- Survei nasional Parameter Politik Indonesia menunjukkan 76,1 persen warga NU ingin organisasinya kembali fokus mengurus umat dan agama.
- Sebanyak 54,4 persen dari 1.200 responden di 38 provinsi menyatakan menolak keterlibatan NU dalam pengelolaan tambang.
- Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno menyatakan kepemimpinan Gus Kikin membawa harapan besar untuk memperkuat independensi NU dari politik praktis.
Suara.com - Mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU) menginginkan organisasi kembali fokus pada urusan keumatan dan agama, serta menjauh dari politik praktis. Sikap serupa juga terlihat dalam isu pengelolaan tambang, yang justru ditolak oleh mayoritas warga Nahdliyin.
Temuan tersebut berdasarkan survei nasional terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI).
Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno mengatakan 76,1 persen responden yang mengidentifikasi diri sebagai warga NU setuju dan sangat setuju jika NU kembali pada khitah dengan fokus mengurus umat dan agama.
"Ada sekitar 76,1 persen warga NU yang setuju dan sangat setuju jika NU hanya fokus mengurus umat dan agama (kembali ke khitah)," kata Adi saat dihubungi Suara.com, Senin (31/8/2026).
Keinginan agar NU menjauh dari politik praktis juga mendapat dukungan mayoritas. Sebanyak 65,8 persen warga NU menyatakan setuju dan sangat setuju apabila organisasi tidak terlibat dalam politik praktis elektoral.
"Ada sekitar 65,8 persen warga NU yang sangat setuju dan setuju jika NU menjauhkan diri dari urusan politik praktis. Sementara 29,0 persen tidak setuju dan sangat tidak setuju NU menjauhi politik praktis elektoral," tuturnya.
Namun, pandangan warga NU tidak sepenuhnya seragam. Sebagian responden masih melihat organisasi dapat menjalankan aktivitas keumatan sekaligus terlibat dalam politik praktis.
"Soal apakah NU secara bersamaan urus umat dan terlibat politik praktis, ada sekitar 48,7 persen warga NU setuju dan sangat setuju. Sekitar 35,6 persen tidak setuju dan sangat tidak setuju," ujarnya.
Mayoritas Tolak NU Kelola Tambang
Sikap lebih tegas terlihat ketika responden ditanya mengenai keterlibatan NU dalam pengelolaan tambang.
Hanya 24 persen warga NU yang menyatakan setuju dan sangat setuju apabila NU mengelola tambang. Sebaliknya, 54,4 persen menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju.
"Terkait mengelola tambang, hanya 24,0 persen warga NU yang setuju dan sangat setuju NU mengelola tambang. Sementara 54,4 persen tidak setuju dan sangat tidak setuju kelola tambang," ungkapnya.
Menurut Adi, hasil tersebut menunjukkan adanya jarak antara manuver organisasi di tingkat elite dengan aspirasi warga NU di akar rumput.
Mayoritas warga, kata dia, cenderung menginginkan NU kembali menegaskan posisi sebagai organisasi keumatan dan tidak terlalu masuk ke dalam urusan kekuasaan.

Harapan pada Gus Kikin
Adi menilai arah NU setelah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU menjadi momentum untuk mempertegas kembali posisi organisasi di luar politik praktis.