-
AS melancarkan serangan udara ke Pulau Larak dan memicu korban jiwa dari pihak Iran.
-
IRGC mengutuk keras aksi agresi tersebut dan bersumpah akan melancarkan balasan setimpal.
-
Intelijen AS menargetkan lokasi tersebut untuk menggagalkan penyebaran ranjau di Selat Hormuz.
Suara.com - Pulau Larak diserang militer Amerika Serikat hingga menewaskan serta melukai sejumlah pejuang dan warga sipil Iran.
Aksi militer tersebut memicu ancaman balasan keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap pihak agresor.
Eskalasi panas di Selat Hormuz ini menandai babak baru ketegangan yang kian membara antara Washington dan Teheran.
![Ilustrasi kapal tanker Pacific Topaz yang beraktivitas mengangkut minyak mentah [Unsplash/Haydn]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/13/27419-ilustrasi-kapal-tanker-ilustrasi-selat-hormuz.jpg)
Pihak keamanan Iran menilai serangan mendadak ini sebagai langkah frustrasi atas krisis internal yang dialami Sekutu.
Langkah invasif tersebut dianggap sebagai upaya sia-sia untuk mengembalikan dominasi geopolitik mereka di kawasan Timur Tengah.
"Musuh Amerika-Zionis, yang sekali lagi didorong oleh ketidakmampuannya untuk menyelesaikan masalah internalnya serta merosotnya kredibilitas mereka di antara negara-negara di kawasan, dan dalam upaya untuk menghidupkan kembali peran jahatnya … telah melakukan aksi agresi yang menargetkan Pulau Larak yang menewaskan dan melukai sejumlah pejuang serta warga kami," kata departemen hubungan masyarakat IRGC dalam pernyataan resminya, dikutip Senin (31/8/2026).
Ancaman balasan tersebut dilayangkan tak lama setelah dentuman keras mengguncang wilayah selatan Provinsi Hormozgan.
Warga lokal mengaku mendengar ledakan dahsyat di sekitar pesisir sebelum kepulan asap terlihat membumbung.
Mengapa Pulau Larak Menjadi Sasaran Utama Serangan Militer AS?
Dugaan awal mengarah pada serangan pesawat tanpa awak yang membidik titik strategis di kawasan pulau tersebut.
Kantor berita Tasnim mengonfirmasi bahwa drone tempur diduga kuat menjadi instrumen utama dalam gempuran ini.
Laporan media AS menyebutkan operasi udara diluncurkan guna menghentikan persiapan peluncuran roket pembawa ranjau laut.
Langkah pencegahan tersebut ditujukan agar jalur pelayaran vital di Selat Hormuz tidak terganggu oleh militer Iran.
Sebelum insiden ledakan terjadi, pergerakan pasukan Iran di Pulau Larak memang terus dipantau oleh intelijen sekutu.
Pulau Larak memegang posisi geopolitik yang amat krusial karena berhadapan langsung dengan jalur logistik minyak dunia.
Selat Hormuz kerap menjadi titik panas gesekan militer antara garda pertahanan Iran dan kekuatan armada Amerika Serikat.
Saling klaim kedaulatan serta aksi saling gertak di perairan strategis ini terus berlangsung selama bertahun-tahun.
Gempuran terbaru AS ini memicu kekhawatiran global akan meletusnya konflik terbuka yang jauh lebih besar.