-
UNEP melaporkan suhu bumi diperkirakan segera melewati ambang batas 1,5 derajat Celsius.
-
Kebijakan saat ini berpotensi menyebabkan kenaikan suhu bumi mencapai 2,6 derajat Celsius pada 2100.
-
Pengurangan emisi secara masif menjadi solusi utama untuk membatasi dampak buruk krisis iklim.
Suara.com - Ambang batas pemanasan global setinggi 1,5 derajat Celsius diproyeksikan bakal jebol dalam kurun beberapa tahun mendatang. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa bidang Program Lingkungan (UNEP) memperingatkan lonjakan ini memicu lonjakan bencana alam serta ancaman kesehatan masyarakat secara drastis.
Satu-satunya jalan menekan dampak fatal ini adalah dengan mengembalikan suhu bumi ke ambang batas aman pada akhir abad. Kebijakan iklim yang berjalan saat ini justru berisiko mendorong pemanasan global hingga 2,6 derajat Celsius pada tahun 2100.
Dekade ini menjadi titik krusial penentuan nasib bumi setelah satu dekade kesepakatan Perjanjian Paris ditandatangani oleh 190 negara. Ambisi menahan laju pemanasan global kini berada di titik paling mengkhawatirkan sepanjang sejarah peradaban.
"Gelombang panas yang menyengat, kebakaran hutan yang berkobar, dan banjir mematikan musim panas ini merupakan peringatan tentang apa yang akan terjadi. Kita harus membuat pelampauan 1,5 derajat Celsius sekecil dan sesingkat mungkin," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
"Dunia membutuhkan keberanian untuk melampaui batas ambisi kita," tambahnya.
Skenario terbaik dengan pemenuhan target net-zero emission sekalipun masih berpotensi menyisakan kenaikan suhu bumi sebesar 1,8 derajat Celsius. Angka ini tetap membawa konsekuensi destruktif bagi ekosistem hayati dan keberlangsungan wilayah pesisir.
Krisis iklim ini langsung menghantam sektor vital seperti ketersediaan pangan, krisis air bersih, hingga kehancuran infrastruktur dasar. Negara-negara kepulauan kecil menjadi pihak paling rentan tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut.
Ancaman semakin nyata apabila suhu bumi melonjak hingga 3 derajat Celsius pada akhir abad ini. Skenario terburuk tersebut bakal melenyapkan lebih dari seperempat total massa gletser dunia pada tahun 2100.
Pencairan es berukuran raksasa itu berpotensi menaikkan permukaan air laut global setinggi 9 hingga 13 sentimeter. Kondisi tersebut memicu banjir rob dan erosi pantai yang jauh lebih masif di berbagai belahan dunia.
Profesor Richard Betts dari University of Exeter, yang turut berkontribusi dalam laporan tersebut, mengatakan kenaikan suhu membuat kejadian seperti banjir bandang di Nepal dan China pada Agustus semakin mungkin terjadi.
"Namun, kita dapat mencegah kondisi tersebut menjadi jauh lebih buruk dengan mengurangi emisi dan membatasi jumlah pemanasan," kata Betts.
Strategi penanganan menuntut tingkat penyerapan karbon dioksida dari atmosfer wajib melampaui volume emisi yang dilepaskan. Penurunan suhu secara bertahap hanya bisa dicapai melalui penyerapan karbon dalam jumlah raksasa.
Meski demikian, teknologi penyerapan karbon bukan menjadi alasan untuk melonggarkan komitmen pengurangan emisi fosil. Skema tersebut ditempatkan sebagai langkah ekstra di luar kewajiban utama menekan produksi emisi.
Laporan ini berakar dari komitmen Perjanjian Paris 2016 yang menetapkan batas aman kenaikan suhu global di angka 1,5 derajat Celsius. Tren pemanasan global yang terus melonjak memperlihatkan bahwa tindakan taktis seluruh negara peserta masih jauh dari target batas aman.