-
AS membuka opsi pembatasan sanksi bagi perbankan China yang masih bertransaksi dengan Iran.
-
Iran melayangkan protes keras ke PBB terkait tindakan isolasi ekonomi yang diterapkan Washington.
-
Tekanan finansial global dijadikan taktik baru AS setelah eskalasi konflik militer sebelumnya.
Suara.com - Amerika Serikat berpeluang memperluas cakupan sanksi keuangan ke lembaga perbankan asal China yang terbukti memelihara hubungan bisnis dengan Iran. Sikap tegas ini diambil sebagai strategi baru untuk menutup seluruh akses dana asing yang masih mengalir ke Iran.
Langkah pengetatan tersebut menjadi bagian dari "Operation Economic Outcast" yang diresmikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sejak awal pekan. Program pemutusan rantai pasokan modal ini dirancang khusus untuk memotong pendanaan yang menyokong rezim Teheran.
Rencana pembatasan aktivitas transaksi internasional itu memicu tanggapan keras dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi lewat surat resmi ke PBB. Pemerintah Iran meminta dunia internasional secara terbuka mengutuk tindakan paksaan ekonomi unilateral yang dilancarkan pihak Amerika Serikat.
![Pemerintah Iran mengecam keras serangan militer Amerika Serikat yang terjadi di dekat rumah sakit kanker anak di kota Ahvaz. [@Nexo_Latino]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/17/55687-rs-kanker-anak-di-iran.jpg)
"Siapa bilang saya tidak akan melakukannya?" kata Trump kepada wartawan ketika ditanya mengapa AS tidak menjatuhkan sanksi terhadap entitas-entitas China terkait kegiatan bisnis mereka dengan Iran.
"Anda tidak tahu apakah saya melakukannya ... Saya tidak harus mengumumkan semuanya, bukan?" ujarnya.
Apakah Sanksi Perbankan Ini Efektif Tekan Iran?
Gebrakan diplomasi ekonomi ini muncul menyusul dinamika militer yang sempat memanas di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari lalu. Saat itu, gabungan militer Washington dan Tel Aviv melancarkan serangkaian aksi gempuran langsung ke sejumlah titik strategis di Iran.
Aksi serangan mematikan tersebut direspon Teheran melalui tindakan balasan militer dengan intensitas yang setara. Eskalasi pertempuran meluas cepat sebelum akhirnya kedua belah pihak menyepakati nota kesepahaman penghentian pertikaian pada pertengahan Juni.
Kendati kesepakatan damai telah ditandatangani, gencatan senjata tersebut berulang kali ternoda oleh aksi saling serang susulan. Situasi keamanan kawasan hingga kini berada dalam kondisi rapuh tanpa adanya penyelesaian konflik secara permanen.
Pemerintah AS kini sengaja mengubah taktik perang terbuka menjadi strategi perang saraf melalui pemblokiran jalur-jalur finansial global. Pengetatan arus modal bank-bank China diharapkan menjadi modal tawar utama Washington untuk memaksakan kompromi politik.
Latar belakang ketegangan ini berakar dari gesekan militer langsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang pecah sejak 28 Februari. Pembentukan kampanye "Operation Economic Outcast" menandai babak baru transisi konflik dari ranah konfrontasi senjata ke ranah isolasi sistem keuangan internasional.