- Pendiri IWAPI Dewi Motik menyatakan dua kandidat resmi bersaing dalam pemilihan Ketua Umum pada Munas November 2026.
- Konferensi pers terkait pencalonan Hana Hasanah Fadel Muhammad dan Tatyana Sentani Sutara tersebut diadakan di Jakarta pada 31 Agustus 2026.
- Kedua kandidat telah memenuhi dua belas persyaratan SC, sementara Dewi Motik berharap pemilihan berlangsung demokratis dan damai.
Suara.com - Pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Dewi Motik, menyambut baik munculnya dua kandidat yang akan bersaing dalam pemilihan Ketua Umum IWAPI periode mendatang. Ia berharap Musyawarah Nasional (Munas) IWAPI pada November 2026 berlangsung aman, damai, fair, dan demokratis.
Dewi Motik yang kini menjabat Ketua Dewan Kehormatan IWAPI menyampaikan pandangan tersebut dalam konferensi pers di D’Rumah Kita Resto, Menteng, Jakarta, Senin (31/8/2026).
Menurut Dewi, saat ini terdapat dua kandidat yang telah resmi mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Umum IWAPI. Keduanya adalah Hana Hasanah Fadel Muhammad dan Dra. Tatyana Sentani Sutara.
Dewi menilai kehadiran dua kandidat merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat. Ia meminta seluruh pihak memberikan ruang yang sama kepada masing-masing calon untuk mengikuti proses pemilihan.
“Saya sudah mendengar bahwa kedua calon telah memenuhi persyaratan sesuai yang telah dikeluarkan SC. Selanjutnya, biarkan dinamika berlangsung secara sehat di IWAPI,” kata Dewi Motik.
Dewi menjelaskan, Panitia Pengarah atau Steering Committee (SC) Munas telah menetapkan 12 persyaratan yang wajib dipenuhi oleh setiap kandidat Ketua Umum. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kedua calon dinyatakan telah memenuhi seluruh persyaratan tersebut.
Pernyataan Dewi sekaligus menegaskan bahwa proses pencalonan telah berjalan sesuai ketentuan yang ditetapkan organisasi. Ia berharap tahapan berikutnya dapat berlangsung tanpa menimbulkan polemik yang mengganggu jalannya Munas.
Salah satu hal yang sempat dipertanyakan adalah sertifikat pelatihan yang dimiliki Hana Hasanah Fadel Muhammad. Dewi memastikan sertifikat tersebut sah karena diterbitkan setelah Hana mengikuti pelatihan pada Februari.
“Sertifikat pelatihan Ibu Hana itu betul, sesuai dengan pelatihan yang diikuti pada bulan Februari. Saya memang dari dulu selalu membuat pelatihan serta mengeluarkan sertifikat, sehingga hal itu tidak menjadi masalah,” ujar Dewi.
Sebagai salah satu pendiri IWAPI, Dewi menaruh perhatian terhadap proses pergantian kepemimpinan organisasi. Ia meminta panitia Munas menjalankan tugas secara profesional dan memberikan perlakuan yang sama kepada seluruh kandidat.
Dewi berharap perbedaan pilihan dalam pemilihan Ketua Umum tidak berkembang menjadi konflik internal. Menurutnya, kepentingan organisasi harus tetap menjadi prioritas di tengah dinamika menjelang Munas.
“Saya berharap Munas berjalan lancar, aman, dan damai. Saya tentu menghargai proses yang berjalan dan memberi kesempatan yang sama kepada kedua calon agar proses demokratisasi di internal organisasi dapat berjalan dengan baik,” tuturnya.
Dewi kembali menegaskan pentingnya prinsip keadilan dalam seluruh tahapan Munas. Ia meminta panitia bekerja secara fair agar hasil pemilihan benar-benar mencerminkan proses demokrasi di tubuh IWAPI.
“Sebagai pendiri, saya berharap semua tahapan berjalan dengan baik, fair, dan demokratis. Munas juga harus berlangsung dengan baik dan demokratis. Karena itu, panitia juga harus bekerja secara fair dan adil bagi semua calon, demi IWAPI yang semakin baik,” pungkas Dewi Motik.