey menyebut banjir baru terlihat saat jaraknya tinggal 1,5 kilometer dari lokasi.
Bagaimana Respon Otoritas dan Agen Perjalanan Wisata?
Kementerian Luar Negeri Singapora telah berkomunikasi dengan keluarga korban dan berkoordinasi bersama otoritas Nepal serta China melalui Kedutaan Besar di New Delhi dan Beijing. Pendataan serta pemantauan titik-titik evakuasi terus dilakukan secara intensif.
Otoritas agen perjalanan Trekkers Society melaporkan sebanyak 92 peserta rombongan ziarah Kailash Manasarovar mereka belum ditemukan. Rombongan tersebut terdiri dari 77 warga negara asing dan 15 warga lokal Nepal.
Sementara itu, perwakilan Himalayan Trekkers menyebutkan kontak terakhir dengan pemandu lapangan terjadi pada Rabu pukul 08.00 waktu setempat. Pemandu tersebut sempat mengirim pesan singkat sebelum gelombang air bah menghantam pos perbatasan.
"Sepanjang yang kami tahu, pesan terakhirnya kepada seorang anggota keluarga adalah pada sekitar pukul 08.34 waktu Nepal, ketika dia mengatakan bahwa mereka sedang menyeberangi perbatasan," kata juru bicara perusahaan.
Sektor perbatasan Nepal dan Tibet kerap melayani rute ziarah serta pendakian internasional sebelum bencana air bah menerjang kawasan tersebut. Hingga saat ini, proses pencarian udara dan darat masih terhalang medan yang rusak berat.