-
Mojtaba Khamenei mendesak penguasa Teluk membentuk aliansi pertahanan bersama untuk melawan musuh utama.
-
Perdagangan luar negeri Iran anjlok 35 persen akibat sanksi dan blokade laut Amerika Serikat.
-
Presiden Masoud Pezeshkian mendorong pemulihan kesepakatan ekonomi dan kendali atas jalur Selat Hormuz.
Suara.com - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mendesak negara Arab di kawasan Teluk untuk membentuk aliansi pertahanan bersama demi menghadapi ancaman musuh nyata.
Langkah diplomatik ini diambil di tengah hancurnya perekonomian domestik akibat blokade laut serta sanksi ketat yang dilancarkan Amerika Serikat.
Ketegangan regional yang kian memuncak memaksa Tehran mengubah pola pendekatan politiknya terhadap kerajaan-kerajaan Teluk yang selama ini menjadi rival geopolitiknya.
![Media Iran merilis video langka yang menampilkan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei di tengah spekulasi kondisi kesehatannya. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/10/38894-mojtaba-khamenei.jpg)
Gagasan persatuan ini menjadi penawaran strategis baru Iran untuk menggalang kekuatan Islam di tengah gempuran militer serta tekanan finansial yang terus meluas.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Tehran berusaha memecah isolasi diplomatik yang mengancam stabilitas pemerintahannya sejak perang meletus.
Pesan tertulis yang dipublikasikan melalui saluran Telegram resminya dalam rangka Pekan Persatuan Islam tersebut menekankan pentingnya kerja sama di berbagai sektor.
Dokumen itu menyebutkan bahwa pihak manapun yang memicu perpecahan di antara sesama umat Islam secara langsung telah membantu kepentingan musuh.
Ia menyerukan agar negara-negara tetangga tidak membiarkan kehancuran melanda kawasan hanya karena tidak adanya kesepakatan kolektif.
"Rekomendasi saya yang tegas dan berulang kali kepada para penguasa negara-negara Islam, khususnya negara-negara di Asia Barat dan Teluk, adalah kenalilah musuhmu yang sebenarnya, pahami rencananya, dan hadapilah," kata Khamenei.
Khamenei juga mempertanyakan keberanian pihak asing dalam menguasai wilayah strategis Middle East jika seluruh pemerintah Teluk berdiri di bawah bendera yang sama.
"Apakah penjahat tanpa identitas akan berani menginginkan tanah dan harta benda kalian jika rakyat dan pemerintah Teluk bersatu di bawah bendera Islam?" kata Khamenei.
Ia turut menyoroti nasib warga Palestina yang terus terdesak akibat tiadanya solidaritas nyata dari negara-negara Muslim di sekitarnya.
"Apakah warga Palestina akan dibiarkan begitu tidak berdaya jika umat Islam bersatu?" kata Khamenei.
Pernyataan publik ini menjadi kemunculan tertulis kesekian kalinya dari sang Pemimpin Tertinggi setelah tidak pernah terlihat secara langsung di hadapan publik selama enam bulan terakhir.
Ketidakhadiran fisiknya terjadi sejak ia terluka dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi internal Iran sendiri kian terdesak setelah serangan balik Tehran ke fasilitas militer Amerika Serikat di Teluk justru memperkeruh hubungan dengan tetangganya.
Mengapa Perekonomian Iran Terus Merosot Tajam?
Dampak peperangan kini berimbas langsung pada kehancuran aktivitas perdagangan luar negeri Iran yang merosot hingga sepertiga dari kapasitas normalnya.
Pemerintah Tehran mengakui bahwa sanksi ekonomi bertajuk "D-Day Ekonomi" dari pemerintahan Presiden Donald Trump telah menghentikan arus keluar masuk barang di pelabuhan utama.
Presiden Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa pemblokiran jalur laut oleh pasukan sekutu menjadi penyebab utama jatuhnya angka ekspor impor nasional secara drastis.
"Ekspor dan impor kami merosot hampir 35 persen karena sanksi AS dan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran," kata Pezeshkian.
Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran sempat membuktikan ketahanannya dengan menjual puluhan juta barel minyak saat koridor diplomasi dibuka sementara.
"Kami berhasil menjual sekitar 90 juta barel minyak selama nota kesepahaman singkat yang ditandatangani Iran dan AS pada bulan Juni," kata Pezeshkian.
Atas dasar pencapaian tersebut, Pezeshkian mendesak agar draft kesepakatan sementara yang sempat disetujui pada 17 Juni lalu dapat segera dihidupkan kembali.
Langkah pemulihan perundingan dianggap sebagai satu-satunya cara paling realistis untuk mencairkan aset negara yang dibekukan serta memulihkan roda ekonomi rakyat.
"Kita dapat menyelesaikan masalah kita dan memperoleh hak-hak kita melalui nota kesepahaman tersebut," kata Pezeshkian.
Di sisi lain, pemerintah Iran mengumumkan rencana taktis untuk menekan laju inflasi dan mengurangi ketergantungan mata uang domestik terhadap dolar Amerika Serikat.
Strategi tersebut difokuskan pada penguatan produksi dalam negeri serta penyerapan tenaga kerja guna menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan perang.
Tehran juga menegaskan tidak akan menyerah pada tekanan militer dan tetap mempertahankan kendali penuh atas navigasi di Selat Hormuz sebagai kartu truf diplomasi energi global.
Sejak Revolusi Islam meletus pada tahun 1979, monarki Arab Teluk memandang ideologi revolusioner Iran dan retorika anti-kerajaannya sebagai ancaman langsung terhadap sistem politik mereka.
Persaingan pengaruh regional serta perbedaan mazhab memperdalam jurang pemisah antara Tehran dan tetangga Arabnya selama bertahun-tahun.
Kondisi tersebut diperparah oleh aksi saling balas militer baru-baru ini yang melibatkan basis pertahanan Amerika Serikat di kawasan Teluk, sehingga meningkatkan kewaspadaan negara-negara tetangga.